Jalur Penghubung Kelapa Gading–Pulo Gadung Ditargetkan Selesai pada 2027

oleh -446 Dilihat
oleh
Jalur Penghubung Kelapa Gading–Pulo Gadung Ditargetkan Selesai pada 2027

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau pembangunan jalan tembus yang menghubungkan Kelapa Gading dan Pulo Gadung pada Jumat, 9 Oktober. Peninjauan tersebut menjadi bagian dari perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap pelaksanaan proyek infrastruktur yang ditujukan untuk memperkuat konektivitas kedua kawasan di Jakarta Utara dan Jakarta Timur.

Jalur penghubung Kelapa Gading–Pulo Gadung itu memiliki panjang sekitar 1,8 kilometer. Berdasarkan target yang disampaikan, pembangunan jalan tersebut diharapkan dapat rampung pada 2027. Sasaran waktu ini menjadi acuan dalam pelaksanaan pekerjaan, sehingga proses pembangunan perlu dijalankan dengan perencanaan dan pengawasan yang sesuai dengan ketentuan.

Dalam peninjauan tersebut, Pramono mengarahkan Dinas Bina Marga DKI Jakarta untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai rencana. Arahan itu mencakup pentingnya menjaga pelaksanaan proyek tetap mengikuti tahapan yang telah ditetapkan hingga target penyelesaian dapat dicapai. Dinas Bina Marga juga diharapkan memastikan setiap proses pembangunan berlangsung secara terkoordinasi, dengan memperhatikan jadwal dan rencana kerja yang menjadi dasar proyek. Jalan tembus ini diproyeksikan menjadi jalur penghubung bagi masyarakat yang beraktivitas di sekitar Kelapa Gading dan Pulo Gadung setelah pembangunannya selesai. Namun, penyelesaian pada 2027 tetap bergantung pada konsistensi pelaksanaan pekerjaan sesuai rencana yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah. Peninjauan gubernur menegaskan bahwa proyek sepanjang sekitar 1,8 kilometer tersebut menjadi salah satu pekerjaan yang perlu dikawal hingga mencapai target penyelesaian.

Jalan tembus yang menghubungkan Kelapa Gading dan Pulo Gadung memiliki peran strategis dalam memperkuat konektivitas Jakarta Utara dan Jakarta Timur. Ruas ini akan menyediakan pilihan perjalanan yang lebih langsung bagi masyarakat, khususnya bagi pengguna jalan yang selama ini bergantung pada jalur utama dengan tingkat kepadatan tinggi. Kehadirannya juga dapat mendukung hubungan antarkawasan permukiman, pusat kegiatan ekonomi, fasilitas kesehatan, serta kawasan industri di kedua wilayah.

Salah satu manfaat yang diharapkan adalah berkurangnya beban lalu lintas di Jalan Perintis Kemerdekaan. Selama ini, jalan tersebut menjadi salah satu koridor penting menuju kawasan Pulo Gadung dan sekitarnya sehingga volume kendaraan kerap meningkat pada jam berangkat dan pulang kerja. Dengan tersedianya akses alternatif, sebagian perjalanan dapat dialihkan ke jalur tembus Kelapa Gading–Pulo Gadung. Pembagian arus ini berpotensi membuat waktu tempuh lebih efisien sekaligus meningkatkan kelancaran pergerakan kendaraan.

Jalur tersebut juga dirancang untuk memperkuat keterhubungan dari pintu masuk Bekasi menuju Jakarta. Pengguna kendaraan dari arah Bekasi akan memiliki pilihan rute yang lebih fleksibel untuk mencapai wilayah Jakarta Utara, tanpa harus sepenuhnya melewati koridor yang selama ini menjadi tumpuan utama. Konektivitas ini penting bagi mobilitas harian, distribusi barang, dan aktivitas ekonomi yang melibatkan wilayah perbatasan Jakarta dengan daerah penyangga.

Selain itu, ruas baru tersebut menghubungkan kawasan Rumah Sakit Gading Pluit dengan Terminal Pulo Gadung. Hubungan ini dapat mempermudah akses masyarakat menuju layanan kesehatan dan simpul transportasi umum, sekaligus memperluas pilihan perjalanan bagi warga di sekitar Kelapa Gading, Pulo Gadung, dan kawasan sekitarnya. Setelah konstruksi selesai, jalur ini diharapkan menjadi alternatif penting bagi pergerakan antarkawasan. Pengoperasiannya akan membantu menyebarkan arus kendaraan, memperlancar lalu lintas, dan mendukung sistem mobilitas Jakarta yang lebih terintegrasi.

Pembangunan jalan tembus yang menghubungkan Kelapa Gading dan Pulo Gadung merupakan proyek lama yang kembali mendapat perhatian. Rencana pembangunan jalur tersebut telah disusun sejak 2006, kemudian pelaksanaannya mulai dikerjakan pada 2009. Namun, hingga kini proyek itu belum sepenuhnya tuntas sehingga penyelesaiannya kembali menjadi salah satu perhatian dalam kebijakan pembangunan infrastruktur.

Pramono meminta agar proyek infrastruktur yang belum selesai, tetapi memiliki manfaat besar bagi mobilitas warga, diprioritaskan untuk dituntaskan. Kebijakan tersebut menempatkan proyek-proyek lama berdasarkan manfaatnya bagi kebutuhan pergerakan masyarakat, terutama ketika keberadaan infrastruktur itu dapat mendukung konektivitas antarwilayah.

Menurut arahan tersebut, pembangunan yang mendukung perkembangan kota perlu diselesaikan, khususnya proyek pada sektor transportasi. Infrastruktur transportasi dipandang sebagai bagian penting dari perkembangan kota, sehingga pekerjaan yang sudah direncanakan dan telah dimulai tidak dibiarkan berlarut-larut apabila manfaatnya bagi mobilitas warga dinilai besar.

Jalur tembus Kelapa Gading–Pulo Gadung termasuk proyek yang disebut perlu dituntaskan dalam kerangka kebijakan itu. Selain jalur tersebut, jalan di kawasan Pasar Minggu juga masuk dalam daftar pembangunan yang perlu mendapat perhatian. Keduanya menjadi contoh proyek infrastruktur yang pengerjaannya telah berjalan, tetapi belum selesai, dan kemudian diarahkan untuk kembali diprioritaskan.

Dengan demikian, perhatian terhadap jalan tembus Kelapa Gading–Pulo Gadung bukan semata-mata berkaitan dengan proyek baru, melainkan upaya menyelesaikan pembangunan yang telah lama direncanakan. Penuntasan proyek ini ditempatkan bersama proyek jalan di Pasar Minggu sebagai bagian dari kebutuhan menyelesaikan infrastruktur yang mendukung mobilitas warga dan perkembangan kota, terutama dalam bidang transportasi.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan penataan infrastruktur secara lebih menyeluruh di kawasan Kelapa Gading. Langkah tersebut tidak hanya berfokus pada pembangunan konektivitas jalan, tetapi juga mencakup pengelolaan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang telah diserahkan kepada pemerintah daerah. Aset-aset tersebut akan ditata agar dapat dimanfaatkan secara optimal, mendukung kebutuhan masyarakat, serta memperkuat kualitas lingkungan perkotaan di sekitar kawasan.

Penataan juga mencakup perbaikan terhadap sejumlah ruas jalan yang mengalami kerusakan, bergelombang, atau membutuhkan peningkatan kualitas permukaan. Salah satu perhatian berada di area sekitar Bundaran Kelapa Gading, yang memiliki aktivitas kendaraan cukup tinggi dan menjadi bagian penting dari jaringan pergerakan kawasan. Perbaikan jalan diharapkan dapat meningkatkan keselamatan pengguna, memperlancar arus lalu lintas, serta mengurangi gangguan perjalanan yang selama ini muncul akibat kondisi jalan.

Gubernur DKI Jakarta Pramono berharap pembenahan tersebut mampu menciptakan tata kawasan yang lebih baik dan memberikan dampak nyata terhadap mobilitas warga. Infrastruktur yang terintegrasi, terawat, dan terhubung diharapkan dapat membantu mengurangi kemacetan secara signifikan, terutama pada titik-titik yang selama ini menanggung beban lalu lintas tinggi. Penataan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan lahan, kebutuhan pelayanan publik, dan pengaturan lalu lintas selama pekerjaan berlangsung.

Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Heru Suwondo menjelaskan bahwa sebagian ruas jalan tembus telah dapat digunakan secara terbatas. Pemanfaatan awal tersebut terutama mendukung kendaraan yang bergerak dari arah barat menuju utara, dengan pengaturan lalu lintas dua arah. Secara fungsi, ruas itu sudah beroperasi dan mulai memberikan manfaat bagi pengguna jalan. Namun, pengoperasian penuh sesuai perencanaan masih ditargetkan pada tahun berikutnya, setelah seluruh tahapan pekerjaan, kelengkapan fasilitas, dan pengaturan lalu lintas diselesaikan.