Kinerja Waskita Karya hingga September 2026: Pendapatan Melonjak, Tekanan Keuangan Berlanjut

oleh -13 Dilihat
oleh
Kinerja Waskita Karya hingga September 2026: Pendapatan Melonjak, Tekanan Keuangan Berlanjut

Jakarta | PT Waskita Karya (Persero) Tbk masih menghadapi tekanan keuangan sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim yang belum diaudit, perseroan mencatat rugi periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,87 triliun hingga 30 September 2026. Angka tersebut menunjukkan bahwa perusahaan belum sepenuhnya memulihkan kinerja profitabilitasnya.

Meski demikian, nilai kerugian itu membaik dibandingkan periode yang sama pada 2025. Pada sembilan bulan pertama tahun sebelumnya, Waskita Karya membukukan rugi sebesar Rp3,17 triliun. Dengan demikian, kerugian perseroan menyusut sekitar 9,54% secara tahunan. Penurunan tersebut menunjukkan adanya perbaikan kinerja, meskipun skalanya belum cukup untuk membawa perusahaan kembali mencatat laba bersih.

Perubahan serupa juga terlihat pada rugi per saham dasar. Hingga akhir September 2026, rugi per saham dasar tercatat sebesar Rp99,70 per saham, turun dari Rp110,21 per saham pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini sejalan dengan berkurangnya rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Namun, penyusutan kerugian belum dapat diartikan sebagai berakhirnya tekanan terhadap Waskita Karya. Perusahaan masih membukukan rugi dalam jumlah besar, sehingga tantangan untuk memperkuat arus kas, mengendalikan beban, dan memperbaiki struktur keuangan tetap menjadi perhatian utama. Kinerja hingga September 2026 lebih tepat dipandang sebagai sinyal perbaikan terbatas, bukan pemulihan yang telah tuntas.

Data tersebut juga menegaskan bahwa peningkatan kinerja operasional, apabila terjadi, belum sepenuhnya mampu mengimbangi berbagai beban yang memengaruhi hasil akhir perseroan. Investor dan pemangku kepentingan perlu mencermati perkembangan pada kuartal berikutnya untuk menilai apakah tren penurunan rugi dapat berlanjut dan menjadi dasar bagi pemulihan profitabilitas yang lebih berkelanjutan.

Waskita Karya mencatat pertumbuhan pendapatan usaha yang signifikan hingga September 2026. Dalam sembilan bulan pertama tahun ini, pendapatan usaha mencapai Rp8,13 triliun, meningkat 53,73% dibandingkan Rp5,29 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama berasal dari menguatnya kinerja segmen jasa konstruksi, sementara kontribusi bisnis jalan tol juga bertumbuh. Namun, pertumbuhan pendapatan belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan profitabilitas perseroan.

Segmen jasa konstruksi menjadi pendorong utama dengan pendapatan Rp6,45 triliun, naik 71,46% secara tahunan. Pertumbuhan ini menunjukkan meningkatnya aktivitas proyek konstruksi yang dikerjakan perusahaan. Selanjutnya, pendapatan dari jalan tol tercatat Rp987,74 miliar, atau tumbuh 14,93% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Berbeda dari kedua segmen tersebut, penjualan precast mengalami penurunan 28,45% menjadi Rp362,45 miliar, sehingga menahan sebagian laju pertumbuhan pendapatan secara keseluruhan.

Dari sisi pemberi kerja, Kementerian Pekerjaan Umum menjadi kontributor terbesar bagi pendapatan Waskita Karya. Kontribusinya mencapai Rp3,91 triliun, meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan Rp963,02 miliar pada sembilan bulan pertama 2025. Peningkatan ini memperlihatkan besarnya peran proyek pemerintah dalam menopang arus pendapatan perusahaan sepanjang tahun berjalan. Ketergantungan pada segmen dan pemberi kerja tertentu tetap perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kesinambungan kinerja pada periode berikutnya.

Meskipun pendapatan meningkat, pertumbuhan tersebut belum menghasilkan kenaikan laba bruto. Beban pokok pendapatan melonjak dari Rp4,31 triliun menjadi Rp7,17 triliun, sehingga kenaikannya lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan. Akibatnya, laba bruto turun 2,09% menjadi Rp959,44 miliar. Margin laba kotor pun menyempit dari 18,54% menjadi 11,81%. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan biaya masih menjadi tantangan utama, sekaligus membatasi manfaat finansial dari ekspansi pendapatan perseroan.

Di balik pertumbuhan pendapatan hingga September 2026, kinerja Waskita Karya masih menghadapi tekanan dari tingginya beban keuangan. Beban keuangan perseroan sampai akhir September 2026 mencapai Rp2,79 triliun. Nilai tersebut memang sedikit lebih rendah, tetapi masih relatif dekat dengan beban keuangan sebesar Rp2,84 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas usaha belum sepenuhnya diikuti penurunan biaya pendanaan. Selain itu, perseroan mencatat beban bagian rugi entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar Rp149,41 miliar, yang turut membebani hasil usaha.

Tekanan tersebut tercermin pada neraca perusahaan. Per 30 September 2026, total aset tercatat Rp73,07 triliun, naik 3,30% dibandingkan Rp70,73 triliun pada akhir 2025. Namun, kenaikan aset tersebut berjalan beriringan dengan peningkatan total liabilitas yang lebih besar, yakni 7,41% menjadi Rp72,03 triliun dari sebelumnya Rp67,06 triliun. Perbedaan laju pertumbuhan aset dan kewajiban ini mempersempit ruang permodalan perseroan serta memperbesar tantangan dalam menjaga keseimbangan neraca.

Ekuitas pun merosot 71,71% menjadi Rp1,04 triliun, dibandingkan Rp3,67 triliun pada akhir 2025. Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk berada dalam posisi negatif Rp3,34 triliun, memburuk dari negatif Rp1,03 triliun. Dengan demikian, ekuitas total masih ditopang oleh kepentingan nonpengendali sebesar Rp4,38 triliun. Struktur ini menunjukkan bahwa kemampuan permodalan yang menjadi hak pemegang saham pengendali mengalami tekanan signifikan.

Dari sisi likuiditas, kas dan setara kas turun 65,90% menjadi Rp1,50 triliun dari Rp4,41 triliun. Arus kas operasi juga tercatat negatif Rp1,14 triliun, menandakan kegiatan operasional belum menghasilkan kas yang memadai. Sementara itu, aktivitas investasi menyerap Rp1,17 triliun. Kombinasi penurunan kas, arus operasi negatif, dan kebutuhan investasi tersebut dapat membatasi fleksibilitas keuangan perseroan serta meningkatkan ketergantungan pada pendanaan eksternal.

Manajemen mengungkapkan bahwa kondisi keuangan perseroan masih menghadapi tekanan signifikan. Dalam catatan laporan keuangan, akumulasi defisit tercatat sebesar Rp20,80 triliun. Selain itu, liabilitas jangka pendek melampaui aset lancar sebesar Rp12,48 triliun. Kesenjangan tersebut menunjukkan adanya risiko likuiditas dan kebutuhan pengelolaan kewajiban yang berkelanjutan, terutama ketika perseroan harus memenuhi pembayaran utang, kewajiban operasional, serta kebutuhan pendanaan proyek.

Untuk merespons risiko tersebut, perseroan menjalankan delapan stream inisiatif penyehatan keuangan. Langkah mitigasi yang disampaikan mencakup divestasi secara bertahap atas sisa ruas tol, pemanfaatan fasilitas penjaminan pemerintah, serta restrukturisasi utang pada tingkat perusahaan induk dan anak usaha. Divestasi diharapkan membantu menghasilkan likuiditas, sementara penjaminan pemerintah dapat memperkuat akses pendanaan dan menurunkan tekanan pembiayaan. Di sisi lain, restrukturisasi diarahkan untuk menata kembali jadwal pembayaran dan ketentuan utang agar lebih sesuai dengan kapasitas keuangan perseroan.

Perkembangan restrukturisasi berdasarkan master restructuring agreement menunjukkan bahwa pembayaran tranche A telah mencapai Rp2,198 triliun, sehingga menyisakan pokok sebesar Rp2,154 triliun. Untuk tranche B, pembayaran tercatat Rp280,7 miliar, dengan sisa pokok masih sebesar Rp21,736 triliun. Perseroan juga telah menyepakati restrukturisasi Obligasi PUB III Tahap IV Tahun 2019 melalui rapat umum pemegang obligasi pada 3 September 2026. Dengan kesepakatan tersebut, restrukturisasi seluruh obligasi nonpenjaminan yang terkait dengan empat perjanjian wali amanat telah rampung.

Meski demikian, kebutuhan penanganan kewajiban masih berlanjut. Per 30 September 2026, outstanding fasilitas kredit modal kerja penjaminan tercatat sebesar Rp5,06 triliun. Perseroan juga mengajukan klaim penjaminan senilai Rp722 miliar pada 25 September 2026 untuk fasilitas Obligasi III Tahun 2021. Posisi tersebut menunjukkan bahwa efektivitas delapan inisiatif penyehatan akan sangat bergantung pada realisasi divestasi, dukungan penjaminan, serta pelaksanaan restrukturisasi sesuai jadwal.

Baca juga: Perubahan Jadwal KRL Jabodetabek September 2026 | Kualitas Udara Jakarta 5 September 2026: Ancaman Bagi Kesehatan | Bantuan Sosial September 2026: Apa yang Perlu Diketahui