Merauke Didorong Jadi Lumbung Pangan, Cetak Sawah Papua Selatan Capai 45.993 Hektare

oleh -69 Dilihat
oleh
Merauke Didorong Jadi Lumbung Pangan, Cetak Sawah Papua Selatan Capai 45.993 Hektare

Kabupaten Merauke | Pemerintah mempercepat Program Cetak Sawah Rakyat di Merauke, Papua Selatan, sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas produksi pangan. Percepatan ini tidak hanya berfokus pada pembukaan lahan baru, tetapi juga mencakup penguatan infrastruktur pertanian, penyediaan sarana produksi, serta pengembangan kelembagaan petani. Berbagai unsur tersebut dibutuhkan agar lahan yang dicetak dapat dimanfaatkan secara produktif dan berkelanjutan. Dengan pendekatan terpadu, pemerintah berupaya memastikan kegiatan di lapangan berjalan seiring dengan kesiapan petani dan dukungan yang diperlukan untuk mengelola sawah.

Di Papua Selatan, luas cetak sawah yang menjadi sasaran mencapai 45.993 hektare. Rencana tersebut terdiri atas 17.693 hektare pada 2025 dan 28.300 hektare pada 2026. Pembagian target dalam dua tahun itu menunjukkan skala pekerjaan yang besar dan perlunya tahapan pelaksanaan yang terencana. Pembangunan jaringan pendukung, ketersediaan benih dan input pertanian, serta kesiapan kelompok tani menjadi bagian penting agar perluasan lahan dapat diikuti kegiatan budidaya. Koordinasi antarpihak juga diperlukan untuk menyesuaikan pelaksanaan dengan kondisi setiap lokasi.

Pengembangan lahan sawah di Merauke diarahkan untuk meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mendukung produksi pangan nasional. Capaian program karena itu tidak hanya diukur dari luasan lahan yang dibuka, tetapi juga dari kemampuan lahan tersebut menghasilkan panen secara konsisten. Infrastruktur yang berfungsi baik dapat membantu pengelolaan air dan akses ke area pertanian, sedangkan sarana produksi mendukung proses tanam. Di sisi lain, kelembagaan petani dapat memperkuat koordinasi, pendampingan, dan pengelolaan kegiatan usaha tani. Dengan memperhatikan aspek-aspek tersebut, cetak sawah diharapkan memberi manfaat jangka panjang bagi pertanian daerah serta menambah kontribusi Papua Selatan terhadap ketersediaan pangan Indonesia.

Wakil Menteri Pertanian Muhammad Saleh Mustafa meninjau lokasi program cetak sawah di Desa Muram Sari, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, pada Sabtu (24/10). Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat langsung lokasi yang telah dibuka sekaligus memperoleh gambaran mengenai pelaksanaan program di lapangan. Peninjauan itu berlangsung di tengah dorongan agar Merauke berperan sebagai lumbung pangan dan pengembangan lahan pertanian di Papua Selatan terus berjalan. Dalam agenda tersebut, Saleh tidak hanya melihat lokasi, tetapi juga berinteraksi dengan para petani yang terlibat dalam kegiatan pertanian setempat.

Di Desa Muram Sari, Saleh berdialog dengan kelompok tani untuk menyerap kebutuhan yang mereka hadapi di lapangan. Percakapan dengan petani memberi ruang bagi mereka untuk menyampaikan hal-hal yang dinilai perlu diperhatikan dalam pelaksanaan program. Bagi pemerintah, komunikasi langsung seperti ini menjadi bagian penting untuk memahami kebutuhan kelompok tani, bukan semata-mata mengandalkan gambaran dari perencanaan. Melalui dialog tersebut, masukan dari petani dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan dukungan yang dibutuhkan agar lahan yang telah dibuka dapat dimanfaatkan secara optimal. Kunjungan ini juga mempertemukan pelaksana program dengan kelompok yang akan berperan dalam pemanfaatan lahan.

Saleh menilai lahan yang sudah dibuka masih memerlukan dukungan agar bisa digunakan secara optimal. Penilaian itu menegaskan bahwa pembukaan lahan merupakan salah satu tahap dalam program, sementara pemanfaatannya perlu diperhatikan agar tujuan kegiatan dapat tercapai. Dukungan yang diperlukan perlu dipahami berdasarkan kebutuhan di lapangan, termasuk masukan yang disampaikan kelompok tani saat berdialog. Tidak ada rincian lebih lanjut mengenai bentuk dukungan tertentu dalam keterangan kunjungan tersebut. Karena itu, perhatian utama yang disampaikan adalah pentingnya memastikan lahan terbuka dapat dimanfaatkan dengan baik. Peninjauan dan dialog di Merauke menjadi bagian dari upaya melihat kebutuhan petani secara langsung serta memperhatikan kelanjutan pemanfaatan lahan program cetak sawah di wilayah tersebut.

Dalam dialog mengenai percepatan cetak sawah di Merauke, kebutuhan petani tidak hanya berkaitan dengan pembukaan lahan. Jalan usaha tani, jaringan irigasi, mekanisasi, pupuk, dan benih turut mengemuka sebagai prasyarat agar lahan yang sudah disiapkan dapat segera ditanami. Akses jalan yang memadai membantu mobilitas petani dan pengangkutan hasil, sementara irigasi diperlukan untuk menjaga ketersediaan air sesuai kebutuhan tanaman. Tanpa dukungan tersebut, lahan berpotensi belum dimanfaatkan secara optimal meskipun proses pembukaannya telah berjalan. Karena itu, pembangunan infrastruktur dan penyediaan sarana produksi perlu diselaraskan dengan tahapan kerja di lapangan.

Saleh mengarahkan jajaran pertanian untuk memperkuat pendampingan kepada petani sekaligus memastikan kebutuhan produksi mereka terpenuhi. Pendampingan dinilai penting agar petani memperoleh dukungan sejak persiapan tanam, penggunaan benih, hingga pemeliharaan tanaman. Ketersediaan pupuk dan benih harus diperiksa secara cermat, termasuk kesesuaiannya dengan kebutuhan serta jadwal tanam. Begitu pula air, alat dan mesin pertanian, serta akses terhadap layanan teknis perlu dipastikan tersedia ketika dibutuhkan. Dukungan yang terkoordinasi dapat membantu mempercepat penanaman dan mengurangi risiko lahan yang telah dibuka tertunda menjadi produktif. Jajaran terkait juga diminta memahami kendala setiap lokasi, karena kebutuhan petani dapat berbeda mengikuti kondisi lahan dan akses setempat.

Saleh menegaskan agar tidak ada petani yang kekurangan pupuk maupun benih. Ia juga menginstruksikan kepala dinas untuk melaporkan kebutuhan secara jelas, sehingga pemerintah dapat mengetahui jenis dukungan yang masih kurang dan menindaklanjutinya. Pelaporan tersebut diharapkan mencakup kebutuhan petani di lapangan, bukan hanya ketersediaan barang dalam catatan administrasi. Dengan informasi yang terukur, pengadaan dan penyaluran sarana produksi dapat diarahkan lebih tepat waktu. Mekanisasi pertanian juga menjadi perhatian untuk mendukung pengolahan lahan dan mempercepat pekerjaan, terutama ketika cakupan sawah yang dibuka terus bertambah. Keselarasan jalan usaha tani, irigasi, alat mesin, pupuk, dan benih akan menentukan seberapa cepat lahan baru dapat ditanami. Pemerintah daerah dan jajaran teknis diharapkan menjaga koordinasi agar dukungan menjangkau petani dan tidak berhenti pada tahap perencanaan. Pemenuhan kebutuhan produksi menjadi bagian penting dari upaya menjadikan cetak sawah sebagai lahan yang benar-benar menghasilkan bagi masyarakat setempat.

Saleh berencana menyampaikan kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bahwa program cetak sawah di Papua Selatan membutuhkan solusi yang terpadu. Pembahasan tidak cukup berhenti pada pembukaan atau pencetakan lahan, tetapi perlu mencakup seluruh tahapan, dari hulu hingga hilir. Persiapan lahan, ketersediaan benih, pupuk, air, alat mesin pertanian, dan pendampingan bagi petani perlu dirancang sebagai satu rangkaian yang saling mendukung. Setelah panen, pengelolaan hasil, penyimpanan, pengolahan, distribusi, serta akses pasar juga perlu diperhatikan agar produksi dapat terserap dan memberi nilai tambah. Dengan pendekatan menyeluruh, hambatan di setiap tahap dapat dikenali lebih awal dan ditangani secara terkoordinasi. Saleh menilai masukan tersebut penting agar pelaksanaan program sesuai dengan kondisi setempat dan tidak hanya berorientasi pada target luas areal. Koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan para pelaku pertanian diperlukan untuk menjaga agar dukungan teknis maupun kebijakan tersedia secara berkelanjutan.

Merauke dinilai memiliki potensi untuk berkembang menjadi salah satu lumbung pangan nasional, terutama jika sumber daya lahannya dimanfaatkan secara tepat. Potensi tersebut perlu ditopang optimalisasi lahan yang telah dibuka, peningkatan produktivitas, dan sarana pertanian yang memadai. Ketersediaan irigasi, jalan usaha tani, alat produksi, serta layanan penyuluhan dapat membantu petani mengelola lahan secara lebih efektif. Dukungan itu juga harus disesuaikan dengan karakteristik tanah, iklim, dan kebutuhan masyarakat di Papua Selatan. Perencanaan yang berkelanjutan penting agar produksi tidak bergantung pada perluasan lahan semata. Penggunaan teknologi dan praktik budidaya yang sesuai dapat membantu menjaga kesuburan tanah sekaligus meningkatkan hasil panen. Dengan demikian, target produksi dapat dibangun melalui pengelolaan yang terukur, bukan hanya melalui pertambahan hektare.