Tangerang | Dr. dr. Sonar Soni Panigoro menyampaikan bahwa kanker payudara dapat dicegah, dengan perkiraan peluang pencegahan sebesar 40 sampai 60 persen. Keterangan tersebut disampaikan dalam temu media bersama Eka Hospital BSD di Tangerang Selatan pada Senin (26/10/2026). Angka itu menunjukkan bahwa upaya pencegahan memiliki peluang yang berarti, tetapi tidak berarti seluruh kasus kanker payudara dapat dihindari. Karena itu, pemahaman mengenai faktor yang berhubungan dengan risiko menjadi bagian penting dalam membicarakan pencegahan. Pesan utama dari keterangan tersebut adalah bahwa kemungkinan untuk mengurangi risiko memang ada, sementara hasilnya tidak dapat dipastikan sama bagi setiap orang.
Faktor genetik turut memengaruhi risiko seseorang mengalami kanker payudara. Namun, faktor keturunan bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Gaya hidup juga merupakan faktor risiko besar, sehingga kebiasaan sehari-hari layak menjadi perhatian ketika membahas pencegahan. Kedua hal tersebut perlu dipahami secara bersamaan: adanya pengaruh genetik tidak meniadakan peran gaya hidup, dan perhatian terhadap gaya hidup juga tidak menghapus pengaruh faktor genetik. Keterangan ini menempatkan pencegahan sebagai upaya yang berkaitan dengan berbagai faktor, bukan sebagai jaminan bahwa seseorang pasti terhindar dari penyakit. Dengan demikian, perkiraan peluang pencegahan tersebut perlu dibaca secara proporsional.
Penjelasan mengenai peran gaya hidup memberi alasan untuk menjadikan kebiasaan sehari-hari sebagai bagian dari pembicaraan tentang kesehatan payudara. Meski demikian, angka 40 sampai 60 persen adalah perkiraan peluang pencegahan, bukan kepastian bagi tiap individu. Keterangan dr. dr. Sonar Soni Panigoro juga tidak menyatakan bahwa kanker payudara sepenuhnya dapat dicegah. Risiko tetap dapat dipengaruhi oleh faktor genetik maupun gaya hidup, sehingga tidak tepat menyederhanakan persoalan menjadi satu penyebab atau satu hasil yang berlaku untuk semua orang. Memahami batas peluang dan kepastian membantu pembaca menangkap pesannya dengan tepat: pencegahan memungkinkan, tetapi tidak menjamin bahwa kanker payudara tidak akan terjadi.
Mengurangi paparan asap rokok merupakan salah satu kebiasaan yang dapat mendukung upaya menjaga kesehatan payudara. Anjuran ini berlaku bagi perokok aktif maupun orang yang terpapar asap rokok dari lingkungan sekitarnya. Karena itu, tidak merokok dan menghindari tempat yang dipenuhi asap dapat menjadi langkah pencegahan yang relevan dalam kehidupan sehari-hari. Paparan rokok disebut dapat berkontribusi hingga 20 persen terhadap upaya menghindari kanker payudara. Angka tersebut bukan jaminan bahwa seseorang akan terhindar dari penyakit, melainkan pengingat bahwa mengurangi paparan adalah bagian dari kebiasaan sehat yang patut diperhatikan.
Selain menghindari rokok, aktivitas fisik teratur juga dianjurkan. Usahakan bergerak atau berolahraga setidaknya 1,5 jam setiap minggu. Tidak ada satu jenis olahraga tertentu yang harus dipilih; kegiatan dapat disesuaikan dengan kondisi tubuh, waktu, dan kenyamanan masing-masing. Yang penting, aktivitas dilakukan secara rutin dan menjadi bagian dari jadwal mingguan. Bagi orang yang jarang berolahraga, memulai dengan kegiatan ringan lalu membangun kebiasaan secara bertahap dapat terasa lebih mudah daripada menetapkan target yang sulit dipertahankan.
Kebiasaan aktif tidak selalu berarti mengikuti latihan khusus. Narasumber menggambarkan pola hidup yang lebih banyak bergerak melalui contoh sederhana: bangun pagi, berolahraga, menggunakan transportasi umum, lalu berjalan kaki menuju kantor. Pilihan tersebut menambahkan gerak ke dalam rutinitas, tanpa harus menyediakan waktu panjang untuk kegiatan yang rumit. Misalnya, berjalan kaki pada sebagian perjalanan atau memilih naik tangga jika memungkinkan bisa membantu mengurangi waktu duduk. Sesuaikan pilihan dengan keamanan, jarak, dan kondisi kesehatan.
Pola ini berbeda dari rutinitas yang didominasi duduk seharian di depan komputer, kemudian tidur larut malam. Kebiasaan tersebut dapat membuat kesempatan untuk bergerak semakin sedikit dan waktu istirahat kurang teratur. Cobalah menyelingi pekerjaan dengan jeda untuk berdiri atau berjalan sebentar, serta menyisihkan waktu khusus untuk aktivitas fisik. Langkah kecil yang dilakukan konsisten dapat membantu membangun rutinitas lebih aktif. Bersama upaya menjauhi asap rokok, kebiasaan bergerak teratur mendukung pola hidup sehat, meskipun tidak menggantikan pemeriksaan atau konsultasi medis.
Dalam membahas pola makan, narasumber tidak menetapkan pantangan makanan tertentu yang harus diikuti semua orang. Anjuran yang disampaikan lebih menekankan pengaturan konsumsi sehari-hari, bukan larangan mutlak. Makanan seperti steak dan gorengan masih dapat dikonsumsi, tetapi sebaiknya tidak berlebihan. Asupan makanan dan minuman manis juga dianjurkan untuk dibatasi. Dengan demikian, perhatian diarahkan pada jumlah dan kebiasaan mengonsumsi makanan tersebut, bukan pada anggapan bahwa satu jenis makanan harus selalu dihindari.
Pola makan seimbang menjadi acuan yang dapat diterapkan dalam keseharian. Narasumber menyarankan agar konsumsi karbohidrat dikurangi, disertai pilihan asupan yang rendah lemak dan tinggi serat. Anjuran ini merupakan bagian dari upaya menata pola makan secara lebih seimbang, tanpa menjadikan satu aturan khusus sebagai pantangan bagi setiap orang. Mengatur konsumsi steak, gorengan, dan makanan manis sesuai anjuran dapat dilakukan bersamaan dengan memperhatikan pilihan makanan rendah lemak serta tinggi serat.
Alkohol juga termasuk hal yang dianjurkan untuk dihindari dalam rangka menjaga kebiasaan sehari-hari. Saran ini melengkapi arahan mengenai pola makan, yaitu mengurangi karbohidrat, memilih asupan rendah lemak dan tinggi serat, serta tidak berlebihan mengonsumsi makanan tertentu. Pesan tersebut tidak berarti bahwa semua makanan yang disebut harus dilarang sepenuhnya. Intinya, narasumber mendorong pengaturan konsumsi yang lebih seimbang dan pembatasan asupan manis, bukan penerapan pantangan yang tidak disampaikan.
Selain pengaturan konsumsi, narasumber menyebutkan anjuran bagi ibu untuk menyusui setidaknya selama empat bulan. Menyusui selama periode tersebut disarankan sebagai salah satu hal yang dapat membantu menurunkan risiko kanker payudara. Saran ini dapat menjadi bagian dari pembahasan kebiasaan sehari-hari bersama pilihan pola makan yang telah dijelaskan. Secara keseluruhan, arahan yang disampaikan berfokus pada konsumsi yang tidak berlebihan, pola makan seimbang, menghindari alkohol, serta menyusui setidaknya empat bulan, tanpa menambahkan pantangan makanan tertentu.
Pemeriksaan payudara secara rutin membantu seseorang mengenali perubahan dan mencari penilaian medis lebih awal. SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) dapat dilakukan setiap bulan, sekitar 7 sampai 10 hari setelah hari pertama menstruasi, ketika payudara biasanya tidak terlalu terasa nyeri atau tegang. Bagi yang tidak lagi menstruasi, pemeriksaan dapat dijadwalkan pada tanggal yang sama setiap bulan agar lebih mudah menjadi kebiasaan. Perhatikan perubahan bentuk, ukuran, kulit, puting, maupun adanya benjolan, tetapi jangan mengandalkan pemeriksaan mandiri sebagai pengganti pemeriksaan tenaga kesehatan.
Konsultasi atau pemeriksaan medis sebaiknya tidak ditunda sampai muncul keluhan. Stadium awal kanker payudara sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas, bahkan benjolan belum tentu terasa. Sonar menyebutkan bahwa sekitar 80 persen benjolan payudara tidak disertai keluhan maupun rasa sakit. Karena itu, tidak adanya nyeri bukan alasan untuk mengabaikan perubahan yang ditemukan. Sebaliknya, keberadaan benjolan juga tidak serta-merta berarti kanker; tenaga medis perlu menilai dan menentukan pemeriksaan lanjutan yang sesuai.
Perhatian terhadap kesehatan payudara juga relevan bagi usia muda. Sonar mengatakan pernah menemui kasus pada pasien berusia 18 tahun dan menyarankan pemeriksaan dapat dipertimbangkan setelah seorang anak mulai mengalami menstruasi. Hal ini bukan berarti setiap remaja memerlukan pemeriksaan pencitraan rutin dengan jadwal yang sama. Keputusan sebaiknya dibicarakan dengan tenaga kesehatan, dengan mempertimbangkan usia, perubahan yang dirasakan, riwayat kesehatan, dan faktor risiko masing-masing.
Menurut saran Sonar USG payudara dapat dipertimbangkan pada usia 18 atau 20 tahun lalu diulang setiap 2 3.
