Peran Kampus dan Anak Muda dalam Memperkuat Perbankan Syariah Nasional

oleh -81 Dilihat
oleh
Peran Kampus dan Anak Muda dalam Memperkuat Perbankan Syariah Nasional

Medan | Direktur Utama PT Bank Syariah Nasional (BSN), Alex Sofjan Noor, menilai generasi muda memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan sekaligus memperkuat daya saing industri perbankan syariah nasional. Pandangan tersebut disampaikan dalam kuliah umum di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Medan, pada Rabu (21/10). Menurut Alex, keterlibatan anak muda bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari upaya menjawab perubahan kebutuhan masyarakat dan perkembangan industri keuangan.

Generasi muda dapat berkontribusi melalui gagasan, kompetensi, dan pemahaman terhadap teknologi serta perilaku konsumen yang terus berubah. Bekal tersebut relevan bagi bank syariah yang berupaya memperluas layanan, meningkatkan mutu pengalaman nasabah, dan menjangkau kelompok masyarakat yang lebih beragam. Kampus juga dapat menjadi ruang untuk mengenalkan prinsip dan praktik perbankan syariah, sekaligus mendorong mahasiswa memahami peluang serta tantangan sektor ini secara lebih mendalam.

Alex mengaitkan pentingnya peran tersebut dengan struktur industri yang masih didominasi oleh segelintir pemain utama. Selain konsentrasi pelaku, terdapat kesenjangan aset yang signifikan di lembaga-lembaga perbankan syariah. Perbedaan skala ini memengaruhi kapasitas bank dalam mengembangkan usaha, memperluas jangkauan, berinvestasi pada teknologi, serta bersaing secara berkelanjutan. Karena itu, penguatan industri membutuhkan perhatian terhadap pertumbuhan masing-masing pelaku sekaligus daya tahan sektor secara keseluruhan.

Kondisi tersebut juga menunjukkan adanya ruang bagi konsolidasi dan pertumbuhan. Dengan skala bisnis yang lebih kuat, lembaga keuangan syariah berpeluang meningkatkan efisiensi operasional dan memperluas kemampuan dalam menyediakan produk maupun layanan. Langkah penguatan ini dapat membantu menciptakan persaingan yang lebih sehat dan meningkatkan daya saing terhadap industri keuangan yang lebih luas. Konsolidasi, dalam konteks tersebut, menjadi salah satu opsi untuk membangun kapasitas, bukan tujuan yang berdiri sendiri.

Partisipasi anak muda dapat mendukung proses itu melalui inovasi, kesiapan menghadapi transformasi digital, serta keterlibatan sebagai nasabah, tenaga profesional, dan calon pemimpin. Hubungan kampus dan industri dapat membantu menyiapkan sumber daya manusia yang memahami kebutuhan pasar sekaligus karakteristik keuangan syariah. Dengan demikian, generasi muda berpotensi menjadi penggerak penting bagi pertumbuhan yang lebih inklusif dan kompetitif, sejalan dengan kebutuhan memperkuat fondasi perbankan syariah nasional.

Hingga Juni 2026, pangsa pasar perbankan syariah Indonesia tercatat mencapai 7,36 persen. Angka ini menunjukkan bahwa layanan keuangan berbasis prinsip syariah telah berkembang dan memperoleh tempat dalam sistem keuangan nasional. Namun, dibandingkan Malaysia yang pangsanya telah mencapai 43 persen, ruang pertumbuhan di Indonesia masih sangat besar. Perbedaan tersebut tidak semata-mata menggambarkan posisi kedua negara saat ini, tetapi juga memperlihatkan peluang bagi industri nasional untuk memperluas jangkauan, meningkatkan pemanfaatan layanan, dan memperkuat kontribusinya terhadap perekonomian.

Menurut Alex, kesenjangan pangsa pasar itu menandakan besarnya potensi pengembangan keuangan syariah di Indonesia. Potensi tersebut didukung oleh jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, yang dapat menjadi basis luas bagi tumbuhnya kebutuhan terhadap produk dan layanan keuangan syariah. Meski demikian, besarnya populasi tidak otomatis berujung pada peningkatan pangsa pasar. Perlu ada pemahaman masyarakat yang memadai, layanan yang mudah dijangkau, produk yang relevan dengan kebutuhan beragam kelompok, serta kepercayaan terhadap tata kelola dan kualitas institusi. Dengan demikian, potensi demografis perlu diikuti langkah pengembangan yang konsisten.

Alex juga menyoroti perbedaan pendekatan pembangunan ekosistem Malaysia dan Indonesia. Malaysia mengembangkan industri perbankan syariah melalui kebijakan pemerintah sejak 1983. Peran kebijakan publik tersebut membantu menyediakan arah jangka panjang dan landasan bagi pembentukan ekosistem. Sementara itu, perkembangan di Indonesia bermula dari inisiatif masyarakat. Latar belakang ini menunjukkan bahwa perjalanan industri di setiap negara dibentuk oleh konteks dan titik awal yang berbeda. Pengalaman Malaysia dapat menjadi bahan pembelajaran, tetapi penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi kelembagaan, sosial, dan ekonomi Indonesia.

Perbandingan tersebut dapat mendorong diskusi tentang cara mempercepat pengembangan tanpa mengabaikan karakter lokal. Pemerintah, pelaku industri, kampus, komunitas, dan generasi muda dapat berperan dalam memperluas literasi, mendorong inovasi, serta menghubungkan layanan syariah dengan kebutuhan nyata masyarakat. Kampus, misalnya, dapat menjadi ruang kajian dan pengembangan talenta, sementara anak muda dapat membantu mengenalkan layanan digital kepada kelompok sebaya. Dengan kolaborasi yang terarah, angka pangsa pasar tidak hanya menjadi tolok ukur, tetapi juga dasar untuk mengidentifikasi hambatan dan menyusun langkah pertumbuhan yang inklusif serta berkelanjutan bagi perbankan syariah nasional.

Menurut Alex, upaya memperkuat perbankan syariah nasional perlu ditopang oleh peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah sejak dini. Pemahaman tentang cara mengelola keuangan serta prinsip layanan syariah dapat membantu anak muda mengenali pilihan yang tersedia dan mengambil keputusan secara lebih terencana. Karena itu, pembiasaan tidak sebaiknya menunggu seseorang memasuki dunia kerja atau memiliki penghasilan tetap. Perguruan tinggi menjadi salah satu lingkungan yang relevan untuk memulai proses tersebut, sebab mahasiswa dapat membangun pemahaman sekaligus menerapkannya dalam keseharian. Semakin dini kebiasaan dan pengetahuan keuangan terbentuk, semakin besar ruang bagi generasi muda untuk berhubungan dengan industri keuangan syariah.

Alex mendorong mahasiswa untuk memulai dari kebiasaan sederhana: mencatat uang yang masuk dan keluar. Catatan ini membantu seseorang melihat ke mana uang digunakan, bukan sekadar mengandalkan ingatan ketika saldo berkurang. Setelah memahami arus uang, mahasiswa dapat belajar membedakan kebutuhan yang menjadi prioritas dari pengeluaran yang dapat ditunda. Pembedaan tersebut bukan berarti menghilangkan seluruh pengeluaran yang bersifat pilihan, melainkan menempatkannya secara sadar dalam kondisi keuangan masing-masing. Dengan mengenali prioritas dan pola pengeluaran, mahasiswa memiliki dasar yang lebih jelas untuk mengatur uang secara bertanggung jawab. Kebiasaan sehari-hari ini juga dapat menjadi langkah awal memahami pengelolaan keuangan yang lebih luas.

Langkah berikutnya adalah menyusun anggaran agar rencana penggunaan uang sejalan dengan pemasukan dan kebutuhan. Anggaran membantu mahasiswa memperkirakan bagian yang dialokasikan untuk berbagai keperluan, sekaligus memberi batas yang dapat dijadikan acuan. Alex juga menganjurkan pembangunan dana darurat, yakni menyisihkan dana untuk menghadapi kebutuhan tak terduga. Kebiasaan ini perlu dibangun secara bertahap dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, tanpa mengabaikan kebutuhan utama. Pencatatan, penentuan prioritas, penganggaran, dan dana darurat merupakan praktik dasar yang dapat dilakukan mahasiswa di lingkungan kampus maupun dalam kehidupan sehari-hari. Bagi Alex, penguatan literasi dan inklusi keuangan syariah sejak dini, termasuk melalui perguruan tinggi, merupakan bagian penting untuk mempercepat pertumbuhan industri perbankan syariah.

Penguatan perbankan syariah nasional membutuhkan sumber daya manusia yang memahami prinsip syariah sekaligus siap menghadapi perubahan industri. Untuk membuka ruang pembelajaran dan pengalaman praktis bagi generasi muda, BSN menyediakan sejumlah jalur pengembangan, termasuk program magang umum, MAGENTA, dan Youth Islamic Bankers Academy. Melalui program tersebut, mahasiswa dapat mengenal lingkungan kerja, proses layanan, serta kebutuhan kompetensi di sektor keuangan syariah secara lebih dekat. Kesempatan ini juga menjadi jembatan pembelajaran di kampus dan penerapan pengetahuan di dunia profesional.

Berbagai program itu diharapkan memperluas keterlibatan mahasiswa dalam industri perbankan syariah, bukan hanya sebagai calon tenaga kerja, tetapi juga sebagai sumber gagasan dan inovasi. Pemahaman terhadap kebutuhan nasabah dan perkembangan teknologi dapat membantu generasi muda mendorong layanan keuangan yang lebih mudah diakses, relevan, dan bertanggung jawab. Pengalaman magang maupun pembinaan terarah memberi mahasiswa kesempatan untuk mengasah kemampuan komunikasi, analisis, kolaborasi, dan pemecahan masalah. Dengan demikian, pengembangan talenta dapat berjalan seiring dengan upaya memperkuat kualitas layanan dan daya saing industri.

Baca juga: Dampak Impor Udang Ekuador Terhadap Petambak Nasional | Perkuat Kedaulatan Data Nasional dengan Infrastruktur AI | Memperkuat Transformasi Digital: Peluncuran Kerangka Kerja Scale oleh Telkom