Perlindungan Motif Tenun NTT Dipacu untuk Memperluas Nilai Ekonomi Produk Lokal

oleh -24 Dilihat
oleh
Perlindungan Motif Tenun NTT Dipacu untuk Memperluas Nilai Ekonomi Produk Lokal

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mendorong penguatan perlindungan hak kekayaan intelektual terhadap motif dan karya tenun Nusa Tenggara Timur. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan karya para penenun tidak mudah ditiru, digunakan tanpa izin, atau dipasarkan oleh pihak lain tanpa memberikan manfaat yang layak kepada pembuatnya. Perlindungan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi kreatif berbasis budaya daerah.

Menurut Destry, pencatatan dan perlindungan hak cipta dapat memberikan kepastian hukum bagi penenun, komunitas adat, serta pelaku usaha yang mengembangkan produk tenun. Dengan adanya pengakuan resmi, identitas motif dapat dijaga dan pemanfaatannya dapat diatur secara lebih adil. Penenun juga memiliki posisi yang lebih kuat ketika menjalin kerja sama dengan perancang, perusahaan, maupun lembaga pemasaran yang ingin menggunakan motif atau karya tersebut.

Destry berpandangan bahwa tenun NTT tidak seharusnya hanya diperlakukan sebagai warisan budaya yang bernilai simbolis. Kekayaan tradisi itu juga perlu dikembangkan menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan bagi masyarakat pembuatnya. Penguatan hak kekayaan intelektual dapat membantu meningkatkan nilai ekonomi produk lokal melalui diferensiasi, pengembangan merek, dan pemasaran yang menonjolkan keaslian motif serta proses pembuatannya. Dengan demikian, manfaat komersial tidak berhenti pada rantai distribusi, tetapi turut dirasakan penenun.

Pernyataan tersebut disampaikan Destry dalam keterangan pers di Jakarta pada Minggu, 4 Oktober, setelah sebelumnya ia menyampaikannya dalam Flobamorata Creative Expo 2026 di Kupang pada Sabtu, 3 Oktober. Dorongan itu diharapkan mendorong pemerintah daerah, komunitas penenun, dan pemangku kepentingan terkait untuk mempercepat inventarisasi motif, pendampingan pendaftaran hak cipta, serta edukasi mengenai penggunaannya. Perlindungan yang lebih kuat akan membuka peluang bagi tenun NTT untuk memasuki pasar yang lebih luas tanpa kehilangan akar budaya dan hak masyarakat penciptanya.

Perlindungan hak cipta terhadap motif tenun NTT dinilai memiliki kaitan erat dengan peluang pengembangan pasar produk lokal. Menurut Destry, kepastian hukum atas karya yang dihasilkan masyarakat dapat memberikan rasa aman bagi pencipta, perajin, dan pelaku usaha untuk mengembangkan produk secara lebih berkelanjutan. Ketika motif serta karya lokal memperoleh perlindungan yang jelas, tenun NTT memiliki dasar yang lebih kuat untuk diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas. Perlindungan tersebut juga dapat membantu menjaga identitas karya agar tetap melekat pada daerah asalnya ketika produk mulai menjangkau pasar di luar wilayah NTT.

Kepastian perlindungan terhadap karya lokal dapat mendukung perluasan nilai ekonomi tenun. Perajin dan pengembang produk mempunyai ruang yang lebih baik untuk memperkenalkan, mengolah, serta memasarkan karya tanpa mengabaikan kepemilikan atas motif yang menjadi bagian penting dari identitas budaya. Dalam pandangan Destry, pengembangan produk unggulan daerah merupakan bagian penting dari pembangunan perekonomian NTT. Karena itu, perlindungan karya tidak hanya berkaitan dengan aspek hukum, tetapi juga menjadi salah satu unsur yang dapat menopang pertumbuhan kegiatan ekonomi berbasis potensi daerah.

Gambaran mengenai kekayaan potensi ekonomi lokal tersebut terlihat dalam Flobamorata Creative Expo 2026. Pameran ini menampilkan beragam produk daerah, termasuk tenun, kuliner, dan kopi. Kehadiran berbagai produk itu menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi NTT dapat bertumpu pada kekuatan lokal yang beragam. Tenun menjadi salah satu bagian dari potensi tersebut, dengan nilai yang tidak hanya terletak pada hasil produknya, tetapi juga pada motif dan karya yang menyertainya. Dengan perlindungan yang lebih pasti, produk-produk lokal seperti tenun diharapkan memiliki peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas sekaligus memperkuat peran produk unggulan daerah dalam pembangunan perekonomian NTT.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian UMKM Reghi Perdana menekankan bahwa pengembangan pelaku usaha tidak dapat hanya diukur dari kemampuan meningkatkan jumlah produksi. Kapasitas produksi memang menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan, tetapi harus berjalan seiring dengan pemahaman terhadap kebutuhan konsumen. Tanpa pengetahuan mengenai selera, daya beli, fungsi, serta perkembangan tren pasar, peningkatan volume barang berisiko menghasilkan produk yang tidak terserap secara optimal.

Menurut Reghi, pelaku UMKM perlu membangun kemampuan untuk membaca perubahan permintaan dan menerjemahkannya ke dalam rancangan produk yang relevan. Pemahaman tersebut mencakup pilihan bahan, ukuran, warna, kemasan, harga, hingga cara penyampaian nilai produk kepada calon pembeli. Langkah ini penting agar produk lokal, termasuk produk berbasis tenun NTT, tidak hanya memiliki keunikan budaya, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan konsumen masa kini. Dengan demikian, penguatan kapasitas produksi harus disertai pengembangan kompetensi dalam riset pasar, pemasaran, dan pengelolaan usaha.

Reghi juga mengingatkan bahwa kualitas merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari daya saing. Pelaku usaha perlu memastikan konsistensi mutu, ketepatan waktu pemenuhan pesanan, serta kesesuaian produk dengan standar yang dipersyaratkan oleh pasar. Kemampuan memenuhi standar akan meningkatkan kepercayaan pembeli dan membuka peluang kerja sama yang lebih luas. Hubungan dengan konsumen dan mitra usaha pun perlu dibangun secara berkelanjutan, bukan sekadar melalui transaksi satu kali.

Pesan tersebut menegaskan bahwa UMKM tidak cukup hanya mampu menghasilkan barang. Mereka harus dapat membaca kebutuhan pasar, menciptakan produk berkualitas, dan terhubung dengan rantai pasok agar memiliki posisi yang lebih kuat. Akses pasar, ujar Reghi, perlu menjadi unsur penting dalam pengembangan UMKM. Karena itu, pendampingan sebaiknya tidak berhenti pada bantuan produksi, melainkan mencakup pengenalan pembeli potensial, penguatan jejaring distribusi, serta pembukaan hubungan dengan industri, ritel, dan mitra usaha lainnya. Pendekatan terpadu ini dapat membantu produk lokal memperoleh pasar yang lebih luas dan memberi nilai ekonomi yang berkelanjutan bagi pelaku usaha.

Peningkatan kualitas produk tenun NTT perlu diikuti dengan akses yang lebih luas kepada pembeli. Kemampuan menghasilkan kain bermutu, mempertahankan keunikan motif, dan memenuhi ketentuan perlindungan kekayaan intelektual belum otomatis menciptakan transaksi apabila pelaku usaha kesulitan menjangkau pasar. Karena itu, UMKM membutuhkan jalur pemasaran yang terhubung dengan konsumen, pengadaan pemerintah, sektor pariwisata, ritel, serta pelaku usaha yang dapat menyerap produk dalam jumlah berkelanjutan.

Akses pembiayaan juga menjadi unsur penting untuk memperkuat kapasitas produksi. Modal diperlukan untuk membeli bahan baku, memperbarui peralatan, meningkatkan keterampilan pekerja, memperbaiki kemasan, dan memenuhi persyaratan mutu. Skema pembiayaan yang sesuai dengan karakteristik UMKM dapat membantu pengusaha memenuhi pesanan tanpa mengorbankan kualitas. Di sisi lain, pendampingan mengenai pencatatan keuangan dan perencanaan usaha dibutuhkan agar pembiayaan digunakan secara produktif serta dapat dikelola secara bertanggung jawab.

Penguatan UMKM tidak cukup dilakukan dengan memperbesar kemampuan produksi. Produk juga harus memiliki jalur pemasaran yang jelas dan mampu menjawab kebutuhan konsumen, baik dari segi desain, fungsi, harga, konsistensi pasokan, maupun ketepatan waktu pengiriman. Kesiapan tersebut akan menentukan apakah produk lokal dapat diterima oleh pembeli di luar daerah dan menjadi bagian dari rantai pasok yang lebih besar, termasuk untuk kebutuhan ekspor.

Kementerian UMKM berharap kolaborasi pemerintah pusat dan daerah, Bank Indonesia, perbankan, dunia usaha, serta berbagai pemangku kepentingan dapat membuka lebih banyak peluang bagi produk UMKM NTT untuk memenuhi standar pasar. Kerja sama tersebut perlu mencakup promosi, kurasi, pembiayaan, pelatihan, sertifikasi, dan penghubungan dengan pembeli. Dengan dukungan yang terpadu, perlindungan motif tenun dapat berjalan seiring dengan perluasan nilai ekonomi. Produk lokal diharapkan masuk ke rantai pasok yang lebih luas dan memiliki kemampuan bersaing yang semakin kuat, baik di pasar nasional maupun global.