Respons PTK di Selat Sunda: Pemadaman Kapal Batumandi dan Mitigasi Risiko Tumpahan

oleh -90 Dilihat
oleh
Respons PTK di Selat Sunda: Pemadaman Kapal Batumandi dan Mitigasi Risiko Tumpahan

Jakarta | PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) membantu penanganan kebakaran kapal motor penumpang KMP Batumandi di perairan Selat Sunda pada Selasa, 20 Oktober 2026. Setelah menerima informasi mengenai kejadian tersebut, PTK mengerahkan tim tanggap darurat operasional dari Marine Tanjung Sekong dan Marine Tanjung Gerem. Pengerahan ini dilakukan untuk mendukung respons di sekitar lokasi sekaligus membantu memastikan area kejadian dapat ditangani dengan lebih terkoordinasi. Dalam situasi darurat di perairan, kecepatan penyampaian informasi dan kesiapan personel menjadi bagian penting dari upaya penanganan awal.

Tim PTK menjalankan dukungan evakuasi serta pengamanan wilayah di sekitar KMP Batumandi. Bantuan tersebut diarahkan untuk menunjang proses penanganan kejadian dan menjaga area operasi agar tetap terkendali. Pengamanan di sekitar lokasi juga membantu memberikan ruang bagi kegiatan respons, sekaligus mendukung koordinasi dengan pihak-pihak yang terlibat. PTK menyatakan timnya bergerak setelah memperoleh informasi kejadian, dengan mengandalkan personel operasional yang bertugas di Marine Tanjung Sekong dan Marine Tanjung Gerem. Peran tersebut merupakan dukungan operasional di lapangan, terutama dalam aspek keselamatan dan pengendalian area.

Kebakaran kapal penumpang di jalur pelayaran seperti Selat Sunda memerlukan respons yang memperhatikan keselamatan orang di kapal maupun kondisi lingkungan sekitar. Karena itu, dukungan evakuasi dan pengamanan lokasi menjadi langkah penting dalam penanganan awal, tanpa mengesampingkan koordinasi dengan unsur terkait. Dalam peristiwa ini, informasi yang tersedia menegaskan keterlibatan PTK melalui pengerahan dua tim operasionalnya setelah menerima laporan kejadian. Langkah tersebut menunjukkan kesiapan perusahaan untuk memberikan bantuan sesuai kebutuhan di lapangan. Penanganan lanjutan dan perkembangan kondisi kapal maupun penumpang dapat disampaikan oleh pihak berwenang melalui informasi resmi berikutnya.

Sebagai bagian dari upaya mitigasi lingkungan di sekitar KMP Batumandi, PTK memasang oil boom, yaitu penghalang terapung yang ditempatkan di permukaan air dan mengelilingi kapal. Pemasangan ini merupakan tindakan pencegahan selama proses penanganan berlangsung. Keberadaan penghalang tersebut ditujukan untuk membatasi kemungkinan penyebaran bahan bakar apabila terjadi ceceran, sehingga dampaknya dapat dikendalikan sedini mungkin. Langkah ini tidak berarti bahwa tumpahan telah terjadi; oil boom disiapkan sebagai antisipasi terhadap risiko yang mungkin muncul dalam kegiatan penanganan kapal.

Menurut keterangan PTK, fungsi utama oil boom adalah membatasi penyebaran ceceran di perairan dan membantu melindungi area sensitif di sekitar lokasi. Dengan mengelilingi kapal, penghalang terapung dapat menjadi batas bagi minyak yang mungkin berada di permukaan air, sehingga pergerakannya tidak langsung meluas mengikuti arus. Efektivitasnya tetap dipengaruhi kondisi lapangan, termasuk arus, gelombang, dan tata letak pemasangan. Karena itu, penempatan serta pemantauan penghalang perlu disesuaikan dengan keadaan perairan selama penanganan berlangsung.

Penggunaan oil boom menjadi salah satu lapisan pengendalian risiko, bukan pengganti prosedur keselamatan maupun respons lanjutan jika ditemukan ceceran. Petugas perlu mengawasi kondisi di sekitar kapal, memastikan penghalang tetap berada pada posisi yang direncanakan, serta melaporkan perubahan yang berpotensi mengurangi fungsinya. Apabila indikasi ceceran muncul, tindakan berikutnya dapat dilakukan sesuai prosedur penanganan yang berlaku. Pendekatan pencegahan seperti ini membantu kesiapan operasional sekaligus menekan peluang bahan bakar mencapai kawasan yang lebih luas. Dengan demikian, pemasangan oil boom menunjukkan langkah antisipatif untuk melindungi perairan sekitar KMP Batumandi selama proses penanganan, tanpa menyimpulkan bahwa pencemaran telah terjadi.

Untuk mendukung penanganan insiden kapal Batumandi di Selat Sunda, PTK menyiapkan peralatan dan dukungan operasional di sekitar wilayah kejadian. Dukungan tersebut mencakup perangkat penanggulangan tumpahan minyak, personel yang terkait dengan respons pencemaran, serta kapal dan kru pendukung. Kesiapan ini ditujukan untuk membantu kebutuhan penanganan di lapangan dan mitigasi risiko tumpahan.

Peralatan yang disiapkan terdiri atas 11 oil boom tipe permanen dengan panjang total 265 meter, serta empat oil boom tipe sea boom. Oil boom merupakan penghalang yang digunakan dalam upaya membatasi sebaran minyak di permukaan air. Ketersediaan kedua jenis peralatan itu menjadi bagian dari dukungan PTK untuk membantu mengantisipasi kemungkinan dampak pencemaran di perairan sekitar lokasi kejadian.

Dukungan personel meliputi personel oil spill response, disertai satu kapal tug boat beserta krunya. PTK juga menyiapkan kru marine dan kru kapal lainnya untuk mendukung kebutuhan operasional. Informasi yang disampaikan tidak merinci jumlah personel, sehingga dukungan tersebut dicatat berdasarkan jenis personel dan unsur operasional yang disebutkan.

Tim PTK masih berada di sekitar wilayah kejadian sejak Selasa sore hingga waktu pernyataan yang disampaikan Amran Reza. Selama berada di area tersebut, tim didukung perlengkapan HSSE kemaritiman. Kehadiran tim dan perlengkapan itu menunjang pelaksanaan dukungan operasional di lingkungan laut, dengan tetap memperhatikan aspek kesehatan, keselamatan, keamanan, dan perlindungan lingkungan.

Penempatan peralatan, kapal, dan personel di sekitar lokasi memungkinkan dukungan diberikan sesuai kebutuhan penanganan insiden. Oil boom dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari langkah mitigasi apabila terdapat risiko penyebaran minyak, sementara tug boat, kru marine, dan kru kapal lainnya mendukung aspek operasional. Dukungan yang disiapkan PTK menunjukkan koordinasi sumber daya maritim untuk merespons kejadian, tanpa mengubah fakta mengenai jumlah maupun jenis unsur yang telah disebutkan. Informasi mengenai keberadaan tim dan perlengkapannya memberikan gambaran tentang dukungan yang tersedia selama proses penanganan berlangsung di sekitar Selat Sunda.

Vice President Legal and Relations PTK, Amran Reza, menjelaskan bahwa respons perusahaan terhadap insiden kapal Batumandi dilakukan melalui koordinasi dengan pihak berwenang. Koordinasi tersebut menjadi penting karena lokasi kejadian berada berdekatan dengan area operasional PTK. Dengan komunikasi dan pembagian peran bersama otoritas serta instansi terkait, langkah penanganan dapat diselaraskan dengan kebutuhan di lapangan. Pendekatan ini juga membantu memastikan dukungan perusahaan diberikan secara tepat, tanpa mengganggu upaya utama tim gabungan dalam menangani keadaan darurat. Dalam situasi yang berkembang, keselamatan manusia, pengendalian sumber bahaya, dan perlindungan lingkungan menjadi perhatian yang berjalan beriringan.

Fokus kerja tim gabungan diarahkan pada beberapa kebutuhan utama. Pertama, menuntaskan pemadaman badan kapal agar potensi bahaya dari sisa api dapat dikendalikan. Kedua, mengawasi kestabilan bentangan oil boom yang ditempatkan untuk membatasi kemungkinan penyebaran tumpahan minyak di perairan. Pengawasan dilakukan dengan memperhatikan kondisi bentangan dan situasi sekitar, sehingga langkah mitigasi dapat disesuaikan apabila diperlukan. Selain itu, PTK menjaga kesiagaan armada dan personelnya untuk mendukung penanganan sesuai kebutuhan. Kesiapan tersebut memungkinkan dukungan operasional diberikan secara responsif, sekaligus membantu tim gabungan mempertahankan koordinasi selama proses pemadaman dan pemantauan berlangsung.

Amran menyampaikan bahwa keterlibatan unit maritim PTK dalam penanganan ini merupakan penerapan standar Health, Safety, Security, and Environment (HSSE), sekaligus bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga lingkungan maritim. Standar tersebut menempatkan keselamatan, keamanan, dan kepedulian terhadap lingkungan sebagai pertimbangan penting dalam kegiatan operasional maupun saat merespons kejadian. Ia juga mengapresiasi respons otoritas maritim dan instansi terkait, khususnya dalam proses evakuasi penumpang serta kru kapal. Menurutnya, kerja sama berbagai pihak turut mendukung pemulihan lokasi secara aman dan terpadu. Koordinasi yang konsisten, kesiagaan personel, serta pemantauan kondisi perairan menjadi bagian dari upaya untuk memastikan penanganan berjalan tertib dan risiko lanjutan dapat diantisipasi.

Baca juga: Pemadaman Lampu Serentak di Jakarta Malam Ini | Pemadaman Lampu Serentak di Jakarta untuk Hari Ozon Sedunia | Penghematan Energi Melalui Aksi Pemadaman Lampu di Jakarta