BARABAI – Sebanyak 7 personel dari Kodim 1002/HST dan Polres Hulu Sungai Tengah (HST) diterjunkan untuk mengamankan jalannya sembahyang Hari Raya Nyepi di Pura Agung Datu Magintir, Desa Labuhan, Kecamatan Batang Alai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, pada Minggu (30/3/2025) pagi.
Hari Raya Nyepi yang dirayakan umat Hindu ini merupakan puncak dari serangkaian ibadah Catur Brata Penyepian, yang dilakukan selama 24 jam penuh. Para umat Hindu yang telah menjalani ibadah puasa tersebut, mengakhiri rangkaian ritualnya dengan bersembahyang di pura sebagai bagian dari prosesi Nyepi.
Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) HST, Susi Kasmina, menjelaskan bahwa hari penutup perayaan Nyepi dikenal dengan sebutan Hari Suci Ngembak Geni. Ritual ini memiliki makna mendalam, di mana umat Hindu memanjatkan doa syukur kepada Sang Hyang Widhi atas segala berkah yang telah diterima selama setahun, sekaligus berdoa untuk kedamaian dan keteguhan hati di tahun yang akan datang.
“Setelah menjalani Catur Brata Penyepian, umat Hindu wajib melaksanakan sembahyang pada pagi harinya di Pura,” ujar Susi. “Prosesi ini dilakukan dengan harapan mendapatkan kedamaian, serta kesucian hati selama setahun ke depan.”
Sembahyang Nyepi ini diakhiri dengan prosesi Dharma Santi atau Sima Krama, yang merupakan bentuk silaturahmi antar umat Hindu. Umat Hindu berkunjung ke rumah-rumah keluarga, teman, rekan kerja, dan umat beragama lainnya untuk saling memberikan maaf atas kesalahan yang pernah terjadi. Ritual ini memiliki tujuan untuk menciptakan suasana yang lebih baik, lebih damai, dan hidup harmonis antara sesama, terlepas dari perbedaan keyakinan.
“Melalui saling maaf-memaafkan, diharapkan tercipta keharmonisan, kedamaian, dan ketenangan dalam kehidupan bermasyarakat,” kata Susi menambahkan.
Pengamanan yang dilakukan oleh TNI-Polri ini menunjukkan komitmen mereka untuk menjaga kelancaran perayaan Nyepi, serta memberikan rasa aman bagi umat Hindu dalam menjalankan ibadah mereka. (Edi D/mask95)
