Sorotan Leonardo DiCaprio terhadap Karhutla dan Ancaman bagi Satwa di Sumatra-Kalimantan

oleh -491 Dilihat
oleh
Sorotan Leonardo DiCaprio terhadap Karhutla dan Ancaman bagi Satwa di Sumatra-Kalimantan

JAMBI, JAMBI — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 Oktober 2026, Leonardo DiCaprio kembali menyoroti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia melalui unggahan di media sosial. Aktor Hollywood sekaligus aktivis lingkungan tersebut menyampaikan perhatian terhadap kondisi hutan di Kalimantan dan Sumatra, dua wilayah yang disebut mengalami kebakaran dalam skala luas. Unggahannya menempatkan persoalan karhutla bukan hanya sebagai kerusakan bentang alam, tetapi juga sebagai ancaman bagi keberlangsungan satwa yang hidup di dalamnya.

Dalam unggahan tersebut, DiCaprio menyebut lebih dari 2 juta are hutan telah habis terbakar di Kalimantan dan Sumatra. Jumlah itu setara dengan sekitar 800 ribu hektare, menunjukkan luas kawasan yang terdampak oleh kebakaran. Angka tersebut menjadi sorotan utama karena menggambarkan besarnya tekanan terhadap hutan Indonesia, termasuk ruang hidup berbagai jenis satwa.

Perhatian DiCaprio terhadap isu ini memperlihatkan bahwa karhutla Indonesia turut menjadi perhatian dalam pembahasan lingkungan di tingkat internasional. Pesan yang dibagikannya mengarahkan perhatian publik pada kondisi hutan serta dampak yang harus dihadapi satwa akibat hilangnya habitat. Kebakaran yang melanda kawasan hutan tidak hanya meninggalkan lahan yang rusak, tetapi juga mengancam ekosistem yang bergantung pada kawasan tersebut.

Sebagai figur publik yang dikenal aktif menyuarakan perlindungan lingkungan, DiCaprio menggunakan media sosial untuk menyampaikan kepeduliannya terhadap situasi di Kalimantan dan Sumatra. Sorotan itu kembali mengangkat karhutla sebagai persoalan penting di Indonesia, terutama karena luas hutan yang disebut terbakar mencapai lebih dari 2 juta are. Informasi tersebut sekaligus menegaskan keterkaitan perlindungan hutan dan keselamatan satwa yang terdampak oleh kebakaran.

Leonardo DiCaprio menyoroti perubahan kondisi hutan di Kalimantan sebagai salah satu faktor yang memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan. Menurut pernyataannya, kawasan tersebut menjadi semakin kering dan panas akibat perubahan iklim. Perubahan itu membuat vegetasi serta permukaan tanah kehilangan kelembapan, sehingga hutan lebih mudah terbakar ketika menghadapi sumber api. Dalam kondisi yang semakin rentan, kebakaran dapat meluas dengan lebih cepat dan sulit dikendalikan, terutama pada musim kering yang panjang.

DiCaprio juga menyampaikan bahwa kebakaran kerap dimulai oleh manusia untuk membuka lahan pertanian. Pembakaran dianggap sebagai cara cepat untuk membersihkan area, tetapi praktik tersebut dapat berubah menjadi bencana ketika api menyebar ke kawasan hutan dan lahan gambut di sekitarnya. Api yang semula digunakan untuk tujuan pembukaan lahan berpotensi melampaui batas pengendalian, khususnya ketika cuaca panas, kering, dan berangin.

Pembakaran lahan gambut membawa konsekuensi besar bagi krisis iklim. Gambut menyimpan karbon dalam jumlah tinggi selama waktu yang sangat lama. Ketika terbakar, karbon yang tersimpan tersebut dilepaskan dalam jumlah besar ke atmosfer. Pelepasan ini memperburuk peningkatan konsentrasi gas rumah kaca, yang pada gilirannya dapat memperkuat perubahan iklim dan meningkatkan kerentanan ekosistem terhadap kebakaran berikutnya. Dengan demikian, kerusakan gambut tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga berkaitan dengan persoalan iklim yang lebih luas.

Risiko tersebut turut mengancam keanekaragaman hayati di Sumatra dan Kalimantan. Kebakaran menghancurkan habitat, mengganggu ruang hidup satwa, serta mengurangi kualitas kawasan hutan yang menjadi tempat berlindung dan mencari makan. Dampaknya juga dirasakan masyarakat di wilayah terdampak. Dalam pernyataannya, disebutkan bahwa lebih dari 5 juta orang telah terpapar asap kebakaran hutan. Angka tersebut menunjukkan luasnya jangkauan peristiwa kebakaran, sekaligus menegaskan bahwa perlindungan hutan dan pengelolaan lahan perlu dilakukan dengan mempertimbangkan iklim, satwa, serta masyarakat.

Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga menghilangkan ruang hidup satwa liar. Bagi hewan yang bergantung pada hutan untuk mencari makan, berlindung, dan berkembang biak, hilangnya habitat secara mendadak dapat memaksa mereka keluar dari kawasan yang selama ini menjadi tempat hidupnya. Situasi ini terlihat pada orangutan Kalimantan yang melarikan diri dari hutan terbakar ketika habitatnya menghilang.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa orangutan bukan sekadar berada di sekitar wilayah bencana, melainkan menjadi pihak yang terdampak langsung oleh kebakaran. Pergerakan keluar dari hutan dapat dipahami sebagai upaya mencari keselamatan ketika pepohonan dan kawasan tempat berlindung tidak lagi aman. Namun, perpindahan itu juga menempatkan satwa pada kondisi yang membutuhkan penanganan serta perlindungan lebih lanjut.

Orangutan yang disoroti dalam peristiwa tersebut telah diselamatkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah dengan dukungan BOS Foundation. Saat ini, orangutan itu sedang menjalani perawatan medis. Penanganan tersebut menjadi bagian penting dari respons terhadap dampak kebakaran, terutama ketika satwa ditemukan setelah kehilangan habitat dan harus memperoleh perhatian dari lembaga konservasi.

Ancaman serupa dihadapi owa ungko Kalimantan, primata yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di atas pohon. Ketergantungan tersebut membuat pilihan untuk menyelamatkan diri menjadi sangat terbatas ketika api membakar hutan di sekitarnya. Saat tajuk pohon dan kawasan hutan terdampak, owa ungko tidak mudah mencari jalur aman di permukaan atau berpindah ke habitat lain. Keberadaan kebakaran dengan demikian memperlihatkan betapa eratnya keselamatan satwa arboreal dengan kelestarian hutan yang menjadi tempat hidupnya.

Leonardo DiCaprio mengajak para pengikutnya untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan melalui Re:wild, organisasi konservasi lingkungan nirlaba global yang ia dirikan. Ajakan tersebut disampaikan sebagai bentuk dukungan terhadap upaya penyelamatan hutan dan satwa liar yang terdampak karhutla di Sumatra dan Kalimantan.

Dukungan atau donasi melalui Re:wild diarahkan untuk membantu menyediakan sumber daya bagi organisasi yang bekerja memadamkan api di lapangan. Bantuan itu dapat memperkuat upaya pemadaman di garis depan, termasuk mendukung kebutuhan personel, perlengkapan, serta berbagai tindakan tanggap darurat di wilayah yang sulit dijangkau. Dengan sumber daya yang memadai, organisasi terkait dapat merespons kebakaran secara lebih cepat dan terkoordinasi.

Selain menangani api, dukungan tersebut ditujukan untuk melindungi habitat kritis kera dan kawasan hutan yang menjadi tempat hidup berbagai satwa. Perlindungan habitat penting dilakukan bersamaan dengan pemadaman, karena kebakaran dapat menghancurkan sumber pakan, tempat berlindung, serta jalur pergerakan satwa liar. Upaya ini juga diharapkan membantu mencegah kehilangan satwa liar dan hutan lebih lanjut akibat kebakaran yang meluas.

Berdasarkan dashboard informasi penanganan karhutla BNPB per Selasa (6/10), tercatat 10.195 titik panas dan 219 titik api di enam provinsi. Wilayah yang tercantum dalam data tersebut adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Data itu mencatat sebaran titik panas serta titik api pada enam provinsi yang menjadi bagian dari pemantauan penanganan karhutla.