Jakarta | Sejumlah siswa di Jakarta mengikuti uji coba penyajian Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan. Dalam skema yang sedang diuji ini, makanan disajikan sehingga siswa dapat mengambil porsi sesuai kebutuhan. Kegiatan tersebut berlangsung di lima Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri di Jakarta, bukan sebagai penerapan yang telah diberlakukan secara luas. Uji coba dijadwalkan selama 10 hari, mulai 5 hingga 15 Oktober 2026. Rentang waktu itu menjadi kesempatan untuk menjalankan dan mengamati mekanisme penyajian prasmanan di lokasi-lokasi yang terlibat.
Salah satu lokasi yang tercantum adalah SMP Kemala Bhayangkari 3 di Pasar Minggu. Sekolah tersebut menjadi bagian dari rangkaian pelaksanaan uji coba bersama lokasi lain yang berada di bawah lima SPPG Polri di Jakarta. Penyebutan sekolah ini menunjukkan bahwa kegiatan menyasar lingkungan pendidikan, tempat para siswa menjadi penerima layanan makan bergizi. Namun, keterangan mengenai lokasi tersebut tidak berarti seluruh sekolah di Jakarta telah menggunakan sistem prasmanan untuk MBG. Pelaksanaan masih terbatas pada lokasi uji coba yang disebutkan, dengan periode yang telah ditentukan.
Perhatian dalam kegiatan ini mencakup cara siswa mengambil makanan dan menentukan porsi yang akan dikonsumsi. Melalui format prasmanan, siswa berlatih memilih serta mengambil makanan sesuai kebutuhan, alih-alih menerima porsi yang telah disiapkan secara individual. Uji coba selama 10 hari memberi ruang untuk mengenalkan proses tersebut kepada siswa dan menjalankannya dalam konteks sekolah. Informasi mengenai lima SPPG Polri serta jadwal 5–15 Oktober 2026 menjadi batas penting untuk memahami cakupan kegiatan: ini adalah uji coba di Jakarta, bukan pengumuman bahwa model prasmanan telah menjadi standar MBG di semua daerah atau sekolah.
Dalam uji coba penyajian prasmanan, siswa mengambil makanan secara langsung dari tempat hidangan yang disediakan. Mereka dapat memilih dan menentukan sendiri banyaknya makanan yang ingin disantap, sesuai kebutuhan masing-masing. Dengan cara ini, proses makan tidak hanya berlangsung dengan menerima satu porsi yang telah disiapkan, tetapi memberi siswa kesempatan mengatur isi piringnya. Pendampingan tetap penting agar pilihan dan takaran yang diambil sesuai dengan kebutuhan serta tidak berlebihan.
Menu yang disajikan mencakup beberapa kelompok pangan untuk membentuk hidangan yang beragam. Komponennya terdiri atas sumber karbohidrat, protein nabati, protein hewani, sayuran, dan buah. Siswa dapat mengambil unsur-unsur tersebut dari pilihan yang tersedia, sehingga isi piring dapat memuat makanan pokok, lauk, sayur, dan buah. Susunan ini menghadirkan variasi dalam satu waktu makan, sementara kebebasan mengambil porsi memungkinkan siswa menyesuaikan jumlahnya dengan selera dan kebutuhan.
Model prasmanan tersebut berbeda dari mekanisme pembagian sebelumnya. Pada sistem terdahulu, makanan ditakar dan ditimbang terlebih dahulu untuk menentukan porsi, kemudian dibagikan kepada siswa. Hidangan umumnya ditempatkan dalam wadah makan atau ompreng sebelum diterima. Karena porsi sudah ditetapkan sebelum distribusi, siswa memperoleh makanan dalam takaran yang telah disiapkan, bukan mengambil sendiri dari hidangan yang tersedia.
Perubahan cara penyajian ini membuat siswa terlibat lebih langsung dalam memilih makanan dan mengatur jumlah yang diambil. Mereka berhadapan dengan pilihan menu, lalu menentukan porsi masing-masing ketika berada di area prasmanan. Perbedaan utamanya terletak pada titik penentuan porsi: sebelumnya dilakukan melalui penakaran dan penimbangan sebelum makanan dibagikan, sedangkan dalam uji coba ini siswa mengambil sendiri saat penyajian. Dengan demikian, tata cara makan bergeser dari pembagian porsi siap saji menuju pengambilan mandiri, dengan komponen menu yang tetap mencakup karbohidrat, protein nabati dan hewani, sayuran, serta buah.
Kepala SPPG Polri Iqbal Salim menjelaskan bahwa uji coba layanan Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di Jakarta berlangsung selama sepuluh hari, mulai 5 hingga 15 Oktober 2026. Rentang waktu tersebut digunakan untuk menjalankan dan mengamati pelaksanaan layanan di sekolah yang menjadi lokasi percobaan. Dengan jadwal yang telah ditetapkan, kegiatan berlangsung bertahap sebelum ditutup pada tanggal terakhir yang direncanakan.
Saat memberikan keterangan, Iqbal menyebut pelaksanaan uji coba telah memasuki hari kesembilan. Artinya, hari berikutnya menjadi hari terakhir dalam rangkaian percobaan tersebut. Keterangan mengenai posisi hari pelaksanaan ini memberi gambaran bahwa kegiatan hampir selesai ketika penjelasan disampaikan. Selama periode itu, penyelenggara dapat menjalankan layanan prasmanan sekaligus memperhatikan kebutuhan penyediaan makanan berdasarkan jumlah siswa yang dilayani.
Dalam sistem prasmanan, kebutuhan bahan makanan dihitung dengan mengacu pada jumlah siswa dan standar porsi untuk setiap menu. Perhitungan tersebut menjadi dasar untuk menentukan banyaknya bahan yang perlu disiapkan, sehingga penyediaan dapat disesuaikan dengan jumlah penerima. Misalnya, apabila satu kelas terdiri atas 32 siswa, kebutuhan bahan untuk menu yang disajikan dihitung bagi seluruh 32 siswa tersebut. Standar porsi tiap menu digunakan sebagai acuan dalam perhitungan, bukan sekadar memperkirakan jumlah makanan secara umum.
Iqbal juga memberikan contoh lokasi uji coba yang melayani dua kelas dengan total 64 siswa. Dalam kondisi itu, kebutuhan bahan dihitung untuk keseluruhan siswa di kedua kelas, dengan mempertimbangkan standar porsi setiap menu. Penghitungan berdasarkan jumlah penerima membantu penyelenggara menyusun kebutuhan secara lebih terukur pada saat makanan disiapkan dan disajikan. Contoh tersebut memperlihatkan bagaimana jumlah siswa menjadi dasar praktis untuk memperkirakan bahan dalam layanan prasmanan. Karena jumlah peserta berbeda antarlokasi, kebutuhan bahan pun mengikuti jumlah siswa yang dilayani, sementara acuan porsi menu tetap menjadi bagian dari perhitungan. Pendekatan ini diterapkan selama uji coba sepuluh hari, termasuk ketika pelaksanaan memasuki hari kesembilan dan menjelang hari terakhir pada 15 Oktober 2026.
Uji coba makan bergizi gratis dengan sistem prasmanan di sekolah Jakarta diarahkan untuk mendorong siswa mengambil makanan sesuai kebutuhan. Melalui cara penyajian ini, siswa dapat memilih porsi sendiri, bukan menerima takaran yang sama tanpa mempertimbangkan selera atau kapasitas masing-masing. Tujuan tersebut diharapkan membantu mengurangi makanan yang tersisa setelah waktu makan. Porsi yang dipilih secara sadar berpeluang lebih sesuai dengan kemampuan siswa untuk menghabiskannya. Namun, pengurangan sisa makanan merupakan sasaran yang ingin dicapai melalui uji coba, bukan hasil yang sudah dapat dipastikan. Pelaksanaannya juga menjadi kesempatan untuk mengamati bagaimana kebiasaan makan dan pengambilan porsi dapat dibentuk dalam kegiatan sekolah sehari-hari.
Selain mengelola porsi, sistem prasmanan diharapkan menjadi sarana pembelajaran perilaku positif. Siswa dapat dibiasakan mengantre dengan tertib sebelum mengambil makanan, sehingga proses makan berlangsung teratur dan setiap anak memperoleh kesempatan yang sama. Mereka juga dapat belajar saling melayani, misalnya dengan memberi ruang kepada teman, membantu ketika diperlukan, serta menjaga sikap selama berada di meja prasmanan. Kebiasaan sederhana tersebut dapat mendukung suasana makan yang nyaman dan mengajarkan bahwa kegiatan bersama memerlukan kepedulian terhadap orang lain. Sekolah menjadi lingkungan yang penting untuk memperkenalkan praktik itu secara konsisten, dengan pendampingan guru atau petugas yang membantu siswa memahami tata cara mengambil makanan dan menjaga ketertiban.
Harapan lainnya ialah tumbuhnya rasa tanggung jawab terhadap makanan yang telah dipilih. Siswa dapat diajak mempertimbangkan kebutuhan sebelum mengambil, memilih porsi yang sanggup dihabiskan, dan tidak mengambil berlebihan. Jika masih merasa lapar, mereka dapat memahami bahwa mengambil tambahan dengan bijak lebih baik daripada menyisakan makanan di piring. Pembiasaan ini menghubungkan pilihan pribadi dengan upaya menghargai makanan dan mengurangi pemborosan.
Baca juga: Setetes Kepedulian di Kampung Oyokita, Prajurit Satgas Yonif 2 Marinir Hadir Membantu Warga Mengambil Air Bersih | Segera Bangkit Setelah Gempa: Kawasan Jakarta Dilanda Getaran Kuat | Peluang Kerja Melalui Jakarta Pusat Job Connect 2026

