Penataan Peralihan Bandung Zoo dan Masa Depan Eks Pekerjanya

oleh -90 Dilihat
oleh
Penataan Peralihan Bandung Zoo dan Masa Depan Eks Pekerjanya

KOTA BANDUNG, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Pemerintah Kota Bandung, Jawa Barat, memastikan peralihan pengelolaan Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo berlangsung secara tertata. Kepastian tersebut menjadi bagian penting dalam menyiapkan arah baru pengelolaan kawasan konservasi dan rekreasi itu. Pemkot tidak hanya menaruh perhatian pada aspek kelembagaan, aset, serta rencana pengembangan, tetapi juga pada dampak sosial yang dirasakan para eks pekerja. Perubahan pengelola dapat memengaruhi keberlanjutan pekerjaan dan penghasilan mereka sehingga proses transisi perlu dilakukan secara cermat, terbuka, dan bertahap.

Penyelesaian persoalan sosial bagi eks karyawan yang terdampak ditempatkan sebagai perhatian utama sebelum agenda revitalisasi Bandung Zoo dilanjutkan. Pemerintah kota perlu memastikan bahwa setiap tahapan peralihan memiliki kejelasan, termasuk komunikasi dengan pekerja, pemetaan kebutuhan, serta pembahasan mengenai peluang setelah perubahan pengelolaan. Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi ketidakpastian dan mencegah persoalan ketenagakerjaan menghambat penataan kawasan. Dengan demikian, revitalisasi tidak semata-mata berorientasi pada pembaruan fasilitas, tetapi juga mempertimbangkan keberadaan masyarakat dan tenaga kerja yang selama ini terkait dengan operasional kebun binatang.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan bahwa pemerintah kota ingin memastikan masa transisi tertata terlebih dahulu. Setelah fondasi tersebut siap, proses revitalisasi bersama pengelola baru, Faunaland, dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan. Fokus Pemkot Bandung mencakup penyiapan kesempatan kerja bagi eks karyawan yang terdampak perubahan pengelolaan. Kesempatan tersebut dapat dibahas melalui penyesuaian kebutuhan tenaga kerja, peningkatan keterampilan, maupun penempatan pada bidang yang relevan dengan pengembangan kawasan. Langkah ini menunjukkan bahwa keberhasilan revitalisasi juga diukur dari kemampuan pengelola dan pemerintah menjaga kesinambungan sosial, bukan hanya dari perubahan fisik serta daya tarik baru bagi pengunjung.

Dinas Ketenagakerjaan Kota Bandung menindaklanjuti kondisi 121 eks karyawan Bandung Zoo dengan memetakan status, pengalaman, serta kebutuhan mereka setelah berakhirnya pengelolaan kebun binatang tersebut. Dari keseluruhan jumlah itu, sebanyak 57 orang tercatat sebagai pekerja terdampak. Pendataan ini menjadi langkah awal untuk memastikan proses peralihan tidak hanya berfokus pada status pekerjaan, tetapi juga mempertimbangkan kemampuan dan pengalaman yang telah dibangun selama bekerja di lingkungan kebun binatang.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Bandung, Yayan Ahmad Brilyana, menjelaskan bahwa hasil asesmen yang dilakukan Faunaland digunakan sebagai salah satu dasar dalam proses pencocokan peluang kerja. Data tersebut membantu pemerintah dan pihak terkait memahami kompetensi setiap eks karyawan, kemudian menyesuaikannya dengan pengalaman masing-masing serta kebutuhan tenaga kerja yang tersedia. Dengan pendekatan ini, penempatan diharapkan dapat dilakukan secara lebih terukur, sesuai kapasitas pekerja dan karakter pekerjaan yang ditawarkan.

Keragaman latar belakang eks karyawan menjadi pertimbangan penting dalam proses tersebut. Sebagian memiliki pengalaman dalam perawatan satwa, sementara lainnya terbiasa menangani operasional harian, sarana dan prasarana, atau pertamanan. Ada pula pekerja yang memiliki keterampilan khusus di bidang nutrisi satwa, pelayanan tiket, dan administrasi. Perbedaan tugas ini menunjukkan bahwa mereka memiliki kompetensi yang beragam dan berpotensi dialihkan ke berbagai sektor pekerjaan, baik yang masih berkaitan dengan pengelolaan lingkungan dan satwa maupun bidang layanan lainnya.

Melalui pemanfaatan hasil asesmen, Dinas Ketenagakerjaan berupaya mempertemukan profil eks karyawan dengan kesempatan kerja yang paling relevan. Proses tersebut juga dapat menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan peningkatan keterampilan apabila terdapat jarak kompetensi yang dimiliki dan persyaratan pekerjaan. Dengan demikian, penanganan pekerja terdampak diarahkan pada langkah yang lebih terstruktur, berdasarkan data, serta tetap memperhatikan pengalaman profesional setiap individu.

Faunaland menyepakati rencana penempatan kerja bagi para eks karyawan Bandung Zoo dengan pendekatan yang mempertimbangkan kompetensi setiap pekerja. Penempatan tidak dilakukan secara seragam, melainkan disesuaikan dengan kemampuan, pengalaman, dan keterampilan yang telah dimiliki. Pertimbangan tersebut penting agar tenaga kerja dapat menjalankan tugas secara efektif serta memiliki kecocokan dengan pekerjaan yang tersedia di lingkungan pemerintahan daerah.

Selain memperhatikan profil dan kapasitas pekerja, rencana ini akan diselaraskan dengan kebutuhan tenaga kerja pada setiap perangkat daerah. Artinya, penempatan bergantung pada jenis pekerjaan, fungsi layanan, serta kebutuhan personel yang ditetapkan oleh masing-masing perangkat daerah. Dengan mekanisme tersebut, proses transisi diharapkan dapat berlangsung lebih terarah, tanpa mengabaikan kebutuhan organisasi maupun peluang kerja bagi eks karyawan.

Dalam pelaksanaannya, skema yang disiapkan dapat menggunakan pola tenaga outsourcing atau kontrak perorangan. Pemilihan pola kerja akan mengikuti kebutuhan tenaga dan karakter tugas yang tersedia. Outsourcing dapat digunakan apabila pekerjaan memerlukan pengelolaan tenaga melalui penyedia jasa, sementara kontrak perorangan dapat dipertimbangkan untuk kebutuhan yang berhubungan langsung dengan individu dan kompetensinya. Setiap bentuk kerja tetap harus disusun secara jelas agar hak, kewajiban, ruang lingkup tugas, serta durasi hubungan kerja dapat dipahami oleh semua pihak.

Seluruh proses penempatan juga perlu mengacu pada aturan yang berlaku. Karena itu, pelaksanaannya tidak hanya mempertimbangkan kesepakatan pihak terkait, tetapi juga ketentuan mengenai pengadaan jasa, hubungan kerja, administrasi kepegawaian, dan kebutuhan perangkat daerah. Tahapan pendataan kompetensi, pemetaan kebutuhan, serta penyesuaian skema kontrak menjadi bagian penting sebelum penempatan dilakukan. Rincian mengenai jumlah pekerja maupun perangkat daerah penerima belum ditetapkan dalam informasi yang tersedia, sehingga pelaksanaannya masih bergantung pada hasil pemetaan dan keputusan sesuai ketentuan.

Menjelang tahapan revitalisasi dan pembukaan kembali kepada masyarakat, Faunaland menyiapkan pengelolaan Bandung Zoo secara menyeluruh. Persiapan tersebut tidak berhenti pada penataan kawasan atau pembenahan fasilitas, melainkan mencakup kesiapan organisasi, pembagian peran, serta kemampuan tim untuk menjalankan operasional secara konsisten. General Manager Faunaland, Dwiki G Prakoso, menegaskan bahwa organisasi yang kuat diperlukan agar pengelolaan dapat ditopang secara berkelanjutan. Pandangan ini menempatkan pembukaan kembali sebagai bagian dari proses yang lebih luas, yakni membangun dasar pengelolaan yang bertanggung jawab terhadap kawasan, satwa, dan masyarakat.

Dalam proses tersebut, Faunaland turut memberikan penghargaan terhadap kontribusi para pekerja yang sebelumnya terlibat dalam pengelolaan Bandung Zoo. Peran mereka tetap penting, terutama selama masa penutupan, ketika kawasan harus dijaga dan kebutuhan perawatan satwa harus terus dipenuhi. Menjaga kebersihan lingkungan, memastikan kondisi area tetap terawat, serta mendukung pemantauan dan pemeliharaan satwa merupakan pekerjaan yang membutuhkan ketekunan dan pengetahuan lapangan. Kontribusi tersebut menjadi bagian dari kesinambungan pengelolaan, sekaligus menunjukkan bahwa keberlangsungan Bandung Zoo tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik kawasan.

Pengalaman para pekerja sebelumnya juga menjadi unsur penting dalam memahami kebutuhan kawasan dan satwa secara lebih dekat. Karena itu, penataan pengelolaan baru perlu dibangun dengan menghargai pekerjaan yang telah berlangsung serta memperkuat kapasitas organisasi ke depan. Kesiapan organisasi akan membantu memastikan perawatan satwa tetap berjalan secara berkesinambungan, sementara kawasan menjalani proses revitalisasi. Dengan hubungan yang selaras tim pengelola, perawatan satwa, dan penataan kawasan, proses menuju pengelolaan Bandung Zoo yang berkelanjutan dapat terus dilanjutkan secara bertanggung jawab.