Khofifah Dorong Santri Pramuka Jadikan Menanam Pohon sebagai Kebiasaan

oleh -34 Dilihat
oleh
Khofifah Dorong Santri Pramuka Jadikan Menanam Pohon sebagai Kebiasaan

KOTA MALANG, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak para santri pramuka peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI 2026 untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Ajakan tersebut disampaikan sebagai dorongan agar kegiatan menanam pohon tidak berhenti sebagai aktivitas dalam perkemahan, melainkan berkembang menjadi kebiasaan yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Khofifah, menjaga kelestarian alam merupakan tanggung jawab bersama yang perlu dilakukan secara berkelanjutan. Para santri pramuka dinilai memiliki peran penting dalam menyebarkan kesadaran lingkungan di sekolah, pesantren, keluarga, dan masyarakat. Melalui tindakan sederhana seperti menanam serta merawat pohon, mereka dapat ikut menjaga ketersediaan udara bersih, memperkuat ekosistem, dan mengurangi risiko kerusakan lingkungan.

Khofifah menegaskan bahwa kesadaran untuk menjaga lingkungan perlu ditanamkan sejak dini. Pendidikan mengenai kepedulian terhadap alam akan lebih bermakna apabila disertai praktik yang dilakukan berulang-ulang. Dengan demikian, kepedulian tersebut dapat tumbuh menjadi karakter dan kebiasaan baik yang diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Upaya membangun kesadaran lingkungan diwujudkan melalui kegiatan nyata berupa penanaman 1.000 pohon di lokasi PPSN VI, Pondok Pesantren Wisata An-Nur 2 Al-Murtadlo, Kabupaten Malang. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari dorongan agar kepedulian terhadap alam tidak berhenti sebagai pesan, tetapi diterapkan melalui kebiasaan yang dapat dilakukan secara langsung. Penanaman pohon di lingkungan tersebut juga menunjukkan bahwa ruang pendidikan dan pembinaan santri dapat menjadi tempat untuk menumbuhkan perhatian terhadap keberlanjutan lingkungan.

Komposisi tanaman yang ditanam disusun dalam jumlah yang beragam. Sebanyak 300 batang pohon mangga ditanam di lokasi tersebut, disertai 300 batang pohon pule dan 300 batang pohon tabebuya. Selain itu, terdapat 100 batang pohon maja yang turut menjadi bagian dari penanaman. Dengan demikian, keseluruhan tanaman yang disiapkan berjumlah 1.000 batang pohon. Keberagaman jenis tersebut memperkaya pilihan tanaman yang hadir di kawasan PPSN VI sekaligus mendukung upaya menjadikan lingkungan pesantren lebih hijau.

Khofifah menyebut pemilihan tanaman tersebut telah dikoordinasikan karena disesuaikan dengan kondisi topografi tanah di lokasi. Pertimbangan itu menunjukkan bahwa kegiatan penanaman dilakukan dengan memperhatikan karakter kawasan, bukan sekadar mengejar jumlah pohon yang ditanam. Kesesuaian jenis tanaman dan kondisi tanah menjadi bagian dari upaya agar penanaman dapat memberikan manfaat lingkungan secara lebih baik dan berkelanjutan.

Penanaman 1.000 pohon ini juga memiliki makna edukatif. Santri Pramuka dapat melihat secara langsung bahwa menjaga lingkungan memerlukan tindakan yang konsisten dan dilakukan bersama melalui kebiasaan sederhana, termasuk menanam serta merawat pohon. Kehadiran pohon mangga, pule, tabebuya, dan maja di lokasi PPSN VI menjadi simbol bahwa kepedulian lingkungan dapat dimulai dari kawasan pendidikan. Melalui kegiatan tersebut, pesan untuk menjadikan menanam pohon sebagai kebiasaan memperoleh bentuk yang konkret dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kegiatan penanaman pohon bagi santri pramuka tidak sekadar menjadi agenda penghijauan, tetapi juga sarana pendidikan lingkungan yang bersifat langsung dan mudah dipahami. Melalui kegiatan ini, para peserta belajar bahwa menjaga keberlanjutan kehidupan di bumi dapat dimulai dari tindakan sederhana, seperti menanam, menyiram, dan merawat pohon secara konsisten. Pengalaman tersebut menumbuhkan kesadaran bahwa lingkungan bukan hanya untuk dimanfaatkan, melainkan juga harus dijaga bersama.

Khofifah mendorong agar kebiasaan menanam pohon terus dibangun di kalangan santri pramuka. Menurut gagasan yang disampaikan, seluruh peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI turut melakukan sedekah oksigen ketika menanam dan merawat pohon. Istilah tersebut menggambarkan manfaat jangka panjang dari tindakan mereka. Pohon yang tumbuh sehat akan menghasilkan oksigen yang dibutuhkan manusia dan makhluk hidup lainnya, sehingga kebaikan yang dilakukan peserta dapat dirasakan oleh banyak pihak.

Pesan edukatif itu juga berkaitan dengan peran pohon dalam menghadapi persoalan perubahan iklim. Pohon yang dirawat dengan baik mampu menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan menyimpannya dalam bentuk biomassa, seperti batang, cabang, daun, serta akar. Karena itu, penanaman pohon bukan hanya memperindah lingkungan, tetapi juga membantu mengurangi jumlah karbon dioksida yang berada di udara. Perawatan setelah penanaman menjadi bagian penting agar manfaat tersebut dapat berlangsung secara optimal.

Dengan demikian, ajakan Khofifah menempatkan kegiatan menanam pohon sebagai langkah nyata yang dapat dilakukan generasi muda untuk meningkatkan cadangan karbon. Semakin banyak pohon yang ditanam dan dipelihara, semakin besar pula potensi penyerapan karbon dioksida. Upaya ini mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca sekaligus membentuk karakter santri yang peduli, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Kebiasaan tersebut diharapkan tidak berhenti selama kegiatan PPSN VI, tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di pesantren dan masyarakat.

Kegiatan menanam pohon yang dilakukan para santri pramuka dipandang sebagai bagian dari komitmen Indonesia dalam menjaga kelestarian lingkungan. Khofifah menyampaikan bahwa komitmen tersebut sejalan dengan Persetujuan Paris yang telah diratifikasi Indonesia pada 2016. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya perlu ditempatkan sebagai wacana, tetapi juga diterjemahkan melalui tindakan yang dapat dilakukan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut sekaligus mendukung penguatan kebijakan pelestarian lingkungan melalui Jatim Lestari, yang menjadi bagian dari Nawa Bhakti Satya. Kebijakan ini menegaskan pentingnya membangun kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan secara berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, kegiatan sederhana seperti menanam pohon memiliki arti penting karena dapat menjadi sarana untuk membiasakan generasi muda berperan dalam merawat lingkungan di sekitarnya.

Khofifah mengingatkan agar kecintaan terhadap lingkungan tidak berhenti sebagai pengetahuan yang dipahami, melainkan diwujudkan menjadi kebiasaan. Menanam dan merawat pohon merupakan contoh tindakan sederhana yang dapat dilakukan secara konsisten, baik secara bersama-sama maupun di lingkungan tempat tinggal masing-masing. Dengan demikian, pemahaman yang diperoleh dalam kegiatan pramuka dapat hadir dalam praktik keseharian, bukan hanya dalam rangkaian kegiatan tertentu.

Ia berharap pengalaman yang diperoleh para santri pramuka selama mengikuti PPSN VI di Malang dapat diteruskan ketika mereka kembali ke tempat tinggal masing-masing. Pesan itu mencakup semangat untuk menjaga kepedulian terhadap lingkungan dan membiasakan tindakan nyata sesuai kapasitas mereka. Pengalaman menanam pohon diharapkan menjadi pengingat bahwa pelestarian lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana, dilakukan secara teratur, serta diterapkan di lingkungan sekitar.