Aksi Warga Lingkar Tambang Berujung Ricuh, Kendaraan dan Fasilitas Tambang di Blok Matarape Rusak

oleh -34 Dilihat
oleh

KONAWE UTARA — Situasi di kawasan pertambangan Blok Matarape, wilayah perbatasan Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, dan Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, memanas setelah aksi warga pada Jumat, 2 Oktober 2026, berujung bentrokan. Kericuhan terjadi di tengah protes masyarakat lingkar tambang terhadap aktivitas operasional PT Anugrah Sakti Konstruksi (Askon).

Ketegangan di lapangan bermula ketika warga Desa Matarape melakukan pemblokiran terhadap jalur hauling yang digunakan kendaraan pengangkut material. Aksi tersebut merupakan bentuk protes atas kondisi jalan yang dinilai menimbulkan persoalan bagi warga sekitar. Debu dari lalu lintas kendaraan tambang disebut terus beterbangan dan masuk ke kawasan permukiman.

Situasi kemudian berkembang menjadi benturan antara massa aksi dan pekerja perusahaan. Informasi di lapangan menyebutkan, dua kendaraan operasional milik warga yang digunakan dalam aksi pemblokiran diduga mengalami kerusakan setelah terkena alat berat jenis ekskavator. Peristiwa itu disebut menjadi salah satu pemicu meningkatnya emosi massa.

Kericuhan selanjutnya melebar ke kawasan perbatasan Desa Lameruru. Massa dalam jumlah besar bergerak ke sejumlah titik di sekitar area konsesi. Dalam situasi yang semakin tidak terkendali, terlihat aksi perusakan terhadap kendaraan serta fasilitas operasional perusahaan. Sejumlah massa dilaporkan membawa batu, kayu, dan senjata tajam ketika bentrokan berlangsung.

Dampak kerusuhan juga disebut menjalar hingga kawasan konsesi pertambangan nikel PT Kacci Purnama Indah (KPI). Sejumlah kendaraan operasional jenis Light Vehicle dilaporkan dirusak dan dibakar. Puluhan dump truck yang digunakan untuk mengangkut ore nikel turut menjadi sasaran, sementara fasilitas pos keamanan di sekitar lokasi juga mengalami kerusakan.

Di tengah situasi tersebut, aparat kepolisian melakukan pengamanan untuk mengendalikan massa dan mencegah kericuhan meluas. Rekaman video yang beredar di masyarakat juga memperlihatkan sejumlah tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok meninggalkan kawasan konsesi menuju bandara dengan pengawalan aparat. Namun, detail mengenai alasan dan jumlah TKA yang dievakuasi masih memerlukan konfirmasi resmi dari pihak berwenang maupun perusahaan.

Bentrokan tersebut menyebabkan sejumlah orang dilaporkan mengalami luka-luka. Hingga Senin, 5 Oktober 2026, belum terdapat keterangan resmi yang memastikan jumlah korban maupun tingkat luka yang dialami masing-masing pihak. Peristiwa di Blok Matarape kini menjadi perhatian karena memperlihatkan kembali tingginya tensi antara aktivitas pertambangan, kepentingan operasional perusahaan, dan tuntutan masyarakat di wilayah lingkar tambang.

Pewarta: Abdul Latif