Asap Tebal Hambat Operasi Lima Helikopter Pemadam Karhutla di Sumatera Selatan

oleh -63 Dilihat
oleh
Asap Tebal Hambat Operasi Lima Helikopter Pemadam Karhutla di Sumatera Selatan

Palembang | Lima helikopter water bombing yang tergabung dalam Satuan Tugas Udara Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) tidak dapat mengudara untuk membantu penanganan kebakaran di Sumatera Selatan. Armada bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tersebut sebelumnya telah disiapkan dalam kondisi siaga di Palembang, sehingga dapat segera dikerahkan ketika titik api membutuhkan penanganan dari udara. Namun, rencana penerbangan pada Selasa, 13 Oktober 2026, harus dibatalkan setelah jarak pandang kembali menurun akibat kepungan asap.

Penurunan jarak pandang menjadi kendala serius bagi operasi penerbangan, terutama karena helikopter perlu bergerak menuju wilayah terdampak, mengambil air, lalu menjatuhkannya secara tepat di sekitar titik api. Kondisi atmosfer yang dipenuhi asap dapat menyulitkan kru dalam mengenali medan, menentukan arah, serta menjaga keselamatan selama proses lepas landas, menuju lokasi, dan kembali ke pangkalan. Karena faktor keselamatan menjadi pertimbangan utama, seluruh armada belum dapat menjalankan misi pemadaman meskipun telah berada dalam status siaga.

Pembatalan penerbangan tersebut berdampak langsung terhadap upaya pengendalian karhutla dari udara. Helikopter water bombing semestinya membantu mempercepat pemadaman pada area yang sulit dijangkau melalui jalur darat, sekaligus menekan kemungkinan api meluas ke lahan di sekitarnya. Untuk sementara, penanganan tetap bergantung pada pemantauan kondisi cuaca dan kualitas udara, kesiapan personel darat, serta perbaikan jarak pandang. Operasi penerbangan akan dipertimbangkan kembali setelah situasi dinilai cukup aman bagi kru dan peralatan yang dikerahkan.

Kepala Balai Penanggulangan Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menjelaskan bahwa lima helikopter pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan belum dapat menjalankan penerbangan sesuai rencana. Armada tersebut sebenarnya telah dijadwalkan menuju sejumlah titik yang dilaporkan mengalami kebakaran. Namun, asap tebal yang menyelimuti wilayah operasi menyebabkan jarak pandang turun secara signifikan. Kondisi itu membuat penerbangan dinilai tidak aman sehingga misi harus ditunda demi melindungi keselamatan kru, peralatan, serta masyarakat di sekitar lokasi.

Menurut Ferdian, helikopter sempat berada dalam kondisi siap terbang pada pagi hari. Persiapan dilakukan agar pemadaman dari udara dapat segera dilaksanakan ketika situasi memungkinkan. Akan tetapi, jarak pandang kembali memburuk akibat kepungan asap. Tim pun harus mengulang berbagai persiapan operasional dan menunggu perkembangan cuaca serta kondisi atmosfer sebelum mengambil keputusan penerbangan. Penundaan tersebut bukan berarti operasi dihentikan, melainkan merupakan langkah pengamanan untuk memastikan setiap penerbangan berlangsung berdasarkan penilaian risiko yang memadai.

Pemadaman melalui udara memiliki peran penting dalam penanganan karhutla, terutama untuk menjangkau area yang sulit didatangi oleh tim darat. Helikopter dapat membawa air dan menjatuhkannya secara langsung ke titik api atau wilayah yang akses jalannya terbatas. Meski demikian, permintaan pelaksanaan water bombing tetap menunggu perbaikan jarak pandang. Dengan visibilitas yang terbatas, penerbangan menuju lokasi kebakaran berpotensi menghadirkan risiko tambahan dan mengurangi ketepatan penjatuhan air. Karena itu, perkembangan kondisi lapangan terus dipantau sebelum armada dikerahkan kembali.

Menurut keterangan Ferdian, gangguan penerbangan akibat asap tebal telah berlangsung sejak Kamis, 8 Oktober. Sejak saat itu, jarak pandang di sekitar lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengalami perubahan yang cepat. Kondisi tersebut tidak berada pada tingkat yang sama sepanjang waktu. Dalam satu periode, jarak pandang dapat membaik sehingga penerbangan masih memungkinkan, tetapi kemudian kembali menurun dalam waktu singkat.

Perubahan visibility menjadi pertimbangan utama dalam menentukan keamanan operasi helikopter pemadam. Ketika pandangan di sekitar lokasi kejadian cukup terbuka, penerbangan water bombing dapat dilakukan dengan tetap memperhatikan kondisi yang tersedia. Namun, saat asap kembali menebal dan menutup kawasan karhutla, pelaksanaan penerbangan harus dipertimbangkan secara hati-hati. Naik-turunnya jarak pandang membuat keputusan operasional tidak dapat ditetapkan secara seragam untuk setiap waktu.

Penerbangan water bombing sempat dilakukan dari Bangka Belitung. Kendati demikian, pelaksanaan tersebut belum memberikan hasil yang optimal karena langit di sekitar titik karhutla tertutup asap tebal. Asap yang menghalangi pandangan membuat proses penerbangan dan penjatuhan air tidak dapat berlangsung dalam kondisi yang ideal. Situasi ini menunjukkan bahwa tersedianya helikopter belum otomatis menjamin operasi pemadaman dapat berjalan maksimal.

Dalam beberapa hari, kondisi jarak pandang bahkan tidak memungkinkan helikopter mengudara sama sekali. Pembatasan tersebut berkaitan langsung dengan tingkat visibility di lokasi kejadian yang terus berubah. Karena itu, operasi lima helikopter pemadam karhutla di Sumatera Selatan berlangsung dengan menyesuaikan kondisi penerbangan dari waktu ke waktu. Selama asap masih dapat menutup area kebakaran secara cepat, keselamatan penerbangan dan penilaian terhadap jarak pandang tetap menjadi dasar utama sebelum setiap operasi udara dilakukan.

Meski lima helikopter pemadam kebakaran belum dapat menjalankan operasi water bombing akibat asap tebal, penanganan kebakaran hutan dan lahan tetap dilakukan oleh Satuan Tugas (Satgas) Darat. Personel di lapangan terus bergerak untuk memantau titik api, melakukan pemadaman secara langsung, serta mencegah kobaran meluas ke area sekitarnya. Upaya tersebut menjadi bagian dari respons terhadap kondisi karhutla yang masih memerlukan pengawasan intensif di sejumlah wilayah Sumatera Selatan.

Fokus penanganan Satgas Darat mencakup Kabupaten Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, dan Muara Enim. Keempat wilayah itu memiliki titik-titik yang perlu ditangani dengan menyesuaikan kondisi medan dan akses menuju lokasi. Personel harus menjangkau area yang tidak selalu mudah dilalui kendaraan, terutama ketika titik api berada di lahan gambut, kawasan semak, atau wilayah yang jauh dari jalur utama. Situasi tersebut membuat proses pemadaman memerlukan waktu, tenaga, dan koordinasi antarunsur di lapangan.

Kendala lain muncul dari semakin terbatasnya ketersediaan air. Sejumlah sungai dan kanal mulai mengering sehingga sumber air untuk mendukung pemadaman menjadi lebih sulit diperoleh. Kondisi ini membatasi pilihan petugas ketika harus mengisi peralatan atau membawa air ke lokasi kebakaran. Medan yang berat juga dapat memperlambat mobilisasi personel dan perlengkapan, khususnya pada area dengan akses terbatas. Hambatan medan serta berkurangnya sumber air tersebut disampaikan sebagai kendala yang dihadapi dalam proses pemadaman karhutla di empat wilayah tersebut, sementara Satgas Darat tetap melaksanakan penanganan di titik-titik yang terpantau.

Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | TNI Perkuat Penanganan Karhutla di Melawi, Salurkan Peralatan Pemadam kepada Masyarakat | Hercules TNI AU Mendarat di Lanud Sjamsudin Noor Bawa Kekuatan Baru dari Kemhan RI, Penanganan Karhutla Kalimantan Selatan Kian Diperkuat