
JAKARTA — BERSATHU mendorong perusahaan travel Umrah memperkuat profesionalisme, tata kelola dan kemitraan strategis untuk menghadapi persaingan industri serta meningkatnya tuntutan kepatuhan dalam penyelenggaraan perjalanan ibadah Umrah.
Dorongan tersebut mengemuka dalam BERSATHU Executive Summit 2026 yang digelar pada 7–8 Oktober 2026 di Arosa Hotel Jakarta. Mengusung tema “Growth • Partnership • Governance”, forum ini mempertemukan owner dan decision maker perusahaan travel Umrah, praktisi industri serta mitra strategis.
Kegiatan tersebut berlangsung di tengah langkah pemerintah memperketat pengawasan terhadap penyelenggara perjalanan ibadah Umrah. Kementerian Haji dan Umrah sebelumnya menyatakan akan melakukan verifikasi terhadap sekitar 3.900 travel Umrah untuk memastikan kepatuhan, legalitas dan rekam jejak penyelenggara.
Diketahui, Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan pemerintah belum membuka izin baru bagi travel Umrah dan memilih melakukan verifikasi menyeluruh terhadap penyelenggara yang telah ada.
“Pasti, kami akan verifikasi ketat. Mana yang punya track record buruk akan kami blokir atau kami cabut izinnya,” tegas Dahnil dalam pemberitaan ANTARA, Rabu (2/9/2026).
Menurut Wamenhaj, verifikasi dilakukan antara lain karena pemerintah masih menemukan penyelenggara yang tidak memiliki izin sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) serta kasus yang merugikan jemaah.
BERSATHU Dorong Travel Tumbuh dengan Tata Kelola
Sekretaris Jenderal BERSATHU H. Sulton mengatakan penguatan pengawasan pemerintah perlu menjadi momentum bagi pelaku industri untuk membenahi perusahaan dari sisi legalitas, pelayanan, manajemen dan tata kelola.
“Kami melihat arah pembenahan yang dilakukan Kementerian Haji dan Umrah sebagai momentum yang baik bagi industri. Travel yang ingin tumbuh ke depan tidak cukup hanya kuat dalam penjualan, tetapi juga harus kuat dalam legalitas, pelayanan, manajemen, transparansi dan tata kelola,” ujar H. Sulton.
Ia menilai industri Umrah memasuki fase baru ketika persaingan bisnis semakin kuat, perilaku konsumen berubah cepat dan teknologi digital semakin dominan. Kondisi tersebut menuntut perusahaan tidak hanya mengejar pertumbuhan tetapi juga membangun sistem bisnis yang sehat dan berkelanjutan.
“Kami tentu ingin anggota BERSATHU bertumbuh, mendapatkan lebih banyak jemaah dan semakin kuat secara bisnis. Tetapi growth saja tidak cukup. Pertumbuhan harus ditopang oleh governance yang baik dan partnership yang sehat. Karena pada akhirnya bisnis Haji dan Umrah adalah bisnis kepercayaan,” ungkapnya.
Strategi Digital Berbasis Trust
Salah satu agenda Executive Summit adalah “Umrah Growth System — From Content to Closing” yang menghadirkan Anas Al Fajri, B.A., Direktur Utama Taiba Medina Tour, bersama Naufal Ahmad Hanifian, praktisi Meta Ads.
Materi mencakup positioning dan USP travel Umrah, strategi konten, trust building, creative advertising, Meta Ads, lead generation, WhatsApp funnel hingga conversion tracking dan optimalisasi.
BERSATHU menekankan bahwa strategi pemasaran digital harus tetap mengedepankan tanggung jawab dan kepercayaan jemaah.
“Digital marketing boleh semakin canggih, teknologi boleh semakin maju dan closing boleh semakin tinggi. Tetapi jangan pernah mengorbankan trust. Amanah kepada jemaah harus menjadi fondasi setiap pertumbuhan perusahaan travel,” tegas H. Sulton.
Perkuat Partnership dengan CIMB Niaga Syariah
Penguatan bisnis juga dibahas melalui Partnership Session: Exclusive Business Lunch with CIMB Niaga Syariah.
Forum tersebut membahas solusi keuangan bagi perusahaan travel, termasuk corporate card dan instrumen pendukung pengelolaan perusahaan secara lebih profesional.
BERSATHU menilai penguatan industri Haji dan Umrah membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, asosiasi dan perbankan hingga maskapai, penyedia layanan serta pelaku industri lainnya.
Association Forum Bahas Kepatuhan dan Tata Kelola
Agenda lainnya adalah BERSATHU Association Forum yang membahas hukum perserikatan, hak dan kewajiban anggota, tata kelola organisasi serta arah pengembangan asosiasi.
Forum ini sekaligus menjadi bagian dari upaya BERSATHU meningkatkan kapasitas dan kepatuhan anggotanya.
“Asosiasi jangan hanya hadir ketika anggota mempunyai masalah. BERSATHU harus hadir sebelum persoalan terjadi melalui edukasi, penguatan kapasitas, tata kelola, kolaborasi dan peningkatan standar profesional anggotanya,” ujar H. Sulton.
BERSATHU Siap Bersinergi dengan Pemerintah
H. Sulton menegaskan BERSATHU siap menjadi mitra strategis dan konstruktif pemerintah dalam pembenahan ekosistem Haji dan Umrah.
“BERSATHU siap bersinergi dengan Kementerian Haji dan Umrah. Kami mendukung penguatan pengawasan dan tata kelola sepanjang orientasi akhirnya adalah menghadirkan industri yang sehat, memberikan kepastian kepada pelaku usaha yang taat dan yang terutama melindungi jemaah,” ungkapnya.
Melalui Executive Summit 2026, BERSATHU menargetkan penguatan kapasitas anggota tidak berhenti pada aspek pemasaran, tetapi juga menghasilkan perusahaan travel yang profesional, taat regulasi dan berkelanjutan.
“Kita mungkin berasal dari perusahaan yang berbeda dan berkompetisi di pasar yang sama. Tetapi kita mempunyai kepentingan yang jauh lebih besar yaitu menjaga kepercayaan masyarakat terhadap industri Haji dan Umrah Indonesia,” katanya.
BERSATHU menyatakan akan melanjutkan program pengembangan kapasitas anggota, kemitraan strategis, edukasi regulasi serta forum koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
“Kita tumbuh bersama, kita menguatkan industri bersama dan kita menjaga amanah jemaah bersama,” pungkas H. Sulton. (***)
