BI Perkuat Intervensi saat Rupiah Menyentuh Rp18.000 per Dolar AS

oleh -75 Dilihat
oleh

Jakarta | Bank Indonesia meningkatkan intervensi di pasar keuangan pada Jumat, 16 Oktober 2026, ketika rupiah mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat sejak awal perdagangan. Tekanan tersebut tercermin dari kurs rupiah yang dibuka melemah 0,33% ke Rp17.980 per dolar AS. Pergerakan itu menempatkan nilai tukar sangat dekat dengan Rp18.000 per dolar AS, level yang menjadi perhatian pelaku pasar dan masyarakat. Respons bank sentral berupa penguatan langkah stabilisasi di pasar keuangan, sebagai upaya meredam tekanan serta menjaga agar pergerakan rupiah berlangsung teratur.

Pada pukul 09.02 WIB, pelemahan rupiah bertambah menjadi 0,45%, sementara nilai tukar menyentuh Rp18.000 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan tekanan yang meningkat dibandingkan posisi pembukaan, dalam rentang waktu awal perdagangan yang relatif singkat. Pergerakan ini menandai situasi yang memerlukan perhatian otoritas moneter, terutama ketika kurs mencapai level psikologis tersebut. Informasi yang tersedia menggambarkan kondisi rupiah pada pembukaan dan pada pukul 09.02 WIB; perkembangan nilai tukar setelah waktu itu tidak disertakan.

Intervensi Bank Indonesia berlangsung saat tekanan terhadap rupiah terlihat pada perdagangan awal. Langkah di pasar keuangan tersebut menjadi bagian dari respons untuk mendukung stabilitas nilai tukar, tanpa mengubah fakta bahwa rupiah telah melemah dari posisi pembukaan hingga menyentuh Rp18.000 per dolar AS. Perbedaan pelemahan 0,33% saat dibuka dan 0,45% pada pukul 09.02 WIB memberikan gambaran mengenai perubahan kurs dalam periode yang disebutkan. Karena catatan ini terbatas pada waktu tersebut, kondisi pasar sesudahnya tidak dapat disimpulkan dari angka yang ada. Dengan demikian, fokus peristiwa pada Jumat pagi itu adalah tekanan awal terhadap rupiah dan peningkatan intervensi bank sentral di pasar keuangan.

Di tengah tekanan ketika nilai tukar rupiah mendekati Rp18.000 per dolar AS, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk hadir di pasar valuta asing. Kehadiran tersebut ditujukan untuk menjaga stabilitas rupiah dan memastikan pergerakannya tetap sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi. Intervensi juga diarahkan untuk membantu mekanisme pasar berjalan dengan baik, bukan menggantikan peran pasar dalam membentuk nilai tukar. Dengan demikian, langkah bank sentral menjadi bagian dari upaya meredam gejolak yang berlebihan sekaligus menjaga proses transaksi tetap tertib.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyampaikan bahwa bank sentral menggunakan sejumlah instrumen di pasar offshore maupun domestik. Di pasar offshore, BI melakukan transaksi non-deliverable forward (NDF). Instrumen ini memungkinkan pengelolaan eksposur nilai tukar melalui kontrak berjangka yang penyelesaiannya dilakukan secara neto, tanpa penyerahan mata uang secara fisik. Aktivitas di pasar tersebut melengkapi langkah yang dilakukan di dalam negeri, sehingga respons BI dapat menjangkau beberapa segmen pasar yang memengaruhi dinamika rupiah.

Di pasar domestik, instrumen yang digunakan mencakup transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF). Transaksi spot berkaitan dengan pertukaran valuta asing pada waktu penyelesaian yang dekat, sedangkan DNDF merupakan kontrak berjangka rupiah yang diselesaikan dalam mata uang rupiah. Selain instrumen valuta asing, BI juga melakukan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder. Pembelian ini merupakan bagian dari langkah stabilisasi melalui pasar surat berharga. Kombinasi NDF offshore, transaksi spot dan DNDF domestik, serta pembelian SBN memberi BI pilihan untuk merespons tekanan sesuai kondisi pasar. Seluruh instrumen tersebut mendukung tujuan menjaga rupiah agar bergerak sesuai fundamental dan mempertahankan kelancaran mekanisme pasar saat tekanan meningkat.

Erwin menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah pada hari itu terjadi di tengah meningkatnya sentimen risk-off di pasar global. Dalam situasi tersebut, pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur terhadap aset yang dipandang berisiko dan mencari instrumen yang dianggap lebih aman. Perubahan preferensi ini turut mendorong penguatan dolar Amerika Serikat (AS), sehingga mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan. Perkembangan global tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan domestik ketika nilai tukar rupiah melemah.

Penguatan dolar AS dalam suasana risk-off juga dapat memengaruhi keputusan investor terhadap aset di berbagai negara. Ketika ketidakpastian meningkat, investor dapat menyesuaikan portofolio dan mengurangi kepemilikan pada aset pasar domestik. Erwin memperkirakan kondisi tersebut membuat arus keluar dana dari aset portofolio domestik masih berlanjut. Perkiraan itu mencerminkan bahwa tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda, meskipun besarnya aliran dana dapat berubah mengikuti perkembangan sentimen dan keputusan pelaku pasar. Dengan demikian, dinamika nilai tukar dan pasar keuangan domestik tetap berkaitan dengan perubahan kondisi global.

Erwin juga menyampaikan bahwa pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan. Tekanan yang terjadi pada rupiah berlangsung dalam konteks pelemahan mata uang regional di tengah penguatan dolar AS, bukan sebagai pergerakan yang sepenuhnya terpisah dari perkembangan tersebut. Secara quarter-to-date (QTD), pelemahan rupiah tercatat terbatas sebesar 0,28%. Angka tersebut menggambarkan perubahan nilai rupiah sepanjang periode berjalan pada kuartal ini, sesuai ukuran yang disampaikan. Keterangan mengenai pergerakan mata uang kawasan dan capaian QTD tersebut melengkapi penjelasan tentang tekanan pasar pada hari itu, sementara sentimen risk-off global dan arus portofolio menjadi bagian dari kondisi yang diperkirakan masih memengaruhi pasar domestik.

Di tengah tekanan nilai tukar dan pergerakan rupiah yang menyentuh Rp18.000 per dolar AS, Bank Indonesia menyampaikan bahwa cadangan devisa tetap terjaga. Erwin menyatakan posisi cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026. Angka tersebut disampaikan sebagai bagian dari penjelasan BI mengenai kondisi eksternal ketika tekanan terhadap mata uang domestik masih menjadi perhatian. Cadangan devisa merupakan salah satu indikator yang dipantau dalam melihat kemampuan negara memenuhi kewajiban luar negeri. Dalam keterangan ini, BI menekankan posisi cadangan devisa pada akhir periode tersebut, tanpa menguraikan perubahan lebih lanjut. Penyebutan angka itu memberi gambaran mengenai besaran cadangan yang dimiliki Indonesia pada waktu yang disebutkan.

Selain menyampaikan posisi cadangan devisa, BI menjelaskan langkah-langkah yang dijalankan untuk menjaga kecukupan likuiditas. Pengelolaan likuiditas menjadi perhatian dalam merespons tekanan di pasar keuangan, termasuk ketika nilai tukar bergerak tajam. BI juga mengelola struktur suku bunga di pasar uang sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi pasar. Langkah tersebut disampaikan bersama keterangan mengenai cadangan devisa dan tidak disertai rincian tambahan tentang sasaran angka maupun jangka waktu pelaksanaannya. Penjelasan BI berfokus pada perangkat pengelolaan yang digunakan di tengah kondisi pasar yang berkembang. Dengan demikian, keterangan yang disampaikan mencakup kecukupan likuiditas dan struktur suku bunga, selain posisi cadangan devisa pada akhir September 2026. BI tidak menguraikan ukuran khusus untuk setiap langkah tersebut dalam keterangan yang dirujuk.

Di luar pengelolaan likuiditas dan suku bunga, BI menyatakan terus berkoordinasi serta berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya. Komunikasi tersebut berlangsung di tengah tekanan nilai tukar dan menjadi bagian dari langkah yang disampaikan bank sentral. Koordinasi dengan korporasi dan pelaku pasar memungkinkan BI berinteraksi langsung dengan berbagai pihak yang mengikuti perkembangan pasar, sementara pihak terkait lainnya juga termasuk dalam cakupan komunikasi. BI menyampaikan langkah-langkah ini bersamaan dengan informasi mengenai cadangan devisa yang tetap terjaga sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026.

Baca juga: Kapolda PBD Sambangi Kodaeral XIV Sorong, Perkuat Sinergi Keamanan Makin Solid dan Jaga Stabilitas Wilayah | Cooling System dan DDS, Aipda S. Hamdi Sambangi Desa Cikupa Perkuat Kamtibmas | Kapolres Maybrat Sambangi Pemda Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas Bersama