Jakarta | Wakil Menteri Kesehatan Benjamin P. Octavianus mendorong penguatan kerja sama pemerintah dan Universitas Kristen Indonesia (UKI) dalam menyiapkan sumber daya manusia kesehatan yang unggul. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk menjawab kebutuhan layanan kesehatan yang terus berkembang sekaligus mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045. Benjamin menyampaikan dorongan itu saat berada di UKI, Jakarta, pada Jumat. Ia menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membentuk tenaga kesehatan yang kompeten, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Sementara itu, pemerintah bertanggung jawab merumuskan arah kebijakan serta membangun sistem yang memungkinkan tenaga kesehatan memberikan pelayanan secara optimal kepada masyarakat.
Dalam pemaparannya, Benjamin menyebut sejumlah prioritas Kementerian Kesehatan yang perlu menjadi perhatian bersama. Prioritas pertama adalah meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, termasuk melalui upaya yang mendukung kondisi kesehatan yang lebih baik. Kedua, pemerintah berupaya mewujudkan pemerataan layanan kesehatan yang berkeadilan agar masyarakat di berbagai wilayah dapat memperoleh akses yang layak. Agenda tersebut berkaitan dengan kebutuhan untuk memperkuat layanan sekaligus mengurangi kesenjangan dalam pemanfaatan fasilitas dan tenaga kesehatan. Dengan demikian, pembangunan sektor kesehatan tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas, tetapi juga memastikan manfaatnya dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat.
Prioritas berikutnya ialah penguatan tenaga kesehatan dengan dukungan teknologi. Kemajuan teknologi dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan dan mendukung penyelenggaraan layanan. Namun, pemanfaatannya tetap membutuhkan sumber daya manusia yang terlatih serta kesiapan institusi pendidikan dan fasilitas kesehatan. Benjamin juga menyoroti pentingnya kolaborasi pemerintah, rumah sakit, dan masyarakat. Kerja bersama lintas pihak diperlukan agar kebijakan, pendidikan, dan kebutuhan pelayanan dapat saling terhubung. Bagi UKI, kemitraan dengan pemerintah dapat membuka ruang untuk menyelaraskan pembelajaran dan pengembangan kompetensi dengan tantangan di lapangan. Melalui koordinasi yang berkelanjutan, persiapan tenaga kesehatan diharapkan lebih terarah dan mampu mendukung sistem kesehatan yang kuat. Dorongan tersebut menempatkan kerja sama sebagai salah satu landasan dalam menyiapkan SDM kesehatan bagi Indonesia menuju 2045.
Benjamin menilai Indonesia akan memasuki momentum demografi penting pada 2030, ketika penduduk berusia produktif, yakni kelompok usia 15–64 tahun, mencapai proporsi puncak dalam struktur populasi. Perubahan ini membuka peluang besar bagi pembangunan nasional: lebih banyak warga dapat bekerja, berinovasi, membayar pajak, dan mendukung kesejahteraan keluarga. Namun, besarnya jumlah penduduk usia kerja tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan. Peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila masyarakat memiliki kondisi kesehatan yang baik, pendidikan memadai, serta keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.
Ia mengingatkan bahwa tanpa sumber daya manusia yang sehat dan kompeten, keunggulan demografi justru berisiko menjadi beban. Angkatan kerja yang bertambah, tetapi tidak terserap atau tidak mampu memenuhi kualifikasi pekerjaan, dapat meningkatkan pengangguran dan memperlebar kesenjangan sosial. Masalah kesehatan juga dapat mengurangi produktivitas, membatasi kesempatan seseorang untuk belajar maupun bekerja, dan menambah beban rumah tangga serta layanan publik. Karena itu, persiapan menuju 2030 perlu dilakukan sejak dini melalui investasi berkelanjutan pada kesehatan, pendidikan, pelatihan, dan penciptaan lapangan kerja yang layak.
Dalam konteks tersebut, Benjamin mengajak Universitas Kristen Indonesia (UKI) berperan aktif membangun sistem kesehatan yang kuat, adil, bermutu, dan tanggap terhadap tantangan masa depan. Peran perguruan tinggi tidak terbatas pada menyiapkan tenaga kesehatan dengan pengetahuan klinis, tetapi juga membentuk profesional yang memahami kebutuhan masyarakat, mampu bekerja lintas disiplin, dan menjunjung etika pelayanan. Kolaborasi UKI dengan pemerintah, fasilitas kesehatan, dan berbagai pemangku kepentingan dapat membantu menyelaraskan pendidikan dengan kebutuhan nyata di lapangan. Upaya bersama juga penting untuk memperluas akses pelayanan, meningkatkan mutu, serta memperkuat kapasitas tenaga kesehatan di berbagai wilayah. Dengan demikian, momentum demografi dapat diarahkan menjadi kekuatan pembangunan, bukan sekadar lonjakan jumlah pencari kerja. Generasi usia produktif yang sehat dan terampil akan lebih siap berkontribusi bagi masyarakat, sementara sistem kesehatan yang inklusif dapat menopang produktivitas mereka. Persiapan ini sekaligus mendukung cita-cita Indonesia menuju 2045 dengan memastikan pertumbuhan penduduk disertai peningkatan kualitas manusia dan pemerataan kesempatan. Bagi UKI, kontribusi tersebut menuntut komitmen jangka panjang, kurikulum yang relevan, serta kemitraan yang konsisten agar lulusan mampu menjawab perubahan kebutuhan layanan kesehatan dan tantangan nasional secara bertanggung jawab.Benjamin mengapresiasi kontribusi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI) dalam menyiapkan tenaga medis bagi masyarakat. Hingga 2025, fakultas tersebut telah meluluskan lebih dari 6.000 dokter. Jumlah itu mencerminkan perjalanan panjang lembaga pendidikan dalam membangun kapasitas sumber daya manusia kesehatan. Para lulusan tidak hanya bekerja di kota-kota besar, tetapi juga mengabdi di berbagai wilayah Indonesia, termasuk daerah yang membutuhkan pemerataan layanan. Sebagian dokter UKI turut menjalankan profesi di luar negeri. Sebaran pengabdian ini menunjukkan bahwa pendidikan kedokteran memiliki peran penting dalam memperkuat layanan, sekaligus memperluas kontribusi tenaga kesehatan Indonesia di tingkat nasional dan internasional.
Apresiasi terhadap capaian tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan tenaga medis yang terus berkembang. Benjamin menilai, peningkatan kualitas pendidikan perlu berjalan seiring dengan perluasan jenjang dan bidang keahlian. Dalam konteks itu, Kementerian Kesehatan mendukung rencana UKI untuk memiliki program pendidikan dokter spesialis pada masa mendatang. Dukungan pemerintah dapat menjadi landasan bagi perguruan tinggi untuk menyiapkan kurikulum, tenaga pengajar, fasilitas klinis, serta kemitraan rumah sakit yang memenuhi standar. Kehadiran program spesialis berpotensi menambah kapasitas pendidikan dokter ahli dan mendukung pemerataan layanan kesehatan. Perencanaannya tetap perlu dilakukan secara bertahap, dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat, kesiapan institusi, mutu pembelajaran, serta regulasi yang berlaku.
Selain pengembangan tenaga profesional, Benjamin menyerukan penguatan riset dan produksi vaksin di Indonesia, terutama untuk penyakit yang menjadi prioritas kesehatan. Upaya tersebut perlu melibatkan penelitian dalam negeri, pelaksanaan uji klinik yang memenuhi kaidah ilmiah dan etika, serta penguatan kapasitas nasional di bidang sains, teknologi, manufaktur, dan pengawasan. Kerja sama perguruan tinggi, pemerintah, fasilitas kesehatan, industri, dan lembaga riset dapat membantu membangun ekosistem yang berkelanjutan. Setiap vaksin yang dikembangkan harus melalui penilaian ketat agar terbukti aman dan efektif, serta dapat diakses dengan harga terjangkau. Dengan demikian, riset vaksin tidak hanya menjawab kebutuhan saat ini, tetapi juga mendukung kesiapsiagaan menghadapi ancaman kesehatan dan kemandirian nasional.
Rektor Universitas Kristen Indonesia (UKI), Angel Damayanti, menyampaikan bahwa Dies Natalis ke-73 bukan sekadar perayaan usia institusi, melainkan kesempatan untuk merefleksikan kembali nilai-nilai yang diwariskan para pendiri. Refleksi tersebut, menurutnya, penting agar perjalanan UKI ke depan tetap berpijak pada identitas dan cita-cita awal, sekaligus mampu menjawab perubahan kebutuhan masyarakat. Warisan institusi dapat menjadi landasan untuk menyiapkan langkah yang relevan, terbuka, dan berorientasi pada dampak.
Dalam pengembangan jejaring, UKI mencatat capaian kerja sama internasional pada 2025 berupa 54 kemitraan dengan perguruan tinggi luar negeri dan 33 kemitraan dengan lembaga nonperguruan tinggi dari luar negeri. Jaringan tersebut membuka ruang bagi pertukaran pengetahuan, penguatan kapasitas, serta peluang kolaborasi lintas negara. Kemitraan juga menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman sivitas akademika dan menghubungkan keunggulan UKI dengan kebutuhan yang berkembang di tingkat global.
Angel menjelaskan bahwa arah pengembangan institusi dalam periode kepemimpinannya ditopang empat pilar semangat UKI Emas, yaitu pemberdayaan, kebermanfaatan, kelincahan, dan keberlanjutan. Pemberdayaan mendorong warga kampus mengembangkan potensi dan berkontribusi secara aktif.
Baca juga: Inovasi BPJS Kesehatan Menuju Pelayanan yang Berkualitas | Pemerintah Jamin Keberlangsungan Stok Beras Amid Kemarau Panjang | Persija Jakarta Beralih Kandang di Tengah Persiapan Stadion

