Desainer dan Perajin Didorong Bawa Ulos Medan ke Pasar Lebih Luas

oleh -827 Dilihat
oleh
Desainer dan Perajin Didorong Bawa Ulos Medan ke Pasar Lebih Luas

Kota Medan | Ketua Dekranasda Kota Medan, Airin Waas, menyebut pelibatan desainer dan perajin berpengalaman sebagai langkah untuk memperluas pasar wastra lokal sekaligus mengenalkannya kepada masyarakat yang lebih luas. Pernyataan tersebut disampaikan dalam talkshow Medan Fashion Culture Festival 2026 di Medan, Sabtu. Kolaborasi pelaku kreatif dan perajin dinilai dapat membuka ruang bagi ulos serta produk tekstil tradisional Medan untuk tampil dalam bentuk yang lebih beragam, tanpa melepaskan nilai budaya yang melekat padanya.

Menurut Airin, kegiatan fesyen seperti festival dapat menjadi sarana memperkenalkan produk lokal kepada khalayak di tingkat nasional maupun internasional. Pertemuan desainer, perajin, dan masyarakat juga membantu memperlihatkan karakter serta potensi wastra Medan secara langsung. Dengan demikian, festival tidak hanya menjadi tempat memamerkan karya, tetapi juga kesempatan untuk membangun perhatian terhadap produk daerah dan mendorong interaksi pencipta, pelaku usaha, serta calon konsumen.

Pelibatan perajin setempat dalam proses pengembangan produk menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Desainer berpengalaman dapat membantu menghadirkan gagasan dan pendekatan baru, sementara pengetahuan perajin mengenai bahan, teknik, dan proses pembuatan menjadi landasan bagi karya yang memiliki identitas lokal. Kerja bersama ini diharapkan mendorong perajin mengembangkan produknya agar lebih beragam dan sesuai dengan kebutuhan pasar yang lebih luas. Pada saat yang sama, ulos dan wastra Medan tetap dapat diperkenalkan sebagai karya yang berakar pada tradisi. Melalui kegiatan fesyen, potensi tersebut dapat menjangkau masyarakat yang sebelumnya belum mengenal produk lokal Medan, serta memperoleh ruang untuk berkembang di pasar yang lebih luas.

Festival tahun ini mengangkat tema “Ulos in Innovation” dan menghadirkan sepuluh desainer, terdiri atas delapan desainer lokal serta dua desainer nasional. Keterlibatan mereka menjadi bagian dari upaya mempertemukan warisan tekstil Batak dengan gagasan desain yang relevan bagi kebutuhan masa kini. Melalui kolaborasi tersebut, ulos diharapkan tidak hanya tampil sebagai kain tradisional, tetapi juga memperoleh ruang baru dalam perkembangan produk dan industri fesyen.

Airin berharap keikutsertaan para desainer dalam agenda tahunan Dekranasda Kota Medan dapat mendorong lahirnya produk ulos yang lebih inovatif. Perancangan yang memperhatikan kualitas, bentuk, fungsi, dan selera konsumen dapat membuka peluang bagi kain ini untuk digunakan lebih luas. Ulos, misalnya, dapat diolah menjadi busana maupun berbagai produk fesyen modern tanpa melepaskan nilai budaya yang melekat padanya. Pendekatan tersebut juga berpotensi memperkenalkan ulos kepada kelompok konsumen yang sebelumnya belum banyak mengenal atau menggunakannya.

Menurut Airin, pengembangan ulos membutuhkan dukungan kegiatan fesyen yang memberi ruang bagi desainer untuk bereksperimen dan menampilkan karya. Agenda seperti festival dapat menjadi wadah untuk memperlihatkan beragam cara mengolah kain tradisional, sekaligus membangun perhatian publik terhadap potensi perajin dan produk lokal. Keterlibatan desainer dari tingkat nasional maupun internasional juga dipandang penting agar pertukaran ide dan jangkauan pengenalan ulos semakin luas.

Dengan demikian, tema “Ulos in Innovation” menempatkan inovasi sebagai salah satu jalan untuk memperkuat keberadaan ulos di tengah perubahan industri fesyen. Karya para desainer dapat membantu menghadirkan interpretasi baru, sedangkan keterlibatan perajin menjaga keterampilan dan proses pembuatan kain tetap menjadi bagian penting dari pengembangan produk. Airin berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti pada penyelenggaraan festival, tetapi berlanjut menjadi dorongan bagi pemanfaatan ulos secara berkesinambungan. Jika semakin banyak kegiatan fesyen yang melibatkan talenta lokal dan jejaring lebih luas, ulos Medan berpeluang dikenal oleh khalayak yang lebih beragam.Pemerintah Kota Medan mendorong perluasan pasar wastra melalui kegiatan pembinaan yang membantu desainer dan perajin meningkatkan mutu serta daya saing produk. Upaya ini tidak hanya berorientasi pada penjualan, tetapi juga memberi ruang bagi pelaku usaha untuk mengembangkan gagasan, memperkuat identitas karya, dan menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen masa kini. Dengan dukungan pembinaan yang berkelanjutan, wastra Medan, termasuk ulos dan ragam kain daerah lainnya, diharapkan dapat menjangkau pembeli yang lebih luas tanpa kehilangan nilai budaya yang melekat padanya. Pendekatan tersebut juga membuka peluang bagi pelaku usaha untuk mengenalkan cerita, teknik, dan makna di balik setiap karya kepada masyarakat.

Salah satu langkah yang telah dilakukan Pemkot Medan adalah meresmikan Galery Mustika Deli Dekranasda Kota Medan sebagai wadah bagi pelaku usaha untuk mengembangkan dan memperkenalkan produk. Galeri ini dapat menjadi ruang promosi yang mempertemukan karya para perajin dengan masyarakat, sekaligus mendorong produk lokal tampil lebih terkurasi dan mudah dikenali. Kehadirannya memberi peluang bagi desainer serta perajin untuk menampilkan variasi produk, menguji respons pasar, dan memperkuat citra wastra daerah. Dukungan semacam ini penting agar karya tradisional tidak hanya hadir dalam kegiatan budaya, tetapi juga memperoleh tempat dalam ekosistem usaha yang lebih luas dan berkelanjutan.

Airin juga menyampaikan rencana untuk menggelar berbagai pameran strategis dengan melibatkan pemangku kebijakan di tingkat lokal maupun nasional. Pameran tersebut berpotensi memperluas jaringan, membuka akses promosi, dan memperkenalkan produk kepada calon mitra serta konsumen dari berbagai daerah. Keterlibatan pemangku kebijakan dapat membantu menyelaraskan dukungan bagi pelaku usaha, dari pembinaan hingga kesempatan pemasaran. Langkah-langkah ini sejalan dengan peran Dekranasda dalam mempromosikan sekaligus melestarikan warisan leluhur, terutama ragam wastra daerah. Melalui perpaduan nilai tradisi dan sentuhan modern, desainer dan perajin dapat menghadirkan karya yang relevan bagi pasar masa kini, sembari menjaga teknik, motif, serta identitas budaya agar terus dikenal oleh generasi berikutnya.

Festival menjadi ruang bagi desainer dan perajin untuk memperkenalkan ulos serta kerajinan daerah kepada masyarakat yang lebih luas. Melalui kegiatan seperti ini, karya lokal dapat ditampilkan, dikenali, dan diapresiasi dalam satu wadah. Kesempatan tersebut juga memberi ruang bagi perajin untuk menunjukkan kekayaan motif, teknik, dan gagasan yang mereka kembangkan, sekaligus membuka percakapan mengenai peluang pemasaran yang dapat dijajaki ke depan.

Pengembangan pasar tidak hanya bergantung pada mutu produk, tetapi juga pada kesempatan untuk mempertemukan karya dengan calon pembeli dan publik. Karena itu, festival dapat menjadi sarana promosi sekaligus tempat bagi para pelaku kreatif untuk mengenalkan identitas produk mereka. Kehadiran desainer dalam ekosistem ini turut memberi ruang bagi kolaborasi, sementara keterlibatan perajin menjaga keterhubungan karya dengan keterampilan dan tradisi yang menjadi sumbernya. Upaya tersebut sejalan dengan dorongan agar ulos Medan mendapat perhatian di pasar yang lebih luas.

Wadah publik semacam ini juga memungkinkan kerajinan lokal hadir dalam suasana yang lebih dekat dengan masyarakat. Pengunjung dapat melihat langsung ragam karya yang ditawarkan dan memahami bahwa produk wastra memiliki nilai kreativitas sekaligus keterkaitan dengan daerah asalnya. Bagi perajin, kesempatan memamerkan hasil kerja dapat menjadi bagian dari proses memperluas pengenalan karya. Namun, pengembangan berkelanjutan tetap memerlukan ruang dan dukungan agar para pelaku memiliki kesempatan untuk terus berkarya serta menjaga mutu produk.

Wali Kota Medan Rico Tri Putra Waas menyebut festival yang berlangsung pada 13–18 Oktober 2026 itu sebagai salah satu cara untuk mengembangkan wastra lokal. Ia juga menyampaikan bahwa gagasan Dekranasda tersebut membuka peluang bagi perajin untuk terus menghasilkan karya yang dapat membanggakan daerah. Menurut Rico, penyediaan wadah seperti festival merupakan langkah konkret untuk mendorong pengembangan kerajinan lokal dan memberi kesempatan bagi karya para perajin untuk tampil.