Ketahanan Kesehatan Indonesia Perlu Ditopang Lima Unsur yang Terpadu

oleh -60 Dilihat
oleh
Ketahanan Kesehatan Indonesia Perlu Ditopang Lima Unsur yang Terpadu

Jakarta | Perkumpulan Ketahanan Kesehatan Indonesia (Pertasindo) mendorong penguatan ketahanan kesehatan nasional melalui kerangka 5M. Kerangka ini menempatkan lima unsur penting sebagai bagian yang saling berkaitan dalam membangun sistem kesehatan yang mampu menghadapi tekanan, menjaga layanan tetap berjalan, dan merespons kebutuhan masyarakat. Kelima unsur tersebut meliputi sumber daya manusia (man), pembiayaan (money), material (material), teknologi dan peralatan (machine), serta metode kerja (methods).

Pendekatan 5M menjadi pokok bahasan dalam The 3rd Symposium of Indonesian Health Resilience Association (SIERA), yang dijadwalkan berlangsung pada 21–23 Oktober 2026 di Jakarta. Melalui forum tersebut, Pertasindo mengangkat perlunya melihat kesiapan kesehatan secara menyeluruh, bukan hanya dari ketersediaan fasilitas atau tenaga medis. Ketahanan juga bergantung pada kemampuan menghubungkan berbagai sumber daya dan memastikan tiap unsur dapat mendukung fungsi unsur lainnya.

Unsur man mencakup kecukupan, kompetensi, pemerataan, serta kesiapan tenaga kesehatan dan personel pendukung. Money merujuk pada pembiayaan yang memadai dan berkelanjutan, termasuk kemampuan mengalokasikan dana sesuai kebutuhan serta situasi darurat. Sementara itu, material mencakup obat-obatan, vaksin, alat kesehatan, dan kebutuhan logistik lain yang harus tersedia dengan mutu serta jumlah yang sesuai.

Komponen machine meliputi teknologi dan peralatan yang menunjang pencegahan, diagnosis, perawatan, dan pengelolaan layanan. Adapun methods berkaitan dengan tata kerja, standar, koordinasi, dan prosedur yang digunakan dalam penyelenggaraan kesehatan. Ketersediaan teknologi, misalnya, akan lebih bermanfaat apabila didukung petugas terlatih, anggaran pemeliharaan, pasokan yang cukup, serta prosedur pemakaian yang jelas.

Dengan membahas kelima unsur secara terpadu, kerangka 5M memberi landasan untuk menilai kekuatan maupun kesenjangan dalam sistem kesehatan. Pembahasan di SIERA diharapkan dapat mendorong pertukaran pandangan mengenai kesiapan nasional dan langkah penguatan yang dapat dilakukan lintas sektor. Penekanan pada keterhubungan antarkomponen juga membantu mengarahkan perhatian pada perencanaan yang konsisten, sehingga kapasitas layanan dapat dipelihara dan ditingkatkan dalam menghadapi beragam tantangan kesehatan.

Ketua Pertasindo Mayjen (Purn) dr. dr. Dian Andriani Ratna Dewi, Sp.DVE, M.Biomed., MARS, menegaskan bahwa lima elemen 5M dalam ketahanan kesehatan nasional saling terikat dan tidak dapat dipisahkan. Setiap unsur memiliki fungsi yang berbeda, tetapi keberhasilannya bergantung pada dukungan unsur lain. Karena itu, 5M perlu dipahami sebagai satu kesatuan fondasi, bukan daftar kebutuhan yang dapat dipenuhi secara terpisah. Kerangka ini menekankan pentingnya membangun kemampuan sistem kesehatan secara menyeluruh, sehingga pelayanan dapat menjangkau masyarakat luas dan tetap berjalan saat menghadapi tekanan maupun perubahan kebutuhan.

Menurut Dian, mengabaikan satu saja dari kelima unsur tersebut berisiko menggagalkan upaya membentuk sistem ketahanan kesehatan yang memadai. Fasilitas yang tersedia, misalnya, tidak akan memberi dampak optimal apabila tenaga kesehatan tidak cukup kompeten atau pembiayaannya tidak menjamin operasional berkelanjutan. Demikian pula, teknologi baru tidak serta-merta memperkuat layanan jika tidak ditopang metode kerja yang jelas dan sumber daya manusia yang mampu menggunakannya. Kesenjangan pada satu bagian dapat melemahkan kinerja bagian lain, menghambat koordinasi, serta mengurangi kemampuan sistem merespons kebutuhan masyarakat. Oleh sebab itu, penilaian terhadap kesiapan kesehatan perlu melihat keterhubungan antarelemen, bukan hanya menghitung capaian pada satu bidang.

Penegasan tersebut juga menjadi pengingat bahwa penguatan ketahanan kesehatan tidak cukup dilakukan dengan menambah fasilitas atau menghadirkan inovasi teknologi. Investasi fisik dan pembaruan digital tetap penting, tetapi harus berjalan bersama pengembangan SDM berkualitas, pembiayaan yang berkelanjutan, serta metode kerja yang terstruktur. Ekosistem yang terpadu memastikan sumber daya digunakan secara tepat, peran antarpihak lebih jelas, dan layanan dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Dian mendorong para pemangku kepentingan untuk menyelaraskan seluruh fondasi itu dalam perencanaan maupun pelaksanaan program. Pemerintah, penyedia layanan, tenaga kesehatan, dan mitra terkait perlu bergerak dengan tujuan yang sejalan. Dengan pendekatan tersebut, setiap unsur 5M dapat saling memperkuat dan memberi kontribusi nyata bagi perlindungan kesehatan masyarakat.

Ketua Panitia SIERA, Kolonel (Purn) dr. dr. Agus Sutarman, Subsp.Onk(K), S.H., M.H., MARS, memandang penyelenggaraan simposium tahunan SIERA untuk ketiga kalinya sebagai momentum penting untuk memperluas kolaborasi di bidang kesehatan. Keberlanjutan forum ini membuka kesempatan bagi berbagai pihak untuk bertemu, menyampaikan perspektif, serta berbagi pengalaman yang relevan dengan tantangan pelayanan kesehatan. Pengalaman dari beragam lingkungan kerja dapat menjadi bahan pembelajaran bersama, sekaligus membantu peserta memahami pendekatan yang digunakan oleh institusi maupun tenaga kesehatan lain. Dalam konteks ketahanan kesehatan Indonesia, hubungan antarpihak dan pertukaran wawasan menjadi bagian yang perlu terus diperkuat.

Simposium tidak hanya dimaknai sebagai agenda pertemuan tahunan, tetapi juga sebagai ruang untuk mempertemukan pemangku kepentingan dengan latar belakang dan keahlian yang beragam. Melalui dialog yang terbuka, peserta diharapkan dapat mengenali kesamaan kebutuhan, membahas kendala, dan menyampaikan praktik yang dapat menjadi referensi. Kolaborasi semacam ini memerlukan komunikasi yang berkelanjutan, sikap saling menghargai, serta kesediaan untuk belajar dari pengalaman pihak lain. Karena itu, penyelenggaraan SIERA yang kembali berlangsung dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat jejaring profesional, baik di tenaga kesehatan maupun dengan unsur lain yang memiliki perhatian terhadap kemajuan bidang kesehatan.

Agus Sutarman berharap forum tersebut dapat mendorong pertukaran pengetahuan dan pengalaman secara lebih luas. Ia juga mengharapkan SIERA menjadi ruang yang memungkinkan peserta merumuskan gagasan serta inovasi untuk mendukung kemajuan kesehatan Indonesia. Harapan itu menempatkan simposium sebagai wadah untuk berdiskusi dan menjajaki berbagai kemungkinan, bukan sebagai penanda bahwa solusi tertentu telah dihasilkan. Gagasan yang muncul dapat menjadi bahan pemikiran bagi tindak lanjut, sesuai kebutuhan dan kapasitas masing-masing pihak. Dengan menjaga kesinambungan jejaring dan membuka ruang dialog, SIERA diharapkan dapat berkontribusi pada proses bersama dalam memperkuat kesehatan nasional. Momentum penyelenggaraan yang ketiga ini, menurutnya, menjadi kesempatan untuk meneguhkan semangat kolaborasi dan berbagi sebagai landasan menghadapi tantangan kesehatan yang terus berkembang.Agenda selama tiga hari ini dirancang sebagai ruang pertemuan lintas sektor untuk membahas penguatan ketahanan kesehatan Indonesia. Pesertanya mencakup regulator, praktisi kesehatan, akademisi, peneliti, serta komunitas medis militer. Keterlibatan berbagai kalangan tersebut penting karena kesiapan kesehatan nasional tidak hanya bergantung pada layanan klinis, tetapi juga pada kebijakan, riset, pengawasan, pembiayaan, dan kemampuan merespons keadaan darurat. Dengan mempertemukan pemangku kepentingan dalam satu forum, agenda ini diharapkan membuka kesempatan untuk bertukar pandangan, mengenali tantangan bersama, dan menyelaraskan langkah sesuai peran masing-masing.

Dari unsur pemerintah, Menteri Pertahanan Jenderal (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin dijadwalkan hadir. Kehadirannya menjadi bagian dari pembahasan mengenai hubungan kesiapan pertahanan dan kapasitas kesehatan, termasuk kebutuhan menjaga layanan medis ketika menghadapi situasi krisis. Menteri Kesehatan Ir. Budi Gunawan Sadikin juga dijadwalkan hadir untuk membawa perspektif kebijakan kesehatan dan penyelenggaraan layanan. Sementara itu, Kepala BPOM Prof. Dr. Taruna Ikrar dijadwalkan hadir dengan sudut pandang pengawasan obat dan makanan, aspek yang berkaitan erat dengan keamanan produk serta perlindungan masyarakat.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Mayjen (Purn) dr. dr. Prihati Pujowaskito turut dijadwalkan hadir. Perspektif lembaga pembiayaan dan penyelenggara jaminan kesehatan dapat melengkapi pembahasan tentang akses, keberlanjutan, dan mutu layanan. Kehadiran tokoh-tokoh tersebut masih berstatus sebagai agenda yang dijadwalkan, bukan konfirmasi bahwa mereka telah hadir. Bersama praktisi, akademisi, peneliti, dan komunitas medis militer, para undangan diharapkan dapat menghubungkan kebijakan dengan pengalaman lapangan dan temuan ilmiah.

Baca juga: Analisis Usulan Car Free Day Dua Kali Seminggu untuk Kesehatan dan Lingkungan | Semarak HUT Lalu Lintas ke-71, Ditlantas Polda Papua Barat Daya Gelar Bakti Kesehatan Donor Darah | Pentingnya Perlindungan Kesehatan di Depok Pasca Erupsi Anak Krakatau