Forum Investasi Jawa Timur Himpun Komitmen Bisnis Rp2,4 Triliun

oleh -22 Dilihat
oleh
Forum Investasi Jawa Timur Himpun Komitmen Bisnis Rp2,4 Triliun

SURABAYA, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, East Java Investment Forum (EJIF) 2026 menghasilkan 12 komitmen bisnis dengan nilai investasi mencapai Rp2,4 triliun. Kesepakatan tersebut menandai meningkatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek perekonomian Jawa Timur, sekaligus memperkuat posisi provinsi ini sebagai salah satu tujuan investasi utama di Indonesia. Berbagai komitmen yang dihimpun melalui forum tersebut diharapkan segera berkembang menjadi kegiatan usaha yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Realisasi investasi senilai Rp2,4 triliun berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Timur melalui peningkatan aktivitas produksi, perdagangan, dan jasa. Selain memperluas kapasitas usaha, masuknya modal baru dapat menciptakan kesempatan kerja di berbagai sektor. Penyerapan tenaga kerja menjadi salah satu dampak penting yang diharapkan muncul dari pelaksanaan 12 kesepakatan bisnis tersebut, terutama apabila proyek investasi berjalan sesuai rencana dan melibatkan pelaku usaha lokal.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Ibrahim menilai momentum investasi perlu dijaga melalui dukungan berkelanjutan. Menurut dia, sinergi dan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, serta pemangku kepentingan lainnya menjadi faktor penting agar berbagai komitmen yang telah disepakati dapat direalisasikan. Dukungan tersebut juga diperlukan untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif, memberikan kepastian bagi investor, dan mempercepat penyelesaian berbagai kebutuhan investasi.

Ibrahim menyampaikan pernyataan itu di Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu (4/10). Ia menekankan bahwa investasi tidak hanya berkaitan dengan penambahan modal, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan pengentasan kemiskinan. Karena itu, keberlanjutan proyek serta pemerataan manfaatnya perlu menjadi perhatian bersama. Dengan koordinasi yang konsisten, hasil EJIF 2026 dapat menjadi pijakan untuk memperkuat daya saing daerah dan mendorong pembangunan ekonomi yang lebih inklusif di Jawa Timur.

Ibrahim menilai kondisi investasi yang baik tidak hanya ditentukan oleh besarnya minat pelaku usaha atau tersedianya proyek potensial. Kualitas fondasi ekonomi menjadi faktor penting agar kegiatan penanaman modal dapat berkembang secara konsisten dan memberikan manfaat dalam jangka panjang. Menurutnya, keberlanjutan fiskal, stabilitas sistem keuangan, serta kelancaran sistem pembayaran merupakan tiga unsur yang saling berkaitan dalam membangun kepercayaan investor.

Keberlanjutan fiskal diperlukan untuk memastikan pemerintah memiliki ruang yang memadai dalam menjalankan program pembangunan, menyediakan infrastruktur, dan memberikan layanan publik. Pada saat yang sama, stabilitas sistem keuangan membantu menjaga akses pembiayaan serta mengurangi risiko yang dapat menghambat ekspansi dunia usaha. Sistem pembayaran yang aman, cepat, dan efisien juga mendukung transaksi ekonomi, baik bagi perusahaan besar maupun pelaku usaha kecil dan menengah. Ketiga aspek tersebut dipandang sebagai fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, karena mampu menciptakan kepastian sekaligus memperkuat daya tahan perekonomian terhadap perubahan global.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyampaikan bahwa pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten dan kota terus memperkuat dukungan untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif. Upaya itu mencakup peningkatan koordinasi antarlembaga, penyederhanaan proses pelayanan, serta penguatan kesiapan daerah dalam menyambut kebutuhan investor. Kepastian regulasi dan kualitas layanan dinilai penting agar peluang investasi dapat segera diterjemahkan menjadi kegiatan usaha dan lapangan kerja.

Dalam konteks tersebut, sektor manufaktur dan pertanian menjadi modal dasar sekaligus daya tarik bagi investor yang ingin mengembangkan usaha di Jawa Timur. Manufaktur memiliki peluang besar melalui penguatan rantai pasok, pengolahan bahan baku, dan penciptaan nilai tambah. Sementara itu, pertanian menawarkan potensi pengembangan dari sisi produktivitas, teknologi, serta hilirisasi komoditas. Kombinasi kedua sektor tersebut dapat memperluas basis ekonomi daerah dan mendukung pertumbuhan investasi yang lebih inklusif.

East Java Investment Forum (EJIF) 2026 berlangsung pada 1–2 Oktober 2026 sebagai forum yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam pengembangan investasi di Jawa Timur. Kegiatan ini menawarkan 28 proyek Investment Project Ready to Offer (IPRO), yaitu proyek yang telah disiapkan untuk diperkenalkan kepada calon investor. Kehadiran portofolio tersebut memperlihatkan beragam peluang usaha yang dapat dipertimbangkan sesuai minat dan kapasitas pelaku bisnis.

Seluruh proyek yang ditawarkan dalam EJIF 2026 memiliki total potensi investasi sebesar Rp73,7 triliun. Cakupannya meliputi sektor manufaktur, pariwisata, infrastruktur, serta agroindustri. Keragaman sektor itu memberikan gambaran mengenai ruang pengembangan ekonomi yang tersedia, sekaligus memperluas pilihan bagi investor yang mencari peluang di Jawa Timur. Setiap sektor memiliki karakteristik dan kebutuhan pengembangan yang berbeda, sehingga forum menjadi ruang untuk mempertemukan proyek dengan pihak yang relevan.

Forum ini dihadiri dan melibatkan pelaku usaha, calon investor, pemilik proyek, pemerintah daerah, serta lembaga keuangan. Pertemuan antarpihak tersebut memungkinkan penyampaian informasi mengenai proyek secara langsung dan membangun komunikasi pemilik peluang investasi dengan pihak yang berpotensi mendukung pengembangannya. Pemerintah daerah juga menjadi bagian penting dalam forum karena memiliki peran dalam memperkenalkan potensi wilayah serta mempertemukan proyek dengan jaringan usaha dan pembiayaan.

Keterlibatan dalam EJIF 2026 juga berasal dari investor dan mitra bisnis dari berbagai negara. Negara yang hadir atau terlibat mencakup Inggris, Belanda, Australia, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Arab Saudi, Singapura, dan Malaysia. Keberagaman asal negara tersebut menunjukkan luasnya jangkauan forum dalam memperkenalkan proyek Jawa Timur kepada komunitas bisnis internasional. Dengan menawarkan 28 proyek IPRO dan potensi investasi Rp73,7 triliun, EJIF 2026 menjadi wadah untuk mempertemukan peluang daerah dengan calon investor dari dalam maupun luar negeri.

Selain menawarkan peluang investasi melalui proyek-proyek unggulan, EJIF 2026 mempromosikan tujuh kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus di Jawa Timur. Kawasan-kawasan tersebut diposisikan sebagai pilihan bagi pelaku usaha yang membutuhkan lokasi strategis, dukungan infrastruktur, serta lingkungan yang mendukung kegiatan produksi dan pengembangan bisnis. Informasi mengenai karakteristik kawasan, sektor yang dapat dikembangkan, dan peluang kemitraan menjadi bagian dari materi yang diperkenalkan kepada calon investor.

Penawaran lain yang turut disampaikan mencakup 80 aset potensial milik pemerintah daerah. Aset tersebut dapat menjadi opsi pengembangan usaha melalui berbagai skema pemanfaatan yang sesuai dengan ketentuan dan kebutuhan masing-masing daerah. Dengan memperkenalkan aset-aset itu dalam forum investasi, pemerintah daerah membuka ruang komunikasi dengan pelaku usaha untuk menilai peluang, model kerja sama, serta potensi pengembangan yang dapat dilakukan secara terukur.

Dari sektor keuangan, rangkaian EJIF 2026 juga menghadirkan sejumlah proyek potensial dari perbankan. Penawaran ini melengkapi informasi mengenai proyek daerah dan kawasan industri dengan perspektif pembiayaan serta peluang kolaborasi bisnis. Kehadiran sektor perbankan memungkinkan peserta memperoleh gambaran lebih luas mengenai kebutuhan pendanaan, kesiapan proyek, dan kemungkinan dukungan finansial bagi rencana investasi yang memenuhi persyaratan.

Rangkaian forum diisi pula dengan diskusi panel bersama Danantara Indonesia, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, serta Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur. Pembahasan diarahkan pada prospek investasi, perkembangan iklim usaha, dan dukungan pemerintah terhadap dunia usaha. Para peserta dapat mengikuti pertukaran pandangan mengenai kebijakan, fasilitasi investasi, penguatan kerja sama, serta langkah yang diperlukan agar peluang usaha dapat dibahas secara lebih terarah.

Dengan beragam penawaran dan agenda dialog tersebut, EJIF 2026 menjadi wadah pertemuan pemerintah, lembaga terkait, perbankan, dan pelaku usaha untuk memperkenalkan serta membahas berbagai peluang investasi di Jawa Timur.