JAKARTA – Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Ketua Dewan Penasehat Himpunan Putra Putri Keluarga Angkatan Darat (Hipakad),
Bambang Soesatyo, mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat ketahanan nasional di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks dan arus globalisasi yang kian deras. Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia akibat konflik geopolitik dan fragmentasi kebijakan global, Indonesia dituntut memperkuat fondasi kebangsaan agar tidak tergerus oleh tekanan eksternal maupun gejolak internal.
“Di tengah situasi tersebut, peran seluruh elemen masyarakat, termasuk Hipakad, sangat penting dalam menjaga semangat persatuan, memperkuat moral kebangsaan, serta menjadi perekat sosial di tengah masyarakat,” ujar Bamsoet saat menghadiri Halalbihalal Hipakad di Depok, Bogor, Kamis (30/4/26).
Hadir antara lain Wakil Asisten Teritorial Kasad Bidang Pembinaan Teritorial Brigjen TNI Boemi Ario Bimo, Direktur Pusat Informasi Teritorial Pusterad Brigjen TNI Heri Dwi Subagyo, Wakil Asisten Teritorial Kepala Staf Kostrad Kolonel Sumanto, Ketum Hipakad Hariara Tambunan, Ketum Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat Mayjen TNI (Purn.) Komaruddin Simanjuntak, Ketum Forum Komunikasi Putra Putri Angkatan Laut Ariadi Kusumadi serta Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi Golkar Syafi Djohan.
Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menjelaskan, globalisasi membawa dua sisi yang tidak bisa dihindari. Di satu sisi membuka peluang ekonomi dan kemajuan teknologi, tetapi di sisi lain juga membawa nilai-nilai individualisme, pragmatisme, dan bahkan ideologi transnasional yang berpotensi mengikis jati diri bangsa. Karena itu, penguatan nilai kebangsaan harus dimulai dari unit terkecil, yakni keluarga.
Data menunjukkan bahwa transformasi ancaman terhadap negara juga semakin luas, dari ancaman konvensional menuju ancaman multidimensi. Bahkan, peran TNI kini juga diperluas dalam operasi non-perang, termasuk perlindungan terhadap ancaman siber dan kepentingan nasional di luar negeri, yang menandakan kompleksitas tantangan keamanan saat ini.
“Dalam kondisi seperti ini, kekuatan bangsa tidak cukup diukur dari aspek militer saja. Tetapi juga dari soliditas sosial, kekuatan nilai kebangsaan, dan kemampuan masyarakat menjaga persatuan,” kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini memaparkan, secara objektif Indonesia memiliki modal kuat dalam aspek pertahanan. Data Global Firepower Index 2025 menempatkan kekuatan militer Indonesia di peringkat ke-13 dunia dengan lebih dari 400 ribu personel aktif. Namun tantangan modern justru banyak datang dari sektor non-militer, mulai dari disrupsi informasi, konflik sosial, hingga tekanan ekonomi global yang dapat memicu instabilitas domestik. Bahkan dinamika sosial seperti gelombang demonstrasi pada tahun 2025 di berbagai daerah menunjukkan adanya tekanan terhadap stabilitas politik dan kepercayaan publik.
“Karenanya, generasi muda harus diperkuat dengan nilai kebangsaan agar tidak kehilangan identitas di tengah arus globalisasi. Hipakad bisa menjadi tempat pembinaan karakter yang efektif karena memiliki akar historis dan kedekatan emosional dengan perjuangan bangsa,” pungkas Bamsoet. (*)









