ICP September 2026 Melonjak ke US$112,81 per Barel di Tengah Gejolak Pasar Global

oleh -44 Dilihat
oleh
ICP September 2026 Melonjak ke US$112,81 per Barel di Tengah Gejolak Pasar Global

Jakarta | Pemerintah menetapkan rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) untuk September 2026 sebesar US2,81 per barel. Nilai tersebut menunjukkan kenaikan tajam sebesar US,38 dibandingkan ICP Agustus 2026 yang berada pada level US,43 per barel. Perubahan ini menempatkan harga minyak mentah Indonesia pada posisi yang jauh lebih tinggi dalam satu bulan, sekaligus menjadi indikator penting bagi perkembangan sektor energi nasional.

Penetapan ICP September 2026 dituangkan dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 395.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan September 2026. Keputusan tersebut menjadi dasar resmi pemerintah dalam menetapkan rata-rata harga minyak mentah Indonesia, yang digunakan sebagai salah satu acuan dalam pengelolaan penerimaan negara, kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi, serta kebijakan energi terkait.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman menyampaikan keterangan mengenai penetapan tersebut di Kantor Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Gedung Ibnu Sutowo, Jakarta, pada Senin (12/10). Ia menjelaskan bahwa peningkatan ICP mencerminkan perubahan besar yang terjadi di pasar minyak dunia. Pergerakan harga global dipengaruhi oleh dinamika pasokan dan permintaan, kondisi geopolitik, serta sentimen pasar yang dapat berubah dengan cepat.

Kenaikan ICP juga menjadi perhatian pemerintah karena berdampak pada berbagai aspek perekonomian dan ketahanan energi. Pemerintah terus memantau perkembangan harga minyak internasional serta faktor-faktor yang memengaruhinya untuk memastikan kebijakan energi tetap responsif. Pemantauan tersebut diperlukan agar pemerintah dapat mengantisipasi potensi tekanan terhadap biaya energi, menjaga kesinambungan pasokan, dan memperkuat ketahanan energi nasional di tengah gejolak pasar global.

Lonjakan harga ICP September 2026 hingga US$112,81 per barel terutama dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan risiko gangguan pasokan minyak. Situasi tersebut memperkuat kekhawatiran pasar terhadap kelancaran distribusi minyak mentah dari kawasan Timur Tengah. Menurut Laode, eskalasi konflik militer serta kebuntuan diplomasi di kawasan menjadi faktor utama yang memperbesar tekanan terhadap keamanan pasokan. Perkembangan itu membuat pelaku pasar mencermati setiap perubahan situasi secara lebih hati-hati karena gangguan pada jalur produksi maupun pengiriman dapat memengaruhi ketersediaan minyak global.

Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran turut memperburuk ketidakpastian tersebut. Belum tercapainya penyelesaian diplomatik meningkatkan risiko munculnya gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan. Laode mengaitkan kondisi ini dengan meningkatnya risiko keamanan di Selat Hormuz, jalur vital bagi ekspor minyak dunia. Selat tersebut memiliki peran penting dalam menghubungkan pengiriman minyak dari negara-negara produsen di kawasan menuju pasar internasional. Karena itu, ancaman terhadap keselamatan pelayaran di rute tersebut menjadi perhatian utama dalam perkembangan harga minyak.

Risiko itu tercermin dari penurunan ekspor minyak mentah melalui Selat Hormuz yang sempat mencapai 28 persen dibandingkan Juli. Selain gangguan pada jalur pelayaran, serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan juga menambah kekhawatiran mengenai kesinambungan pasokan. Salah satu langkah pencegahan dilakukan Arab Saudi melalui penutupan sementara pipa East-West setelah terjadi serangan drone. Pipa tersebut memiliki kapasitas pengaliran hingga 7 juta barel per hari. Penutupan sementara itu menunjukkan bahwa peningkatan ancaman keamanan dapat mendorong negara produsen mengambil tindakan preventif untuk melindungi infrastruktur energi dan mengurangi risiko gangguan yang lebih besar terhadap pengiriman minyak.

Tekanan terhadap pasokan minyak mentah global tidak hanya berasal dari perubahan permintaan dan sentimen investor. Penundaan penyesuaian kuota produksi oleh OPEC turut menjadi faktor penting yang membatasi tambahan pasokan ke pasar. Kebijakan tersebut membuat ruang peningkatan produksi dalam waktu dekat menjadi lebih sempit, terutama ketika konsumsi energi tetap membutuhkan aliran minyak yang stabil. Ekspektasi terhadap ketersediaan minyak mentah pun ikut mengetat, sehingga pelaku pasar lebih cepat merespons setiap risiko gangguan baru.

Situasi tersebut diperburuk oleh serangan lanjutan terhadap fasilitas kilang dan terminal ekspor minyak di Rusia. Gangguan pada infrastruktur strategis dapat memengaruhi kapasitas pengolahan, penyimpanan, dan pengiriman minyak ke pasar internasional. Dampaknya tidak selalu terlihat dalam bentuk penghentian pasokan secara menyeluruh, tetapi ketidakpastian mengenai kelancaran operasi mendorong pembeli dan pelaku industri mengantisipasi kemungkinan berkurangnya pasokan. Risiko logistik ini menjadi semakin signifikan karena Rusia merupakan salah satu pemasok utama energi bagi pasar dunia.

Gangguan di kawasan Laut Merah juga menambah beban pada rantai distribusi minyak global. Ketegangan di jalur pelayaran tersebut dapat memaksa kapal mengubah rute, memperpanjang waktu pengiriman, serta meningkatkan biaya transportasi dan asuransi. Kombinasi penundaan kuota produksi OPEC, kerusakan atau ancaman terhadap infrastruktur minyak Rusia, dan hambatan pelayaran di Laut Merah memperketat ketersediaan minyak mentah dunia. Perkembangan itu mendorong kenaikan harga pada seluruh minyak mentah utama dunia, dengan kenaikan ICP yang berlangsung sejalan dengan penguatan benchmark internasional secara menyeluruh. Arah pergerakan tersebut menunjukkan bahwa lonjakan ICP ke US$112,81 per barel merupakan bagian dari tekanan pasar global, bukan faktor yang berdiri sendiri.

Memasuki Oktober 2026, harga Indonesian Crude Price (ICP) diproyeksikan masih bertahan pada level tinggi, meskipun mulai melandai dibandingkan posisi September. Pergerakannya diperkirakan berada dalam kisaran US$98 hingga US$103 per barel. Proyeksi tersebut tetap mencerminkan kondisi pasar minyak global yang dinamis, termasuk pengaruh pasokan, permintaan, kebijakan negara-negara produsen, serta perkembangan geopolitik dan ekonomi internasional.

Pemerintah bersama pihak terkait berkomitmen untuk terus mengamati perubahan harga minyak dunia secara ketat. Pemantauan dilakukan sebagai dasar untuk menentukan langkah strategis yang diperlukan dalam menjaga ketahanan energi nasional. Perkembangan pasar akan menjadi perhatian dalam pengelolaan kebijakan energi, terutama untuk memastikan ketersediaan pasokan dan menjaga kesinambungan kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan sektor minyak dan gas bumi.

Laode menjelaskan bahwa formula ICP tetap disusun secara transparan dengan mencerminkan dinamika pasar internasional. Mekanisme tersebut juga harus dapat dipertanggungjawabkan, baik dalam kaitannya dengan pengelolaan keuangan negara maupun pelaksanaan kegiatan usaha hulu migas. Dengan formula yang terbuka dan berbasis pada perkembangan pasar, penetapan ICP dapat dilakukan secara konsisten serta memberikan rujukan yang jelas bagi para pemangku kepentingan.

ICP memiliki fungsi penting sebagai acuan dalam menghitung penerimaan negara dari sektor hulu migas. Nilai tersebut juga digunakan dalam penyusunan asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sehingga perubahan harga minyak berpengaruh terhadap perencanaan fiskal. Karena itu, pemerintah akan melanjutkan pemantauan terhadap harga minyak dunia dan menetapkan ICP berdasarkan formula yang transparan, dengan tetap memperhatikan ketahanan energi nasional, akuntabilitas keuangan negara, serta keberlangsungan kegiatan usaha hulu migas.

Baca juga: Perubahan Jadwal KRL Jabodetabek September 2026 | Kualitas Udara Jakarta 5 September 2026: Ancaman Bagi Kesehatan | Bantuan Sosial September 2026: Apa yang Perlu Diketahui