Jakarta | Kamera keamanan yang semula dipasang untuk melindungi rumah, toko, dan fasilitas usaha kini memiliki fungsi yang jauh lebih strategis. Bel pintu pintar, pemantau bayi, kamera di area peternakan, serta CCTV yang terhubung ke internet dapat dijadikan titik pengamatan dalam operasi intelijen dan konflik bersenjata. Rekaman dari perangkat tersebut berpotensi memperlihatkan pergerakan kendaraan militer, kedatangan atau pengiriman pasokan senjata, hingga aktivitas pasukan di sekitar wilayah tertentu. Dengan demikian, perangkat sipil yang tersebar luas dapat menyediakan gambaran situasi lapangan tanpa harus menempatkan agen atau sensor khusus di lokasi.
Temuan badan intelijen Belanda, Algemene Inlichtingen- en Veiligheidsdienst (AIVD) dan Militaire Inlichtingen- en Veiligheidsdienst (MIVD), menunjukkan bahwa Rusia diduga menyadap CCTV sipil secara sistematis di Eropa dan Ukraina. Pemanfaatan itu menggambarkan perubahan penting dalam teknologi perang: kamera yang berada jauh dari garis depan dapat menjadi sumber informasi operasional. Perangkat yang tersebar di berbagai kota, dari Teheran dan Tel Aviv hingga Kyiv, kini berada dalam ekosistem pengawasan yang sama. Ketika akses terhadap kamera berhasil diperoleh, rekaman dapat digunakan untuk mengamati pola lalu lintas, mengenali lokasi strategis, atau memperkirakan perubahan aktivitas di suatu kawasan.
Skala informasi yang tersedia membuat analisis manual hampir mustahil dilakukan. Pelaku menggunakan perangkat lunak pengenal gambar berbasis kecerdasan buatan untuk menyaring rekaman dalam jumlah besar, menandai kendaraan, manusia, maupun objek tertentu, lalu menghubungkan temuan itu dengan waktu dan lokasi. The Wall Street Journal, mengutip perusahaan intelijen risiko S-RM, melaporkan bahwa terdapat sekitar 1,2 miliar kamera yang terhubung ke internet di seluruh dunia. Metode otomatis juga dapat digunakan untuk membobol jutaan kata sandi dan memproses video secara cepat. Perkembangan ini memperluas medan pengintaian sekaligus meningkatkan risiko bahwa kamera rumah tangga biasa berubah menjadi mata digital bagi operasi militer dan intelijen.
Dalam konflik Rusia-Ukraina, akses ilegal terhadap kamera pengawas atau CCTV menjadi salah satu sarana pengumpulan informasi. Kamera yang berada di wilayah Ukraina dapat dimanfaatkan untuk mengamati pergerakan, mengenali pola aktivitas, dan membantu mengidentifikasi posisi pasukan sebelum serangan rudal maupun drone dilancarkan. Dengan demikian, perangkat yang semula dipasang untuk keamanan sipil berpotensi berubah menjadi sumber data bagi operasi intelijen. Rekaman visual, sudut pandang kamera, serta akses jarak jauh dapat memberikan gambaran mengenai lokasi dan aktivitas di suatu kawasan, terutama apabila sistem tersebut tidak terlindungi dengan baik.
Menanggapi risiko tersebut, Dinas Keamanan Ukraina, atau SBU, memblokir dan mengamankan sekitar 40.000 kamera yang dinilai berpotensi digunakan oleh intelijen Rusia. Tindakan ini mencakup upaya membatasi akses terhadap perangkat serta melindungi sistem kamera dari pemantauan yang tidak sah. Langkah pengamanan tersebut menunjukkan bahwa perlindungan infrastruktur pengawasan sipil juga menjadi bagian dari upaya membatasi pengumpulan informasi dalam konflik. Kamera tidak hanya dipandang sebagai perangkat pemantau lingkungan, tetapi juga sebagai titik akses digital yang dapat dieksploitasi untuk memperoleh informasi mengenai posisi pasukan.
Di sisi lain, kelompok peretas internasional pendukung Ukraina, Team OneFist, melakukan penyadapan terhadap rekaman kamera di sekitar Jembatan Selat Kerch, penghubung Rusia dan Krimea. Dari rekaman tersebut, kelompok itu berhasil mendeteksi sensor gerakan bawah air yang dipasang Rusia sebagai upaya mencegah serangan dari laut. Tindakan Team OneFist memperlihatkan penggunaan kamera sebagai sumber informasi untuk mengamati pengamanan di sekitar infrastruktur strategis. Dalam hubungan ini, kamera berfungsi sebagai sarana pengumpulan data, sementara akses terhadap rekaman menjadi bagian dari aktivitas siber yang dilakukan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Kasus tersebut juga memperlihatkan bahwa pengamanan kamera dan pemanfaatan rekamannya berlangsung di kedua sisi konflik.
Penggunaan kamera pengawas dalam konflik Timur Tengah semakin melampaui fungsi keamanan sipil. CCTV dan perangkat pemantau yang semula dipasang untuk mengawasi jalan, fasilitas usaha, atau kawasan publik kini dapat dimanfaatkan sebagai pos pengintai. Laporan menyebutkan bahwa kelompok yang berafiliasi dengan Iran telah meretas lebih dari 250 kamera yang dianggap sensitif bagi keamanan nasional Israel. Sasaran tersebut mencakup pembaca pelat nomor otomatis serta CCTV yang ditempatkan di sekitar pos militer sepanjang perbatasan Lebanon.
Eliav Noori, pakar keamanan siber dari Direktorat Siber Nasional Israel, menyatakan bahwa kamera yang terekspos dapat diubah menjadi titik pengamatan. Setelah memperoleh akses, peretas berpotensi memantau pola mobilitas, mengenali kendaraan, dan mengamati perubahan aktivitas di kawasan strategis tanpa harus mengerahkan personel secara langsung. Kemampuan ini memperluas jangkauan pengumpulan informasi dengan memanfaatkan infrastruktur sipil yang sering kali tidak diperlakukan sebagai bagian dari medan operasi.
Salah satu contoh yang disebutkan adalah kamera yang diretas di sebuah kandang ayam di wilayah utara Israel. Lokasinya memang bersifat sipil, tetapi arah pandang perangkat tersebut memperlihatkan pergerakan pasukan militer di sekitar area itu. Contoh tersebut menunjukkan bahwa nilai sebuah kamera tidak selalu ditentukan oleh tempat pemasangannya, melainkan oleh apa yang dapat terlihat dari sudut pandangnya. Bahkan perangkat yang tampak tidak penting dapat membantu menyusun gambaran mengenai aktivitas keamanan di sekitarnya.
Di sisi lain, terdapat dugaan bahwa intelijen Israel selama bertahun-tahun telah membobol hampir seluruh kamera lalu lintas di Teheran. Dugaan itu dikaitkan dengan persiapan sebelum serangan pada 28 Februari yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Rangkaian laporan ini menggambarkan perubahan peran kamera keamanan: dari alat pemantau lingkungan menjadi sumber intelijen, sekaligus titik rentan yang dapat dieksploitasi dalam perang modern.
Kemudahan kamera keamanan yang terhubung ke internet untuk diretas sering kali berawal dari persoalan pengelolaan, bukan semata-mata kelemahan teknis yang rumit. Xu Zou, Senior Vice President Palo Alto Networks, menjelaskan bahwa banyak CCTV dipasang oleh tim fasilitas, bukan staf teknologi informasi yang memahami keamanan siber. Dalam praktiknya, petugas sering hanya memasang kamera, menyalakannya, lalu meninggalkan sistem tersebut tanpa pemantauan dan pemeliharaan berkelanjutan. Pola kerja semacam ini membuat perangkat tetap aktif, tetapi tidak memperoleh perlindungan yang sebanding dengan risiko konektivitasnya.
Kelalaian tersebut dapat terlihat dari perangkat yang jarang menerima pembaruan keamanan. Ketika celah pada perangkat lunak tidak ditambal, penyerang memiliki lebih banyak waktu untuk memanfaatkannya. Risiko menjadi semakin besar apabila kata sandi bawaan pabrik tidak diganti. Kredensial default sering tersedia dalam dokumentasi atau basis data publik, sehingga kamera dengan akses internet dapat menjadi sasaran yang relatif mudah. Dalam kondisi tertentu, pengambilalihan kamera bukan hanya mengancam privasi, tetapi juga memungkinkan pihak luar mengamati kebiasaan, aktivitas, dan lokasi yang seharusnya tidak terbuka.
Badan intelijen Belanda mengimbau pemilik CCTV di rumah maupun tempat usaha untuk segera mengganti kata sandi default dengan kombinasi yang kuat dan unik. Koneksi langsung ke internet publik juga perlu dibatasi, misalnya melalui pengaturan jaringan yang lebih aman dan akses jarak jauh yang dikendalikan. Selain itu, bagian pandangan kamera yang mengarah ke ruang publik atau area sensitif sebaiknya dikaburkan atau ditutupi agar perangkat tidak merekam lebih banyak daripada yang diperlukan. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa kamera yang tampak sederhana dapat membuka informasi strategis apabila pengelolaannya tidak aman. Karena itu, pemasangan harus diikuti pembaruan, pemeriksaan akses, dan pengawasan rutin, bukan berhenti ketika perangkat berhasil dinyalakan.
Baca juga: Dukungan Bobotoh Menjadi Motivasi Jelang Laga Persija vs Persib

