Jalan Raya Serang KM 11,5 Terganggu, Buruh FSPMI Gelar Aksi Susulan di PT Molex Ayus

oleh -37 Dilihat
oleh
Jalan Raya Serang KM 11,5 Terganggu, Buruh FSPMI Gelar Aksi Susulan di PT Molex Ayus

Cikupa, Tangerang | Arus lalu lintas di Jalan Raya Serang KM 11,5, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, sejak pagi terlihat tidak seperti hari-hari biasanya. Kendaraan yang melintas dari arah Bitung menuju Balaraja maupun sebaliknya harus mengurangi laju karena adanya konsentrasi massa di salah satu titik industri yang cukup padat aktivitasnya. Di lokasi tersebut, aktivitas di depan gerbang PT Molex Ayus menjadi pusat perhatian sejak rombongan buruh mulai berdatangan secara bertahap.

Sekitar pagi hari, barisan pekerja yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) bersama elemen solidaritas Serikat Massa mulai memadati area depan perusahaan. Kedatangan mereka bukan berlangsung sekaligus, melainkan bertahap dari berbagai titik kumpul. Sebagian datang menggunakan kendaraan roda dua, sebagian lainnya dengan bus rombongan yang berhenti tidak jauh dari jalur utama kawasan industri Cikupa.

Situasi itu membuat kawasan sekitar PT Molex Ayus yang biasanya dipenuhi aktivitas bongkar muat barang berubah menjadi titik konsentrasi massa. Aktivitas kendaraan logistik tetap berjalan, namun dengan pengaturan ketat dari aparat yang sudah bersiaga sejak pagi. Petugas kepolisian terlihat menempatkan personel di beberapa titik untuk menjaga arus lalu lintas agar tidak sepenuhnya tersendat.

Di depan gerbang perusahaan, spanduk dan poster dibentangkan oleh peserta aksi. Tulisan-tulisan di atas kain itu menyoroti persoalan hubungan kerja, status ketenagakerjaan, serta tuntutan penyelesaian hak normatif yang menurut pihak serikat belum mendapatkan jawaban tuntas dari manajemen. Suara orasi mulai terdengar dari mobil komando yang terparkir di sisi jalan, sesekali disambut yel-yel peserta aksi yang berdiri dalam formasi tidak terlalu rapat namun terorganisir.

Aksi ini disebut sebagai lanjutan dari rangkaian penyampaian aspirasi sebelumnya. Pihak serikat menilai bahwa komunikasi yang sudah dilakukan dalam beberapa pertemuan belum menghasilkan keputusan yang dianggap menyelesaikan inti persoalan. Karena itu, mereka kembali memilih turun ke lapangan dengan jumlah massa yang lebih besar dibanding aksi sebelumnya.

Di tengah kerumunan, terlihat jelas bahwa massa tidak hanya berasal dari satu kelompok tunggal. Elemen solidaritas Serikat Massa ikut bergabung dalam barisan, memperlihatkan bahwa isu yang dibawa tidak hanya menjadi perhatian internal satu organisasi, tetapi juga mendapat dukungan lintas jaringan serikat. Kehadiran mereka memperkuat barisan aksi yang sejak awal memang menargetkan adanya perhatian lebih serius dari pihak perusahaan.

PT Molex Ayus sendiri berada di kawasan industri yang cukup aktif dengan lalu lintas produksi harian. Namun sejak aksi berlangsung, aktivitas keluar masuk kendaraan tampak mengalami perlambatan. Beberapa kendaraan pengangkut barang harus menunggu giliran untuk melintas, sementara sebagian lainnya dialihkan melalui jalur alternatif yang disiapkan aparat di lapangan.

PT Molex Ayus belum memberikan keterangan resmi secara terbuka di lokasi aksi hingga beberapa jam setelah kegiatan berlangsung. Namun dari informasi yang beredar di sekitar area, pihak manajemen disebut tetap menjalankan operasional terbatas sambil memantau perkembangan situasi di luar gerbang utama.

Di sisi lain, orasi dari peserta aksi terus bergantian. Setiap perwakilan menyampaikan pandangan yang pada intinya menuntut adanya kejelasan terhadap status kerja dan pemenuhan hak-hak normatif yang dianggap belum diselesaikan. Nada penyampaian bervariasi, ada yang tenang dan terukur, ada pula yang lebih menekan dengan gaya retorika khas lapangan yang menyasar langsung pada manajemen perusahaan.

Meski demikian, suasana di lapangan tidak menunjukkan tanda-tanda eskalasi ke arah tindakan anarkis. Massa tetap berada di titik yang telah ditentukan sejak awal kedatangan. Aparat kepolisian juga terlihat mengedepankan pola pengamanan persuasif dengan menjaga jarak antara area aksi dan jalur lalu lintas utama. Beberapa petugas bahkan terlihat berkomunikasi langsung dengan koordinator lapangan untuk memastikan kegiatan berjalan sesuai kesepakatan teknis.

Di tengah jalannya aksi, aktivitas masyarakat sekitar tetap berlangsung meski sedikit terganggu oleh kepadatan kendaraan. Warung-warung kecil di sekitar lokasi justru tetap buka, dengan sebagian pedagang memilih bertahan di tempat karena situasi keramaian masih dianggap memberi peluang untuk tetap berjualan. Namun, arus pejalan kaki dan kendaraan pribadi terlihat lebih lambat dari biasanya.

Seorang koordinator lapangan dalam orasinya menegaskan bahwa aksi ini bukan bentuk spontanitas, melainkan bagian dari proses panjang yang sudah ditempuh melalui jalur formal. Ia menyebut bahwa serikat telah berulang kali mencoba membuka ruang dialog dengan pihak perusahaan, namun hingga saat ini belum ada kesepakatan final yang benar-benar menjawab tuntutan utama pekerja.

Menurutnya, aksi lanjutan ini merupakan bentuk tekanan kolektif agar proses penyelesaian tidak berjalan di tempat. Ia juga menekankan bahwa kehadiran massa di depan pabrik tidak dimaksudkan untuk mengganggu operasional secara total, melainkan sebagai pengingat bahwa ada persoalan yang belum selesai di dalam hubungan industrial yang sedang berjalan.

Di beberapa momen, orasi sempat diiringi dengan yel-yel yang menggema cukup kuat di area gerbang pabrik. Namun ritme aksi tetap terjaga. Tidak ada dorongan massa ke arah pintu masuk, dan garis batas yang dijaga aparat tetap dihormati oleh peserta aksi. Situasi ini mencerminkan pola aksi yang lebih terstruktur dibandingkan dengan potensi ketegangan yang sering terjadi dalam aksi serupa di kawasan industri.

Sejumlah pekerja dari dalam area pabrik terlihat sesekali memperhatikan situasi dari balik pagar. Beberapa di antaranya memilih tetap melanjutkan pekerjaan, sementara lainnya berdiskusi singkat di area tertentu sebelum kembali ke posisi kerja masing-masing. Kondisi ini menunjukkan adanya perhatian internal terhadap dinamika yang terjadi di luar pagar perusahaan.

Hingga menjelang siang, konsentrasi massa masih bertahan di lokasi yang sama. Mobil komando tetap menjadi pusat kendali orasi, sementara peserta aksi sebagian duduk di tepi jalan untuk beristirahat secara bergantian. Aparat tetap siaga sambil memastikan jalur utama di Jalan Raya Serang tetap bisa dilalui meskipun dengan kecepatan terbatas.

Dari pantauan di lapangan, aksi ini tidak hanya menjadi ekspresi tuntutan buruh semata, tetapi juga menggambarkan dinamika hubungan industrial yang masih terus mencari titik keseimbangan. Di satu sisi, pekerja menuntut kepastian yang dianggap belum terpenuhi. Di sisi lain, perusahaan dihadapkan pada kebutuhan menjaga stabilitas operasional di tengah tekanan eksternal yang muncul secara berkala.

Situasi seperti ini bukan hal baru di kawasan industri Kabupaten Tangerang, namun setiap aksi selalu memiliki konteks dan eskalasi yang berbeda. Dalam kasus PT Molex Ayus, keberlanjutan aksi menunjukkan bahwa proses dialog yang sudah berlangsung sebelumnya belum sepenuhnya menghasilkan kesepahaman yang sama antara kedua belah pihak.

Hingga laporan ini disusun, massa aksi masih bertahan di sekitar gerbang utama perusahaan. Belum ada tanda pembubaran, namun situasi tetap terkendali. Aparat keamanan masih melakukan pemantauan intensif di beberapa titik, sementara lalu lintas di sekitar Jalan Raya Serang KM 11,5 perlahan mulai menyesuaikan kondisi meski tetap padat.

Perkembangan selanjutnya masih menunggu apakah akan ada langkah lanjutan dari pihak perusahaan maupun serikat pekerja, terutama terkait kemungkinan pertemuan ulang atau mediasi yang diharapkan dapat meredakan ketegangan di lapangan. Untuk sementara, kawasan industri Cikupa kembali menjadi ruang pertemuan antara tuntutan, kepentingan produksi, dan dinamika hubungan kerja yang belum sepenuhnya selesai.

Response (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *