Kabut Asap dan Ancaman Gangguan pada Kesehatan Mata

oleh -11 Dilihat
oleh
Kabut Asap dan Ancaman Gangguan pada Kesehatan Mata

Jakarta | Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia tidak hanya menurunkan kualitas udara dan mengganggu sistem pernapasan. Paparan asap juga dapat memberikan dampak langsung pada kesehatan mata, terutama ketika seseorang berada dalam lingkungan yang dipenuhi asap secara terus-menerus. Mata merupakan bagian tubuh yang berhadapan langsung dengan udara, sehingga permukaannya dapat terpapar dan mengalami gangguan ketika kualitas udara menurun.

Paparan kabut asap dapat memicu iritasi pada permukaan mata. Kondisi ini dapat ditandai dengan rasa perih, panas, gatal, atau tidak nyaman. Pada sebagian orang, mata juga dapat terlihat kemerahan dan lebih mudah berair sebagai respons terhadap gangguan dari lingkungan. Keluhan tersebut dapat muncul selama paparan berlangsung, terlebih apabila mata terus-menerus terpapar asap tanpa jeda yang memadai.

Selain iritasi, kabut asap berisiko menyebabkan peradangan pada permukaan mata. Peradangan dapat membuat mata terasa semakin sensitif dan menambah ketidaknyamanan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Paparan yang berkelanjutan juga dapat mengganggu keseimbangan kelembapan mata, sehingga memicu mata kering atau dry eye. Ketika permukaan mata tidak memperoleh kelembapan yang cukup, rasa mengganjal, perih, dan lelah pada mata dapat lebih mudah muncul.

Dampak tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mata perlu diperhatikan ketika kabut asap menyelimuti lingkungan. Gangguan pada mata bukan sekadar keluhan ringan yang terpisah dari masalah kualitas udara, melainkan bagian dari risiko kesehatan akibat paparan asap. Dengan demikian, kabut asap perlu dipahami sebagai ancaman yang dapat memengaruhi permukaan mata, selain menimbulkan gangguan pada sistem pernapasan.

Prof. Dr. Budu menjelaskan bahwa kondisi lingkungan merupakan salah satu faktor yang dapat mengganggu kesehatan permukaan mata. Asap, termasuk kabut asap, dapat memicu gangguan ketika partikelnya bersentuhan langsung dengan permukaan mata. Paparan tersebut berpotensi mengurangi kenyamanan, terutama pada mata yang sensitif atau telah mengalami gangguan sebelumnya. Karena itu, kualitas udara di sekitar seseorang perlu diperhatikan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan mata sehari-hari.

Selain asap, Prof. Dr. Budu menyebut debu, angin, dan perubahan kelembapan sebagai faktor lingkungan lain yang dapat memengaruhi permukaan mata. Debu dapat membawa partikel yang mengiritasi, sedangkan angin dapat mempercepat penguapan lapisan air mata. Perubahan kelembapan juga dapat memengaruhi kestabilan lapisan pelindung tersebut. Ketika perlindungan alami mata terganggu, permukaan mata menjadi lebih mudah merasakan perih, panas, gatal, berair, atau seperti kemasukan benda asing.

Alur gangguan itu bermula dari paparan lingkungan terhadap permukaan mata. Paparan asap, debu, angin, atau kondisi kelembapan yang berubah dapat menimbulkan iritasi. Jika iritasi berlangsung terus-menerus atau paparan terjadi berulang, risiko terjadinya peradangan akan meningkat. Dengan demikian, gangguan yang pada awalnya mungkin terasa ringan tidak sebaiknya diabaikan, terutama apabila keluhan menetap atau bertambah berat. Mengurangi paparan dan memberikan perhatian lebih pada kondisi mata dapat membantu mencegah gangguan berkembang.

Penjelasan tersebut disampaikan Prof. Dr. Budu dalam media briefing Hari Penglihatan Sedunia 2026 yang mengangkat tema “Jangan Tunggu Mata Bermasalah: Saatnya Peduli Kesehatan Mata” pada Selasa, 13 Oktober 2026. Pernyataan itu menegaskan pentingnya mengenali pengaruh lingkungan terhadap permukaan mata serta memahami bahwa iritasi yang berlanjut dapat meningkatkan risiko peradangan.

Menurut Budu, peradangan akibat paparan kabut asap tidak hanya menimbulkan rasa perih atau kemerahan pada mata. Proses tersebut juga dapat mengganggu kerja bagian-bagian mata yang berperan dalam membentuk dan mempertahankan lapisan air mata. Lapisan ini bukan sekadar air biasa, melainkan tersusun atas beberapa unsur yang bekerja bersama untuk menjaga permukaan mata tetap lembap dan terlindungi.

Salah satu unsur yang terdampak adalah bagian mata yang menghasilkan cairan. Cairan tersebut membantu membasahi permukaan mata sehingga mata dapat berkedip dengan nyaman dan tidak mudah terasa mengganjal. Selain itu, terdapat pula komponen lemak dalam lapisan air mata. Komponen ini berfungsi membantu mempertahankan cairan agar tidak cepat menguap, sekaligus membentuk perlindungan pada permukaan mata terhadap paparan dari luar.

Ketika peradangan mengganggu produksi atau kualitas kedua unsur tersebut, keseimbangan lapisan air mata ikut berubah. Jumlah cairan yang tersedia dapat berkurang, sedangkan air mata yang terbentuk mungkin lebih cepat menguap. Akibatnya, permukaan mata tidak memperoleh kelembapan dan perlindungan yang memadai. Kondisi inilah yang membuat mata menjadi lebih rentan mengalami kekeringan atau dry eye.

Gangguan tersebut dapat dirasakan melalui berbagai keluhan, seperti mata terasa kering, panas, perih, gatal, atau seolah-olah terdapat pasir di dalamnya. Pada sebagian orang, mata bahkan dapat mengeluarkan air berlebihan sebagai respons terhadap iritasi. Namun, keluarnya air mata secara berlebihan tidak selalu berarti permukaan mata telah terlindungi dengan baik, karena komposisi dan kemampuan air mata dalam mempertahankan kelembapan tetap dapat terganggu oleh peradangan.

Dengan demikian, hubungan kabut asap, peradangan, dan mata kering berlangsung melalui gangguan pada sistem pelindung alami mata. Semakin terganggu bagian penghasil cairan dan komponen lemak dalam lapisan air mata, semakin besar pula risiko permukaan mata kehilangan kelembapan serta menjadi sensitif terhadap iritan.

Gangguan kesehatan mata akibat faktor lingkungan tidak hanya berkaitan dengan kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan. Menurut Budu, berbagai sumber asap yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari juga dapat memengaruhi kondisi mata. Asap dapur, misalnya, dapat membawa partikel dan senyawa iritan yang memicu mata merah, terasa perih, berair, atau kering, terutama apabila sirkulasi udara di dalam ruangan kurang baik. Paparan yang berulang dapat membuat permukaan mata lebih sensitif terhadap lingkungan.

Asap kendaraan di jalan raya juga menjadi perhatian, khususnya bagi masyarakat yang sering beraktivitas di kawasan dengan lalu lintas padat. Campuran asap, debu, dan partikel polusi dapat menempel pada permukaan mata atau masuk ke dalamnya ketika seseorang mengucek mata. Selain itu, asap dari kebakaran hutan dapat menyebar ke wilayah yang jauh dari titik api. Kandungan partikelnya berpotensi memperburuk iritasi dan keluhan pada orang yang memiliki mata sensitif atau penyakit mata sebelumnya.

Lingkungan yang berdebu dan menyebabkan iritasi berkepanjangan juga dapat berkontribusi terhadap penyakit mata tertentu, termasuk pterigium. Pterigium merupakan pertumbuhan jaringan menyerupai selaput pada permukaan mata, yang umumnya muncul dari bagian putih mata dan dapat meluas ke arah kornea. Budu menyebut wilayah padang pasir sebagai contoh lingkungan dengan paparan debu tinggi, tempat kondisi tersebut banyak ditemukan. Paparan debu, angin, serta sinar matahari secara terus-menerus dapat menjadi faktor yang memperbesar risikonya.

Budu mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan mata dengan mengurangi paparan asap dan debu, menggunakan pelindung mata ketika diperlukan, serta tidak mengucek mata dengan tangan yang belum bersih. Ketika kondisi udara memburuk, masyarakat perlu turut menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi sumber asap, dan memperhatikan kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. Langkah tersebut penting untuk membantu melindungi kesehatan mata sekaligus mendukung udara yang lebih aman bagi semua.

Baca juga: Kualitas Udara Jakarta 5 September 2026: Ancaman Bagi Kesehatan | Tingkatkan Literasi Kesehatan, Koramil Trucuk Bojonegoro dan Puskesmas Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis | Berita Terkini Kesehatan dari Menteri Kesehatan RI