Palembang | Karhutla di Sumatera Selatan masih meluas pada Senin, 19 Oktober 2026. Data Pusat Pengendalian Operasi BPBD Sumsel yang bersumber dari Sipongi mencatat 1.111 titik panas hingga pukul 05.00 WIB. Angka tersebut menunjukkan sebaran hotspot yang perlu terus dipantau, terutama di sejumlah kabupaten yang selama ini menjadi wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan.
Konsentrasi tertinggi tercatat di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), dengan 386 titik panas. Banyuasin berada di urutan berikutnya dengan 257 titik, disusul Musi Banyuasin sebanyak 161 titik. Tiga wilayah tersebut mencatat jumlah terbesar dalam data pagi itu. Sebarannya memperlihatkan bahwa perhatian terhadap karhutla tidak hanya tertuju pada satu kabupaten, melainkan mencakup beberapa kawasan di Sumatera Selatan.
Di wilayah lain, Muara Enim tercatat memiliki 61 titik panas dan Ogan Komering Ulu Timur 51 titik. Musi Rawas Utara melaporkan 46 titik, sementara Musi Rawas mencatat 32 titik. Ogan Komering Ulu memiliki 29 titik dan Ogan Ilir 25 titik. Sejumlah kabupaten lainnya juga mencatat hotspot dalam jumlah belasan, meski data yang dirangkum tidak merinci angka masing-masing daerah.
Catatan titik panas merupakan indikator yang perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lapangan; angka tersebut tidak dengan sendirinya memastikan bahwa setiap titik merupakan kebakaran aktif. Karena itu, pemantauan dan verifikasi tetap penting untuk mengetahui kondisi sebenarnya, sekaligus menentukan respons yang sesuai di tiap lokasi. Pembaruan data juga dibutuhkan agar perubahan sebaran dapat dikenali dari waktu ke waktu.
Dengan jumlah yang mencapai 1.111 titik dalam pencatatan tersebut, sebaran karhutla menjadi gambaran penting bagi upaya pengawasan di Sumsel. Rincian per kabupaten membantu menunjukkan wilayah dengan konsentrasi hotspot terbesar, sementara temuan di daerah lain mengingatkan bahwa pengamatan perlu menjangkau seluruh kawasan. Data ini menjadi dasar untuk menilai perkembangan situasi pada pagi itu, bukan pengganti verifikasi langsung atas kondisi di lapangan.
Jumlah titik panas di Sumatera Selatan pada 19 Oktober 2026 tercatat sebanyak 1.111 titik. Angka ini menunjukkan penurunan cukup tajam dibandingkan catatan sehari sebelumnya, ketika jumlah hotspot mencapai 1.560 titik pada 18 Oktober. Selisihnya sebanyak 449 titik, atau sekitar 29 persen. Perubahan tersebut menjadi perkembangan yang patut dicermati di tengah upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan yang masih berlangsung di berbagai wilayah.
Data beberapa hari sebelumnya memperlihatkan jumlah hotspot bergerak naik turun. Pada 16 Oktober, tercatat 2.559 titik panas, angka tertinggi dalam rangkaian catatan tersebut. Sehari kemudian, jumlahnya turun menjadi 1.122 titik, sebelum kembali meningkat menjadi 1.560 titik pada 18 Oktober. Dengan demikian, catatan 19 Oktober bukan hanya lebih rendah daripada hari sebelumnya, tetapi juga berada jauh di bawah puncak yang tercatat pada 16 Oktober. Meski begitu, jumlahnya masih tergolong besar.
Penurunan harian ini belum dapat diartikan bahwa kebakaran telah berakhir atau kondisi sudah sepenuhnya terkendali. Titik panas merupakan indikator yang perlu dibaca bersama situasi lapangan, karena kebakaran masih terjadi dan dapat berubah mengikuti cuaca serta kondisi vegetasi. Tim gabungan tetap melakukan pemadaman dan penanganan di lokasi terdampak. Pemantauan berkala juga diperlukan untuk mengenali titik yang kembali aktif dan menentukan prioritas respons. Perbandingan angka dari hari ke hari membantu menggambarkan perubahan, tetapi belum menjelaskan seluruh dampak kebakaran terhadap masyarakat maupun lingkungan. Karena itu, angka 1.111 pada 19 Oktober memberi sinyal penurunan dibandingkan hari sebelumnya, sekaligus menegaskan perlunya kewaspadaan dan kerja penanggulangan yang berkelanjutan.Kualitas udara Palembang masih berubah-ubah berdasarkan catatan Stasiun Talang Betutu pada Senin, 19 Oktober. Pengukuran menunjukkan kadar PM2.5 tidak bergerak dalam satu arah sepanjang hari, sehingga angka pada tiap waktu perlu dibaca sebagai kondisi pada saat pencatatan, bukan sebagai gambaran yang berlaku terus-menerus. Pada pukul 10.00 WIB, konsentrasi PM2.5 tercatat 66,8 mikrogram per meter kubik dan masuk kategori tidak sehat.
Catatan yang tersedia menyebut perbaikan mulai tampak sejak pukul 07.00 WIB, saat PM2.5 berada di angka 186,7 mikrogram per meter kubik. Setelah itu, kadar disebut meningkat pada jam-jam berikutnya. Namun, angka pukul 10.00 WIB tercatat lebih rendah, yakni 66,8 mikrogram per meter kubik. Perbedaan angka tersebut memperlihatkan pentingnya merujuk waktu pengukuran secara spesifik. Data ini tidak cukup untuk menyatakan bahwa kualitas udara membaik atau memburuk secara konsisten pada seluruh rentang waktu.
Pada periode dini hari, pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, PM2.5 berada dalam kisaran 311,4 sampai 507,1 mikrogram per meter kubik. Rentang kadar tersebut dikategorikan berbahaya. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pada jam-jam tersebut paparan partikel halus tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan pengukuran pukul 10.00 WIB. Meski demikian, setiap nilai tetap merujuk pada waktu pencatatan masing-masing.
Kondisi kembali tercatat memburuk pada pukul 13.00 WIB. Konsentrasi PM2.5 saat itu mencapai 212,8 mikrogram per meter kubik dan berada pada kategori sangat tidak sehat. Dengan demikian, data pada 19 Oktober mencakup beberapa tingkat kualitas udara, dari berbahaya pada dini hari, tidak sehat pukul 10.00 WIB, hingga sangat tidak sehat pada pukul 13.00 WIB. Perubahan tersebut menegaskan bahwa kualitas udara Palembang berfluktuasi dalam catatan harian Stasiun Talang Betutu. Angka pengukuran dan kategorinya memberi potret kondisi pada waktu tertentu, tanpa memastikan pola perubahan di luar waktu yang tercatat.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menyatakan tim Manggala Agni masih melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di lima wilayah: Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Muara Enim, Ogan Ilir, Kota Palembang, dan Musi Banyuasin. Sejumlah titik api dilaporkan belum padam, sementara kebakaran di beberapa lokasi telah berlangsung selama beberapa hari. Keterangan tersebut menunjukkan bahwa penanganan masih berjalan di sejumlah kawasan, dengan petugas berupaya memadamkan titik-titik yang tersisa. Ferdian tidak merinci penyebab awal kebakaran maupun perkembangan operasi lebih lanjut dalam keterangan yang tersedia.
Di Kabupaten OKI, lokasi kebakaran yang disebut berada di Ujung Tanjung, Kecamatan Tulung Selapan. Sementara itu, di Muara Enim terdapat beberapa titik, yakni Desa Karang Agung, Kecamatan Lalan, serta Desa Dumai dan Desa Putak, Kecamatan Gelumbang. Untuk Kabupaten Musi Banyuasin, pemadaman berlangsung di kawasan Muara Medak. Penyebutan beberapa desa dan kecamatan tersebut memperlihatkan bahwa titik penanganan tersebar di lebih dari satu wilayah administratif. Tim Manggala Agni masih bekerja di lokasi-lokasi itu, meski sebagian kebakaran telah berlangsung selama beberapa hari dan belum seluruh titik berhasil dipadamkan.
Di Kabupaten Ogan Ilir, kebakaran dilaporkan berada di sekitar pintu tol Keramasan dan Desa Ibul Besar, Kecamatan Pemulutan. Adapun di Kota Palembang, lokasi yang disebut adalah Sukamulya, Kecamatan Sematang Borang. Dengan demikian, pemadaman mencakup area kabupaten dan kota di Sumatera Selatan, mulai dari OKI hingga Palembang. Informasi dari Ferdian menegaskan bahwa masih ada titik yang perlu ditangani oleh petugas. Namun, keterangan tersebut tidak menyertakan rincian mengenai luas lahan terbakar, jumlah personel, ataupun perkiraan waktu pemadaman selesai. Daftar lokasi yang disampaikan menjadi gambaran cakupan operasi saat tim terus menangani kebakaran yang masih berlangsung di lima wilayah tersebut.
Baca juga: Perlindungan Habitat Gajah di Sumsel dari Ancaman Karhutla | Antisipasi Dampak Kabut Asap Karhutla, Babinsa Koramil 0908-01/Loktuan Bagikan Masker kepada Warga | Lanud Sjamsudin Noor Kerahkan Tangki Portable dan Gambut Injection di Kawasan Ring I Bandara Sjamsudin Noor Atasi Titik Api Karhutla
