Katarak Masih Jadi Penyebab Utama Kebutaan Lansia di Indonesia

oleh -12 Dilihat
oleh
Katarak Masih Jadi Penyebab Utama Kebutaan Lansia di Indonesia

Jakarta | Ancaman kebutaan masih membayangi masyarakat Indonesia, terutama kelompok lanjut usia. Di berbagai persoalan kesehatan mata, katarak menjadi penyebab terbesar kebutaan pada penduduk berusia di atas 50 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa gangguan penglihatan bukan hanya persoalan individu, melainkan tantangan kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian berkelanjutan. Ketika tidak terdeteksi dan ditangani, katarak dapat mengurangi kemampuan seseorang untuk menjalankan aktivitas sehari-hari serta mempertahankan kemandirian pada usia lanjut.

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami), Prof. Dr. Budu, Ph.D., Sp.M(K), M.Med.Ed., memaparkan bahwa sekitar 81,2% kasus kebutaan pada kelompok usia di atas 50 tahun disebabkan oleh katarak. Data tersebut menegaskan besarnya beban katarak dalam persoalan kebutaan di Indonesia. Tingginya proporsi itu juga memperlihatkan pentingnya perhatian khusus terhadap kesehatan mata masyarakat lanjut usia, termasuk melalui pemantauan kondisi penglihatan secara berkala.

Persoalan tersebut menjadi perhatian pemerintah dalam momentum Hari Penglihatan Sedunia 2026 yang diperingati pada 8 Oktober. Peringatan ini menjadi kesempatan untuk memperkuat kesadaran bahwa kebutaan akibat katarak perlu dihadapi melalui langkah yang terarah dan berkesinambungan. Pemerintah menempatkan pencegahan kebutaan sebagai salah satu fokus penting, sehingga masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan mata dan mengenali perubahan penglihatan sejak awal.

Selain pencegahan, fokus pemerintah mencakup deteksi dini dan perluasan akses penanganan bagi masyarakat yang membutuhkan. Deteksi yang dilakukan lebih awal dapat membantu menemukan katarak sebelum gangguan penglihatan berkembang semakin berat. Sementara itu, akses penanganan yang lebih luas diperlukan agar kelompok lanjut usia di berbagai wilayah memiliki kesempatan memperoleh layanan kesehatan mata secara memadai. Upaya terpadu melalui edukasi, pemeriksaan, dan layanan penanganan menjadi bagian penting dalam mengurangi beban kebutaan akibat katarak di Indonesia.

Pemerintah menegaskan bahwa kesehatan mata merupakan bagian penting dari kualitas hidup setiap orang, bukan hanya bagi kelompok lanjut usia. Perhatian terhadap penglihatan perlu dibangun sejak anak-anak, berlanjut pada usia produktif, hingga masa lansia. Penglihatan yang baik membantu seseorang belajar, bekerja, berinteraksi, dan menjalankan aktivitas sehari-hari secara aman serta mandiri.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, dr. Andi Saguni, MA., menyampaikan bahwa gangguan penglihatan dapat berdampak luas terhadap kehidupan seseorang. Dampaknya dapat terlihat pada kesehatan secara umum, proses pendidikan, produktivitas, keselamatan, serta kemampuan untuk mempertahankan kemandirian. Karena itu, masalah mata perlu dipandang sebagai persoalan kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian berkelanjutan.

Pesan tersebut disampaikan dalam media briefing di Kementerian Kesehatan pada Selasa, 13 Oktober 2026. Dalam kesempatan itu, pemerintah mengangkat tema nasional Hari Penglihatan Sedunia 2026, yaitu “Skrining Mata, Langkah Kecil untuk Manfaat Besar”. Tema ini menjadi ajakan agar masyarakat menjadikan pemeriksaan mata secara berkala sebagai bagian dari kebiasaan menjaga kesehatan, sebagaimana pemeriksaan kesehatan lainnya.

Andi mengimbau masyarakat tidak menunggu sampai gangguan penglihatan menjadi berat untuk memeriksakan mata. Skrining dapat membantu menemukan kelainan sejak lebih awal, termasuk masalah yang belum menimbulkan keluhan nyata. Dengan deteksi dini, tenaga kesehatan dapat menentukan tindak lanjut yang sesuai, seperti pemantauan, pemberian alat bantu penglihatan, pengobatan, atau rujukan untuk penanganan lebih lanjut. Langkah sederhana tersebut penting untuk mengurangi risiko gangguan berkembang dan menjaga kualitas hidup pada setiap tahap usia.

Pemerintah memasukkan pemeriksaan mata ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2026 sebagai bagian dari upaya memperluas deteksi dini gangguan kesehatan. Kebijakan ini penting karena penurunan penglihatan pada lansia kerap berlangsung perlahan dan tidak selalu segera disadari. Melalui pemeriksaan yang dapat diakses di fasilitas pelayanan kesehatan primer, masyarakat memiliki kesempatan untuk mengetahui kondisi penglihatannya sebelum gangguan berkembang lebih jauh atau menghambat aktivitas sehari-hari.

Di tingkat layanan primer, pemeriksaan mata berfungsi untuk menemukan gangguan ketajaman penglihatan dan kelainan refraksi, seperti rabun jauh, rabun dekat, atau astigmatisme. Pemeriksaan tersebut juga dapat membantu mengidentifikasi dugaan penyakit yang memerlukan perhatian lebih lanjut, termasuk katarak, glaukoma, dan retinopati. Dengan demikian, kegiatan ini bukan hanya berkaitan dengan kebutuhan menggunakan kacamata, tetapi juga menjadi langkah awal untuk mengenali masalah mata yang berpotensi menyebabkan gangguan penglihatan serius.

Namun, skrining tidak boleh dipahami sebagai tujuan akhir layanan. Hasil pemeriksaan di fasilitas kesehatan primer merupakan dasar untuk menentukan apakah seseorang memerlukan evaluasi tambahan, pemantauan, rujukan, atau tindakan medis tertentu. Masyarakat yang terindikasi mengalami gangguan mata tetap perlu menjalani pemeriksaan dan penanganan lanjutan sesuai kondisi serta kebutuhan masing-masing. Tindak lanjut penting dilakukan agar dugaan penyakit dapat dipastikan melalui pemeriksaan yang lebih menyeluruh dan ditangani pada waktu yang tepat.

Andi menekankan pentingnya kesinambungan pelayanan dalam pelaksanaan program tersebut. Masyarakat menjalani skrining, gangguan ditemukan, kemudian pasien memperoleh tindak lanjut berdasarkan kebutuhan dan kompetensi layanan yang tersedia. Alur ini memastikan hasil pemeriksaan tidak berhenti sebagai catatan administratif, melainkan terhubung dengan layanan kesehatan berikutnya. Dengan sistem yang berkesinambungan, CKG dapat menjadi pintu awal penemuan gangguan mata sekaligus mendukung pencegahan kebutaan melalui deteksi, rujukan, dan penanganan yang lebih terarah.

Perluasan operasi katarak menjadi langkah penting setelah masyarakat menjalani deteksi dan pemeriksaan awal. Pemerintah bersama berbagai pihak berupaya meningkatkan kapasitas layanan, memperkuat rujukan, serta mendorong penderita yang telah teridentifikasi agar segera memperoleh tindakan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang dipaparkan Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami), sebanyak 634.642 orang menjalani operasi katarak sepanjang 2025. Jumlah tersebut setara dengan 92 persen dari target nasional, sehingga menunjukkan adanya kemajuan dalam penanggulangan gangguan penglihatan akibat katarak.

Upaya tersebut juga didukung peta jalan kesehatan penglihatan 2025–2030. Dokumen ini menargetkan sedikitnya 60 persen penderita katarak memperoleh operasi dengan hasil optimal. Target itu tidak hanya menekankan jumlah tindakan, tetapi juga mutu layanan, keselamatan pasien, ketepatan pemulihan penglihatan, serta tindak lanjut setelah operasi. Dengan pendekatan tersebut, operasi katarak diharapkan dapat mengembalikan kemandirian lansia dan mengurangi beban kebutaan yang sebenarnya dapat dicegah.

Namun, peningkatan cakupan nasional belum otomatis berarti akses layanan telah merata. Masyarakat di daerah terpencil dan wilayah kepulauan masih menghadapi kendala geografis, termasuk jarak antarpulau, keterbatasan transportasi, serta kondisi infrastruktur yang menyulitkan perjalanan menuju rumah sakit. Distribusi dokter spesialis mata dan tenaga pendukung juga belum seimbang, karena sebagian besar masih terkonsentrasi di kota besar. Selain biaya tindakan, pasien dan keluarganya harus memperhitungkan ongkos perjalanan, penginapan, serta kehilangan pendapatan selama menjalani pemeriksaan dan pemulihan.

Menurut Budu, kenaikan usia harapan hidup perlu diiringi kesiapan layanan kesehatan mata yang memadai. Risiko katarak meningkat seiring pertambahan usia, sehingga dukungan bagi masyarakat lanjut usia harus mencakup pemeriksaan berkala, rujukan yang cepat, pembiayaan, dan pendampingan menuju fasilitas kesehatan. Pemerataan layanan menjadi kunci agar kemajuan operasi katarak tidak hanya tercatat dalam angka nasional, tetapi juga dirasakan oleh lansia di berbagai daerah.

Baca juga: Kecelakaan Minibus di Depok: Penyebab dan Upaya Pertolongan | Kenaikan Harga Cabai Rawit: Faktor Penyebab dan Dampaknya di Jakarta