Kemarau Panjang Dorong Harga Cabai di Tigaraksa Naik Tajam

oleh -44 Dilihat
oleh
Kenaikan Harga Cabai di Tigaraksa Akibat El Nino

KABUPATEN TANGERANG, BANTEN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, Kenaikan harga sejumlah komoditas cabai mulai terasa di Pasar Gudang Tigaraksa, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Perubahan harga tersebut terjadi ketika kemarau panjang yang disebut dipicu oleh fenomena El Nino Godzilla mulai berdampak pada sektor pangan. Kondisi itu terlihat dari meningkatnya harga beberapa jenis cabai yang diperdagangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Cabai rawit merah menjadi komoditas dengan kenaikan harga paling tinggi di pasar tersebut. Berdasarkan keterangan pedagang sayur bernama Norman, harga cabai rawit merah sebelumnya berada di kisaran Rp65.000 per kilogram. Kini, komoditas tersebut dijual dengan harga mencapai Rp85.000 per kilogram.

Dengan demikian, harga cabai rawit merah mengalami kenaikan sebesar Rp20.000 per kilogram dibandingkan harga sebelumnya. Perubahan itu menjadi salah satu perkembangan harga pangan yang berlangsung di tengah kemarau panjang. Para pembeli yang datang ke Pasar Gudang Tigaraksa kini mendapati harga cabai rawit merah berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada sebelumnya.

Keterangan mengenai kenaikan tersebut disampaikan langsung oleh Norman sebagai pedagang sayur di Pasar Gudang Tigaraksa. Ia menyebutkan perbandingan harga sebelum dan sesudah terjadi kenaikan, dengan harga sebelumnya sekitar Rp65.000 per kilogram dan harga terkini Rp85.000 per kilogram. Data itu menunjukkan bahwa cabai rawit merah menjadi jenis cabai yang mengalami lonjakan paling tinggi dalam pemberitaan mengenai kenaikan harga sejumlah komoditas cabai di pasar tersebut.

Kenaikan harga cabai rawit merah ini menandai mulai munculnya dampak kemarau panjang terhadap sektor pangan. Di Pasar Gudang Tigaraksa, perubahan tersebut tercermin melalui harga cabai yang harus dibayar konsumen. Fenomena El Nino Godzilla yang disebut berkaitan dengan kemarau panjang itu menjadi latar berlangsungnya kenaikan harga komoditas cabai, terutama cabai rawit merah yang kini mencapai Rp85.000 per kilogram.

Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada komoditas cabai dengan lonjakan tertinggi. Cabai merah keriting juga mengalami peningkatan harga di tengah kemarau panjang yang berlangsung di wilayah Tigaraksa. Berdasarkan perkembangan harga yang disampaikan, cabai merah keriting kini dijual dengan harga Rp60.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp40.000 per kilogram. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap harga komoditas cabai turut dirasakan pada jenis cabai lainnya.

Selisih harga sebesar Rp20.000 per kilogram membuat cabai merah keriting menjadi salah satu komoditas yang mengalami kenaikan cukup terasa bagi konsumen. Kenaikan ini menambah beban pengeluaran masyarakat yang membutuhkan cabai untuk kebutuhan rumah tangga maupun usaha makanan. Pergerakan harga tersebut juga memperlihatkan bahwa kondisi pasokan dan perdagangan cabai sedang mengalami perubahan, meskipun keterangan yang tersedia tidak merinci faktor lain di luar dampak kemarau panjang.

Norman menyampaikan bahwa peningkatan harga cabai merah keriting sebenarnya telah berlangsung sejak beberapa minggu sebelumnya. Menurut keterangannya, kenaikan itu sudah terjadi mulai dari tingkat pasar induk. Pernyataan tersebut memperjelas bahwa perubahan harga yang terlihat di tingkat penjualan bukan berlangsung secara tiba-tiba, melainkan telah berkembang dalam beberapa pekan. Dengan harga yang bergerak dari Rp40.000 menjadi Rp60.000 per kilogram, cabai merah keriting ikut menjadi komoditas yang terdampak dalam perkembangan harga cabai di Tigaraksa.

Pedagang menyebut cuaca ekstrem dan kemarau panjang sebagai pemicu utama kenaikan harga cabai di Tigaraksa. Curah hujan yang sangat rendah membuat ketersediaan air untuk lahan pertanian menurun, sementara suhu udara yang tinggi memperberat kondisi tanaman. Situasi tersebut dirasakan dalam rantai pasokan pangan, terutama sejak cabai masih berada di tingkat petani hingga komoditas itu dikirim ke pasar. Menurut keterangan pedagang, gangguan pada tahap produksi menyebabkan jumlah cabai yang dapat dipasok ke pasar tidak sebanyak biasanya.

Kondisi kekeringan juga membuat proses tanam cabai menjadi lebih sulit. Petani harus menghadapi lahan yang kekurangan air serta risiko tanaman mengalami tekanan akibat perubahan cuaca. Kebutuhan perawatan menjadi lebih besar, tetapi hasilnya belum tentu mampu mengimbangi kerusakan yang terjadi. Norman menyebut banyak tanaman cabai mati sebelum memasuki masa panen. Ia juga mengatakan sebagian petani mengalami gagal panen akibat dampak kemarau panjang tersebut. Keterangan itu menggambarkan besarnya tekanan yang dirasakan petani selama musim kering.

Kerusakan tanaman dan kegagalan panen, menurut penjelasan Norman, berdampak pada berkurangnya pasokan cabai yang masuk ke pasaran. Pedagang kemudian menerima jumlah komoditas yang lebih terbatas dari pemasok, sedangkan kebutuhan pembeli tetap berlangsung. Dalam kondisi pasokan yang menurun, harga cabai di tingkat perdagangan mengalami kenaikan tajam. Para pedagang menilai perubahan harga itu berkaitan dengan sulitnya memperoleh cabai dari daerah produksi. Dengan demikian, kemarau panjang tidak hanya menghambat kegiatan tanam, tetapi juga memengaruhi kesinambungan distribusi cabai dari petani menuju konsumen.

Kenaikan harga cabai di pasar Tigaraksa mulai dirasakan langsung oleh konsumen. Harga yang melambung membuat pengeluaran untuk kebutuhan dapur menjadi lebih besar, sementara kemampuan belanja masyarakat tetap terbatas. Kondisi tersebut mendorong sebagian konsumen mengurangi jumlah cabai yang dibeli. Jika sebelumnya cabai dibeli dalam jumlah tertentu untuk memenuhi kebutuhan memasak, kini pembelian dilakukan lebih sedikit agar total belanja tidak meningkat terlalu jauh.

Pengurangan jumlah pembelian menunjukkan bahwa kenaikan harga turut menekan daya beli masyarakat. Cabai yang tetap dibutuhkan dalam kegiatan rumah tangga menjadi salah satu komoditas yang penggunaannya disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masing-masing konsumen. Sebagian pembeli memilih membeli sesuai kebutuhan paling mendesak, bukan menyimpan persediaan seperti ketika harga masih berada pada tingkat normal.

Perubahan perilaku konsumen tersebut kemudian berdampak pada pedagang di pasar. Volume cabai yang terjual menurun karena pembeli mengurangi jumlah belanja. Bagi pedagang, kondisi ini membuat perputaran barang dan pendapatan harian ikut terpengaruh. Cabai tetap menjadi komoditas yang dicari, tetapi jumlah yang dibeli oleh setiap konsumen tidak lagi sebanyak sebelumnya.

Norman, salah seorang pedagang, menyampaikan bahwa omzet yang diperolehnya turun hingga sepertiga dibandingkan pendapatan normal sebelum harga cabai naik. Penurunan tersebut berkaitan dengan berkurangnya jumlah cabai yang dibeli konsumen di tengah harga yang lebih tinggi. Dengan demikian, dampak kenaikan harga terlihat pada dua sisi pasar, yakni meningkatnya beban belanja masyarakat dan menurunnya omzet pedagang.