Mataram, Nusa Tenggara Barat — Pada Rabu, Korem 162/Wira Bhakti mematangkan kesiapan pengamanan Pertamina Grand Prix of Indonesia atau MotoGP 2026 di Nusa Tenggara Barat melalui Tactical Floor Game (TFG). Kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian persiapan untuk memastikan seluruh unsur pengamanan memahami peran dan tanggung jawab masing-masing sebelum ajang balap motor internasional itu berlangsung.
Simulasi peragaan taktis tersebut digelar di Makorem 162/Wira Bhakti dengan melibatkan unsur terkait dalam skenario pengamanan yang disusun secara terarah. Melalui TFG, setiap satuan dapat menyamakan pemahaman mengenai tugas, jalur koordinasi, pola komunikasi, serta prosedur pengambilan keputusan ketika menghadapi berbagai perkembangan di lapangan.
Pelaksanaan simulasi tidak hanya membahas situasi normal selama rangkaian kegiatan MotoGP, tetapi juga memetakan langkah yang harus ditempuh apabila terjadi kondisi kontinjensi. Skenario tersebut mencakup kemungkinan gangguan keamanan, kepadatan massa, kendala lalu lintas, keadaan darurat, hingga kebutuhan evakuasi di area penyelenggaraan dan lokasi pendukung lainnya.
Dengan menggunakan gambaran situasi yang menyerupai kondisi sebenarnya, TFG memberikan ruang bagi antar-satuan untuk menguji kesiapan dan keterpaduan tindakan. Setiap unsur dituntut mampu merespons informasi secara cepat, meneruskan laporan melalui saluran yang tepat, serta menjalankan prosedur sesuai kewenangan. Pola ini diharapkan dapat mengurangi potensi kesalahan koordinasi ketika personel menghadapi dinamika pengamanan secara langsung.
Langkah awal tersebut diarahkan untuk membangun kesiapan bersama dalam menghadapi beragam keadaan selama Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 berlangsung. Selain memperkuat koordinasi internal, simulasi taktis menjadi sarana untuk memastikan dukungan pengamanan dapat berjalan terukur, adaptif, dan selaras dengan kebutuhan penyelenggaraan kegiatan internasional di Nusa Tenggara Barat.
Kasrem 162/Wira Bhakti Kolonel Inf. I Made Alit Yudana menjelaskan bahwa kompleksitas pengamanan MotoGP 2026 di Nusa Tenggara Barat tidak semata-mata berkaitan dengan jumlah dan kesiapan personel keamanan. Pengamanan harus dipahami sebagai sistem terpadu yang melibatkan seluruh unsur di sekitar arena, sejak tahap kedatangan hingga kepulangan setiap pihak yang berada di kawasan kegiatan.
Pihak yang perlu diperhitungkan dalam pola pengamanan mencakup masyarakat setempat, wisatawan, pebalap, ofisial tim, tamu undangan, penyelenggara, pemerintah daerah, serta unsur terkait lainnya. Masing-masing memiliki kebutuhan, pola pergerakan, dan tingkat kerawanan yang berbeda. Karena itu, rancangan pengamanan harus mampu menjaga keselamatan sekaligus memastikan aktivitas masyarakat dan penyelenggaraan balapan tetap berjalan secara tertib.
Untuk menyatukan pemahaman antarunsur, dilakukan Tactical Floor Game (TFG). Kegiatan ini menjadi sarana untuk memetakan berbagai kemungkinan situasi secara rinci, termasuk jalur keluar-masuk menuju arena, titik rawan, serta pergerakan orang dan kendaraan pada waktu tertentu. Melalui pemetaan tersebut, setiap petugas dapat memahami tugas, tanggung jawab, batas sektor, serta mekanisme koordinasi apabila terjadi perubahan keadaan.
TFG juga digunakan untuk menentukan rute evakuasi dan titik kumpul yang mudah dijangkau, termasuk akses ambulans apabila terdapat peserta atau penonton yang membutuhkan pertolongan medis. Lintasan kendaraan pemadam kebakaran perlu dipastikan tetap terbuka sehingga respons terhadap kebakaran atau keadaan darurat lain dapat dilakukan tanpa hambatan. Selain itu, rumah sakit rujukan dan jalur menuju fasilitas kesehatan turut disiapkan dalam perencanaan.
Lokasi-lokasi yang menjadi prioritas pengamanan juga diidentifikasi berdasarkan tingkat kepadatan, fungsi, dan potensi ancamannya. Dengan pendekatan tersebut, pengamanan tidak hanya berfokus pada arena balap, tetapi mencakup seluruh ekosistem kegiatan. Koordinasi yang baik diharapkan mampu menciptakan kondisi aman bagi semua pihak, sekaligus mendukung kelancaran MotoGP 2026 di NTB.
Dalam Tactical Floor Game, Korem 162/Wira Bhakti membahas berbagai skenario kontinjensi yang berpotensi terjadi selama pelaksanaan MotoGP 2026 di Nusa Tenggara Barat. Simulasi mencakup gempa bumi, tsunami, kebakaran, kecelakaan, kondisi medis massal, gangguan keamanan, dan kepanikan massa. Setiap skenario disusun untuk menguji kesiapan unsur pengamanan dalam menghadapi situasi yang berkembang cepat, termasuk kemampuan melindungi VVIP, pebalap, ofisial, serta penonton.
Selain respons terhadap sumber ancaman atau keadaan darurat, latihan tersebut memperhitungkan tahapan evakuasi dan pergerakan personel di lapangan. Pembahasan meliputi unsur yang bertindak sesuai tugas dan kewenangannya, mekanisme pelaporan dari lokasi kejadian, penyampaian informasi kepada komando maupun masyarakat, serta proses pengambilan keputusan. Jalur evakuasi, titik berkumpul, pengaturan arus pergerakan, dan prioritas penyelamatan juga menjadi bagian dari skenario, sehingga setiap unsur memiliki pemahaman yang sama ketika kondisi nyata terjadi.
I Made Alit menekankan bahwa keberhasilan pengamanan tidak hanya bergantung pada banyaknya personel atau tingkat kesiapan mereka. “Keberhasilan pengamanan tidak hanya ditentukan oleh jumlah dan kesiapan personel, tetapi juga oleh perencanaan, koordinasi, komunikasi cepat, serta ketepatan pengambilan keputusan,” ujarnya. Penekanan ini menunjukkan pentingnya keterpaduan kerja antarsatuan, penyampaian informasi tanpa keterlambatan, dan kejelasan rantai komando. Melalui simulasi, setiap kemungkinan dapat dipetakan lebih awal, sementara kelemahan dalam prosedur, komunikasi, maupun distribusi personel dapat segera dievaluasi dan diperbaiki sebelum agenda balap berlangsung.
Kasrem 162/Wira Bhakti mengarahkan seluruh unsur yang terlibat agar memastikan pembagian tugas dalam pengamanan MotoGP 2026 di Nusa Tenggara Barat berjalan jelas, terukur, dan tidak saling tumpang tindih. Setiap satuan diminta memahami kewenangan, tanggung jawab, serta batas koordinasi masing-masing sehingga pelaksanaan di lapangan dapat berlangsung efektif. Kejelasan tersebut mencakup pengaturan personel, pengendalian wilayah, pengamanan jalur, dukungan medis, hingga penanganan terhadap potensi gangguan selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Selain pembagian tugas, mekanisme komunikasi dan prosedur evakuasi harus dipahami oleh seluruh petugas sebelum pelaksanaan. Menurut arahan Kasrem, jalur penyampaian informasi, pusat kendali, penggunaan alat komunikasi, serta langkah yang harus ditempuh ketika terjadi keadaan darurat perlu dipastikan melalui koordinasi yang berulang dan terarah. Kelemahan yang ditemukan selama Tactical Floor Game (TFG) diminta segera diperbaiki, baik berkaitan dengan personel, peralatan, prosedur, maupun koordinasi antarsatuan. Setiap kekurangan harus ditindaklanjuti sebelum kegiatan dimulai dan tidak boleh baru diketahui ketika situasi darurat telah terjadi.
Kegiatan tersebut diikuti pejabat utama Korem 162/Wira Bhakti, Karoops Polda NTB, para Dandim se-Pulau Lombok, Danlanud Zam, Pasops Lanal Mataram, sejumlah kepala dinas, serta unsur terkait lainnya. Keterlibatan berbagai instansi menjadi bagian penting untuk menyatukan persepsi dan memastikan setiap skenario dapat ditangani sesuai peran masing-masing. Melalui TFG, Korem 162/Wira Bhakti bersama unsur terkait mematangkan kesiapan pengamanan, memperkuat pola koordinasi, serta menyiapkan langkah penanganan keadaan darurat guna mendukung penyelenggaraan MotoGP 2026 di NTB agar berlangsung aman, tertib, dan lancar.

