KSPI Sebut Penutupan Pabrik Lebih Dipicu Lesunya Pasar Ekspor

oleh -21 Dilihat
oleh
KSPI Sebut Penutupan Pabrik Lebih Dipicu Lesunya Pasar Ekspor

Kota Semarang | Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menegaskan bahwa kenaikan upah minimum provinsi (UMP) bukan penyebab utama penutupan pabrik di Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan pers secara virtual pada Selasa, 13 Oktober 2026. Menurutnya, penutupan sejumlah fasilitas produksi lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi pasar, terutama melemahnya permintaan dari negara-negara tujuan ekspor.

Sebelumnya, Said Iqbal menyampaikan usulan kenaikan UMP sebesar 7,5% hingga 9,5%. Besaran tersebut kemudian memunculkan anggapan bahwa peningkatan upah dapat mendorong perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), menghentikan kegiatan produksi, bahkan mengalami kebangkrutan. Kekhawatiran itu didasarkan pada pandangan bahwa kenaikan biaya tenaga kerja akan memperbesar beban operasional perusahaan, khususnya industri yang menghadapi tekanan daya saing.

Namun, Said menyatakan anggapan tersebut tidak sesuai dengan kondisi yang ia lihat di lapangan. Ia menilai faktor utama yang memengaruhi keberlangsungan pabrik bukan semata-mata besaran upah pekerja, melainkan kemampuan perusahaan memperoleh pesanan dan mempertahankan pasar. Ketika permintaan ekspor menurun, perusahaan dapat mengurangi produksi atau menutup fasilitas meskipun tidak ada perubahan besar pada kebijakan upah.

Penjelasan itu menempatkan pembahasan UMP dalam konteks yang lebih luas. Kebijakan upah tetap menjadi bagian penting dalam perlindungan daya beli pekerja, tetapi dampaknya perlu dibaca bersama perkembangan perdagangan global, kinerja industri, serta kebijakan perusahaan. Bagi KSPI, mengaitkan secara langsung kenaikan UMP dengan setiap penutupan pabrik berisiko menyederhanakan persoalan dan mengabaikan tekanan yang berasal dari lesunya pasar ekspor.

Catatan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) untuk periode 2025 hingga Juni 2026 menunjukkan pola yang dinilai penting dalam membaca penutupan pabrik. Berdasarkan catatan tersebut, wilayah yang mencatat penutupan pabrik paling banyak justru merupakan daerah dengan tingkat upah minimum yang relatif rendah. Temuan ini disampaikan sebagai bahan untuk melihat persoalan secara lebih hati-hati, terutama ketika penutupan pabrik kerap dikaitkan langsung dengan kenaikan upah minimum.

Said Iqbal menyebut sejumlah wilayah sebagai contoh, yakni Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Selain itu, ia menyampaikan kawasan Majalengka, Cirebon, dan Sumedang. Lokasi-lokasi tersebut menjadi bagian dari catatan KSPI mengenai penutupan pabrik sepanjang 2025 sampai Juni 2026. Penyebutan wilayah itu tidak dimaksudkan untuk menyamaratakan seluruh kondisi daerah, melainkan untuk menunjukkan adanya pola yang perlu diperhatikan dalam pembahasan mengenai faktor penutupan pabrik.

Argumen yang disampaikan Said Iqbal adalah bahwa data tersebut dapat membantah anggapan bahwa tingkat kenaikan upah minimum menjadi penyebab langsung penutupan pabrik. Jika penutupan paling banyak justru tercatat di wilayah dengan upah minimum rendah, maka hubungan kenaikan upah dan penutupan pabrik tidak dapat ditarik secara sederhana. Catatan itu setidaknya menunjukkan bahwa analisis mengenai penutupan pabrik perlu mempertimbangkan fakta wilayah secara cermat, tanpa segera menempatkan kenaikan upah minimum sebagai penjelasan tunggal. Dengan demikian, contoh Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Majalengka, Cirebon, dan Sumedang digunakan KSPI untuk memperkuat kehati-hatian dalam menilai penyebab penutupan pabrik.

Said Iqbal menyebut melemahnya permintaan terhadap produk sebagai salah satu faktor utama yang mendorong penutupan sejumlah perusahaan. Tekanan tersebut terutama dirasakan oleh perusahaan yang berorientasi ekspor, karena kegiatan produksinya bergantung pada kemampuan pasar internasional menyerap barang yang dihasilkan. Ketika permintaan menurun, perusahaan dapat menghadapi tekanan terhadap kesinambungan produksi dan operasionalnya.

Menurut keterangannya, kondisi perang dan dinamika geopolitik dunia turut berdampak pada turunnya permintaan di pasar internasional. Pernyataan ini menempatkan situasi global sebagai salah satu konteks yang memengaruhi kinerja industri berorientasi ekspor. Perubahan permintaan tersebut kemudian berpengaruh pada perusahaan yang mengandalkan pesanan dari pasar luar negeri sebagai bagian penting dari kegiatan usahanya.

Sektor tekstil, garmen, dan sepatu disebut sebagai kelompok industri yang banyak mengalami penutupan. Ketiga sektor tersebut memiliki banyak perusahaan yang memproduksi barang untuk kebutuhan pasar ekspor, sehingga perubahan permintaan internasional menjadi perhatian penting. Saat pesanan dari pasar ekspor melemah, perusahaan di sektor-sektor itu menghadapi tantangan dalam mempertahankan tingkat produksi dan kegiatan usahanya.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa penutupan perusahaan tidak hanya berkaitan dengan kondisi internal, tetapi juga dengan perubahan pada lingkungan perdagangan global. Bagi perusahaan yang mengandalkan pasar ekspor, penurunan permintaan dapat mengurangi peluang penjualan dan memengaruhi keberlangsungan operasional. Dalam konteks yang disampaikan Said Iqbal, tekanan ini terlihat pada industri tekstil, garmen, dan sepatu, yang termasuk kelompok usaha dengan orientasi ekspor serta disebut mengalami banyak penutupan.

Said Iqbal menyampaikan bahwa persoalan penutupan pabrik bukan kejadian yang berdiri sendiri. Dalam pengalamannya, ia menjumpai sejumlah perusahaan yang mengalami tekanan setelah permintaan dari pasar ekspor menurun. Kondisi tersebut membuat pesanan berkurang, sementara kegiatan produksi dan biaya operasional tetap harus berjalan. Ketidakseimbangan kapasitas produksi dan permintaan kemudian mendorong perusahaan mengambil keputusan yang berdampak pada keberlangsungan operasional pabrik serta tenaga kerja.

Said Iqbal, yang juga disebut sebagai penasihat khusus presiden, mengaku menemukan beberapa kasus dengan pola serupa. Perusahaan-perusahaan tersebut menghadapi kesulitan karena pasar internasional tidak lagi menyerap produk dalam jumlah seperti sebelumnya. Penurunan permintaan itu dapat memengaruhi arus pendapatan, jadwal produksi, dan kemampuan perusahaan mempertahankan fasilitas manufakturnya. Dalam situasi tersebut, keputusan untuk mengurangi kegiatan atau menutup pabrik lebih berkaitan dengan melemahnya pasar tujuan ekspor.

Ia menekankan bahwa persoalan tersebut tidak tepat jika semata-mata dikaitkan dengan besaran upah pekerja. Menurut Said Iqbal, tekanan utama yang terlihat berasal dari perubahan kondisi perdagangan dan berkurangnya pesanan dari luar negeri. Ketika permintaan internasional melemah, perusahaan dapat mengalami penurunan pemasukan meskipun struktur produksi dan jumlah pekerja tidak langsung berubah. Karena itu, pembahasan mengenai penutupan pabrik perlu mempertimbangkan faktor pasar ekspor sebagai bagian penting dari persoalan yang dihadapi perusahaan.