Kabupaten Kotawaringin Timur | Kebakaran lahan gambut di Desa Kandan, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, masih berlangsung hingga Rabu, 14 Oktober 2026. Api yang membakar kawasan tersebut belum sepenuhnya padam sehingga upaya pemadaman terus dilakukan oleh petugas di lapangan. Peristiwa ini menjadi perhatian pemerintah daerah karena terjadi di wilayah gambut, yang memerlukan penanganan khusus dan berkelanjutan.
Berdasarkan keterangan yang tersedia, kebakaran telah berlangsung sejak Sabtu malam, 10 Oktober 2026. Rentang waktu tersebut menunjukkan bahwa penanganan di lokasi masih menghadapi tantangan, terutama karena api berada di area lahan gambut. Pemadaman tidak hanya diarahkan untuk menghentikan kobaran yang terlihat di permukaan, tetapi juga memastikan titik-titik api tidak kembali menyala.
Perkembangan kebakaran di Desa Kandan terus dipantau seiring proses pemadaman yang masih berlanjut. Pemerintah daerah memberikan perhatian terhadap kondisi tersebut karena kebakaran berada di kawasan yang mencakup lahan milik warga dan lahan sitaan. Area yang terbakar itu menjadi bagian dari penanganan petugas selama operasi berlangsung.
Sampai laporan ini diterbitkan pada 14 Oktober 2026, belum ada keterangan bahwa seluruh api telah berhasil dipadamkan. Dengan demikian, kondisi di Desa Kandan masih memerlukan pengawasan dan tindakan lanjutan. Petugas tetap berupaya mengendalikan kebakaran agar tidak meluas, sementara informasi mengenai perkembangan pemadaman terus menjadi perhatian pemerintah daerah dan masyarakat setempat.
Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) gambut di Kandan masih berlanjut hingga malam hari. Petugas gabungan harus bekerja di tengah belukar yang rapat, medan berlumpur, serta jarak pandang terbatas. Kobaran api tidak selalu terlihat jelas karena sebagian bara berada di bawah permukaan gambut. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan ketelitian, tenaga, dan koordinasi yang berkesinambungan.
Sejumlah unsur dikerahkan untuk mempercepat penanganan titik api, mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polri, relawan, hingga unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Mereka menjalankan tugas sesuai peran masing-masing, termasuk menyisir area terbakar, menyalurkan air, membuka akses menuju lokasi, dan memantau kemungkinan munculnya bara baru. Pengerahan bersama ini dilakukan agar api dapat dikendalikan lebih cepat serta dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar dapat ditekan.
Di lokasi, Kapolres Kotawaringin Timur AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidhimantra turut berada di tengah petugas. Ia ikut mengarahkan nozzle pemadam untuk membantu menjinakkan api yang masih menyala di semak dan lahan gambut. Kehadiran pimpinan di lapangan menjadi bagian dari upaya memastikan pemadaman berjalan terkoordinasi, sekaligus memberikan arahan langsung ketika petugas menghadapi titik api yang sulit dijangkau.
Suasana malam tidak mengurangi intensitas pekerjaan. Dengan dukungan peralatan pemadam dan pasokan air, petugas terus menyemprot area yang terbakar serta melakukan pembasahan di sekitar lokasi untuk mencegah api kembali menjalar. Pemantauan tetap dilakukan secara berkala karena kebakaran gambut berpotensi menyebar melalui lapisan bawah tanah. Kerja bersama tersebut juga diarahkan untuk melindungi lahan warga, area sitaan, dan lingkungan di sekitar Kandan dari kerusakan yang lebih luas.
Kapolres Kotawaringin Timur menjelaskan bahwa keterlibatan berbagai unsur di lokasi kebakaran merupakan bagian dari upaya bersama untuk menangani kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kandan. Unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) hadir untuk memastikan penanganan berjalan secara terpadu, mengingat kebakaran masih berlangsung dan membutuhkan koordinasi cepat pemerintah daerah, aparat, serta unsur terkait lainnya.
Kehadiran Forkopimda juga mencerminkan kekompakan dan keseriusan dalam menghadapi kebakaran gambut yang berdampak pada lahan warga maupun area yang telah disita. Dengan berada langsung di lokasi, para pihak dapat melihat kondisi lapangan, menyamakan langkah, serta menentukan kebutuhan penanganan berdasarkan perkembangan titik api dan situasi di sekitar lokasi.
Kadek menyampaikan bahwa pemadaman dilakukan secara bersama-sama dengan tujuan mempercepat penanganan titik api. Upaya tersebut tidak hanya berfokus pada pemadaman sumber api, tetapi juga pada pencegahan agar kebakaran tidak meluas ke area lain. Sinergi berbagai unsur dinilai penting karena karakter lahan gambut dapat menyulitkan proses pemadaman dan memungkinkan bara api bertahan di dalam tanah.
Menurutnya, percepatan penanganan diperlukan untuk mengurangi dampak kebakaran terhadap lingkungan dan warga. Asap, kerusakan vegetasi, serta potensi meluasnya api menjadi perhatian yang harus ditangani secara bersamaan. Karena itu, personel dan unsur yang terlibat terus diarahkan untuk mendukung proses pemadaman sesuai kondisi di lapangan. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penanganan masih berjalan, sehingga seluruh pihak tetap perlu menjaga koordinasi dan memantau perkembangan kebakaran hingga situasi benar-benar dapat ditangani.
Kepala Desa Kandan, Agus Prawito, menyampaikan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih ditangani petugas melanda sejumlah area di wilayah desanya. Selain membakar lahan milik warga, api juga menjalar ke kawasan bekas perusahaan yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian. Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman dan pengendalian api harus dilakukan secara berkelanjutan, terutama karena sebagian area merupakan lahan gambut yang mudah menyimpan bara.
Agus memperkirakan lahan warga yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 15 hektare. Namun, luas lahan eks perusahaan yang turut terbakar belum dapat dipastikan. Petugas masih melakukan pendataan di lapangan karena kondisi lahan yang terbakar cukup luas dan beberapa bagian masih mengeluarkan asap. Perkiraan luas keseluruhan baru dapat diperoleh setelah proses pemadaman serta pemeriksaan lokasi selesai dilakukan.
Lahan eks perusahaan tersebut merupakan kawasan yang sebelumnya telah disita oleh Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH). Status penyitaan itu menjadikan kawasan tersebut berada dalam perhatian pemerintah dan aparat terkait. Kebakaran yang melanda area itu menjadi bagian dari penanganan karhutla yang masih berlangsung di Kabupaten Kotawaringin Timur.
Sampai saat ini, petugas masih melakukan pendinginan di kebun warga yang terbakar. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada bara atau titik panas yang kembali memicu api, khususnya di dalam lapisan gambut. Kapolres juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Warga diminta ikut menjaga lingkungan dan segera melaporkan apabila melihat asap atau titik api, sehingga potensi kebakaran baru dapat dicegah sejak awal. Keterlibatan masyarakat dinilai penting untuk membantu petugas mencegah meluasnya karhutla dan melindungi lahan warga di wilayah Kotawaringin Timur.
Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | GEMMAKO RI: Warga Kisaran Kembali Geram! Pemadaman Listrik Berulang Tanpa Peringatan, PLN Cabang Kisaran Tetap Bungkam

