Kota Bandung | Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana memanggil PT Jasa Marga untuk membahas kemungkinan membuka kembali akses gerbang tol yang dinilai dapat membantu mengurai kepadatan menuju Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung. Rencana ini muncul seiring tingginya arus kendaraan saat Persib Bandung menjalani pertandingan di stadion tersebut.
Pembahasan itu diharapkan menjadi langkah awal untuk mencari pengaturan lalu lintas yang lebih efektif bagi penonton, warga sekitar, dan pengguna jalan lain. Namun, hingga kini belum ada keputusan bahwa akses tol tersebut akan dibuka kembali. Pemprov Jabar masih merencanakan koordinasi dengan pengelola jalan tol sebelum menentukan langkah lanjutan.
GBLA kerap menjadi tujuan ribuan suporter ketika Persib bermain. Pada waktu pertandingan, kendaraan yang bergerak menuju kawasan stadion dapat meningkat dalam periode berdekatan, sehingga sejumlah ruas jalan berpotensi mengalami perlambatan. Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah untuk meninjau berbagai opsi akses dan pengelolaan arus, termasuk kemungkinan pemanfaatan gerbang tol.
Pemanggilan terhadap Jasa Marga dimaksudkan untuk membicarakan aspek teknis dan operasional, serta menilai apakah pembukaan akses dapat dilakukan dengan aman dan sesuai ketentuan. Hal-hal seperti kesiapan jalur, pengaturan kendaraan, dampak terhadap lalu lintas sekitar, dan koordinasi dengan pihak terkait perlu dipertimbangkan sebelum ada keputusan.
Karena itu, rencana membuka kembali akses gerbang tol belum dapat dipastikan akan terwujud. Hasil pembicaraan Pemprov Jabar dan Jasa Marga nantinya akan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan apakah opsi tersebut layak diterapkan, khususnya saat pertandingan Persib berlangsung. Pemerintah juga perlu memastikan pengaturan yang dipilih tidak sekadar memindahkan titik kemacetan ke ruas lain.
Upaya mengurangi kepadatan menuju GBLA membutuhkan koordinasi lintas pihak dan informasi yang jelas kepada masyarakat. Untuk sementara, publik perlu menunggu hasil pembahasan resmi. Sampai keputusan ditetapkan dan diumumkan, akses tol tetap berstatus sebagai opsi yang sedang dikaji, bukan jalur yang telah dibuka kembali bagi penonton.
Deputi CEO PT Persib Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan, menyoroti keterbatasan akses bagi penonton yang hendak menuju Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Masukan tersebut menempatkan jalur kedatangan sebagai salah satu persoalan yang perlu diperhatikan dalam pembahasan pembukaan akses tol. Menurut keterangannya pada Kamis, 15 Oktober 2026, akses yang tersedia saat ini hanya melalui KM 149. Jalur itu melayani arus kendaraan dari arah barat menuju Gedebage, lokasi stadion berada. Dengan kondisi tersebut, pilihan akses bagi penonton belum terbuka dari berbagai arah dan jalur masuk masih bertumpu pada satu akses yang disebutkan.
Adhitia juga menjelaskan bahwa akses menuju stadion dari arah Cileunyi belum tersedia. Selain itu, akses dari arah lain yang ia maksud juga belum dapat digunakan. Keterangan tersebut menunjukkan bahwa penonton yang datang dari arah timur menghadapi keterbatasan pilihan rute menuju kawasan GBLA. Namun, penjelasannya tidak merinci arah lain itu secara lebih spesifik, sehingga cakupan akses yang belum tersedia sebaiknya dipahami sebatas yang disampaikan. Tidak ada rincian tambahan mengenai jalur alternatif, titik masuk lain, atau bentuk akses yang sedang dipertimbangkan dalam keterangan tersebut.
Masukan ini menjadi bagian dari pembahasan mengenai upaya mengurai kepadatan perjalanan menuju stadion. Jika arus penonton hanya dapat memanfaatkan akses melalui KM 149 dari barat ke Gedebage, kendaraan yang datang dari arah berbeda belum memiliki akses langsung sebagaimana dijelaskan Adhitia. Situasi itu membuat keterbatasan jalur perlu menjadi perhatian ketika pemerintah provinsi membahas pembukaan akses tol. Keterangan Adhitia memberi gambaran mengenai kondisi akses yang berlaku saat ini, bukan kepastian bahwa jalur baru telah dibuka atau akan segera tersedia. Karena itu, informasi yang dapat ditegaskan adalah akses menuju GBLA saat ini disebut hanya melalui KM 149, sementara akses dari Cileunyi dan arah lain yang dimaksud belum tersedia.
Adhitia menyebut jalur tol di KM 151 sebagai salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan untuk membantu mengurai kepadatan kendaraan menuju Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Namun, jalur tersebut tidak terhubung langsung dengan kawasan stadion. Karena itu, pengguna jalan yang memilih akses KM 151 tetap perlu melanjutkan perjalanan melalui jaringan jalan yang tersedia untuk mencapai GBLA. Kondisi ini membuat jalur tersebut belum sepenuhnya menjawab kebutuhan akses langsung bagi kendaraan yang hendak menuju lokasi kegiatan. Meski dapat menjadi pilihan perjalanan, keberadaan jalur alternatif itu memiliki keterbatasan terkait konektivitas dengan kawasan stadion.
Dalam keterangannya, Adhitia berharap akses tol dari KM 147 dapat dibuka sehingga kendaraan bisa bergerak lebih langsung menuju GBLA. Usulan tersebut disampaikan sebagai harapan untuk meningkatkan kemudahan perjalanan, terutama ketika arus kendaraan menuju stadion meningkat. Jika akses yang diharapkan itu tersedia, perjalanan dari jalan tol ke kawasan GBLA berpotensi menjadi lebih praktis karena kendaraan tidak harus mengandalkan jalur yang memerlukan sambungan lanjutan. Meski demikian, harapan tersebut tidak berarti bahwa akses KM 147 telah disetujui atau dipastikan akan dibuka. Pernyataan Adhitia perlu dipahami sebagai usulan yang ditujukan untuk menjadi bahan pertimbangan.
Dengan demikian, pembahasan mengenai KM 151 dan KM 147 mencakup dua hal berbeda: jalur KM 151 disebut sebagai alternatif yang ada, sementara akses KM 147 diharapkan dapat menyediakan hubungan yang lebih langsung ke stadion. Adhitia menyampaikan harapan itu dalam konteks upaya mengurangi kepadatan menuju GBLA, bukan sebagai pengumuman keputusan pemerintah maupun pengelola jalan tol. Pembukaan akses, apabila hendak diwujudkan, tentu memerlukan pembahasan dan tindak lanjut dari pihak-pihak terkait. Sampai ada keterangan resmi mengenai keputusan tersebut, akses KM 147 sebaiknya tetap disebut sebagai usulan atau harapan Adhitia, bukan rencana yang sudah ditetapkan. Penegasan ini penting agar informasi mengenai pilihan rute tidak menimbulkan anggapan bahwa perubahan akses telah diputuskan.
Akses di KM 147 menjadi salah satu hal yang kembali diperhatikan dalam pembahasan mengenai upaya mengurai kepadatan kendaraan menuju Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Informasi yang disampaikan menyebutkan bahwa akses tersebut pernah dibuka sekitar dua tahun sebelum keterangan itu diberikan. Namun, akses itu kemudian ditutup kembali. Riwayat tersebut memberi konteks bahwa jalur yang sedang dibicarakan bukan akses yang sama sekali belum pernah digunakan, melainkan akses yang pernah beroperasi dan selanjutnya tidak lagi dibuka. Keterangan ini penting dipisahkan dari rencana atau pembahasan terkini, karena belum menjelaskan apakah akses akan kembali tersedia maupun bagaimana pengoperasiannya kelak. Yang dapat dipastikan dari informasi tersebut hanya pernah dibuka dan kemudian ditutup.
Pembukaan kembali akses KM 147 juga tidak dapat dipahami sebagai tindakan yang cukup dilakukan dengan mengubah pengaturan lalu lintas atau membuka pembatas semata. Keterangan yang tersedia menegaskan bahwa pembukaan akses itu memerlukan pembangunan. Dengan demikian, wacana tersebut berkaitan dengan kebutuhan pekerjaan fisik sebelum akses dapat difungsikan kembali. Informasi yang disampaikan belum memerinci bentuk pembangunan, cakupan pekerjaan, pihak yang akan melaksanakannya, ataupun tahapan yang diperlukan. Karena rincian itu tidak tersedia, pembahasan mengenai akses sebaiknya tetap merujuk pada dua hal yang telah disebutkan: akses pernah dibuka, lalu ditutup kembali, dan pembukaan kembali memerlukan pembangunan. Tidak ada dasar untuk menambahkan gambaran teknis yang belum dikemukakan.
Catatan mengenai riwayat KM 147 dapat membantu menempatkan usulan pembukaan akses dalam konteks yang tepat, terutama ketika pemerintah daerah membahas cara mengelola kepadatan menuju GBLA.
Baca juga: Perubahan Layanan KRL Commuter untuk Mengatasi Kepadatan di Jakarta | Pembukaan GIIAS Bandung 2026: Inovasi dan Merek Terkenal Berpartisipasi | Perubahan Rangkaian KRL di Jakarta: Solusi untuk Kepadatan Penumpang

