Persib Desak Pengusutan Penyerangan Rombongan EPA U-18 di Batang

oleh -54 Dilihat
oleh
Persib Desak Pengusutan Penyerangan Rombongan EPA U-18 di Batang

Bandung | Bus yang membawa pemain dan ofisial Persib EPA U-18 diserang di Rest Area 360 Batang, Jawa Tengah, pada Minggu, 11 Oktober 2026, sekitar pukul 21.30 WIB. Rombongan tersebut sedang melakukan perjalanan ketika insiden terjadi di area peristirahatan yang berada di jalur Pantura itu. Penyerangan terhadap kendaraan tim muda Persib tersebut menimbulkan perhatian karena melibatkan rombongan olahraga yang semestinya dapat menjalani perjalanan dengan aman.

Berdasarkan informasi yang beredar, aksi itu dilakukan oleh sekelompok orang yang mengenakan atribut dengan ciri yang mudah dikenali. Mereka diduga merupakan bagian dari rombongan suporter klub tertentu. Identitas para pelaku serta latar belakang penyerangan masih perlu dipastikan melalui penyelidikan aparat penegak hukum. Karena itu, setiap informasi mengenai keterlibatan kelompok atau pihak tertentu perlu ditempatkan sebagai dugaan sampai terdapat bukti dan keterangan resmi yang memadai.

Insiden tersebut menjadi perhatian serius bagi Manajemen Bandung Bermartabat, badan pengelola Persib, yang menyampaikan kecaman atas penyerangan terhadap bus rombongan EPA U-18. Manajemen menilai tindakan kekerasan, apa pun motif dan latar belakangnya, tidak dapat dibenarkan dalam kegiatan sepak bola. Keamanan pemain, ofisial, serta seluruh pihak yang terlibat harus menjadi tanggung jawab bersama, termasuk ketika sebuah tim melakukan perjalanan ke luar daerah.

Kecaman itu sekaligus menjadi dasar bagi dorongan agar insiden di Rest Area 360 Batang diusut secara menyeluruh. Pengusutan diperlukan untuk menjelaskan rangkaian kejadian, mengidentifikasi pelaku, dan memastikan adanya pertanggungjawaban sesuai ketentuan hukum apabila ditemukan pelanggaran. Langkah tersebut juga penting untuk mencegah terulangnya serangan terhadap rombongan tim sepak bola, terutama kelompok usia muda yang seharusnya memperoleh perlindungan selama menjalani agenda pertandingan maupun perjalanan.

Penyerangan terhadap rombongan Persib EPA U-18 menimbulkan dampak langsung yang merugikan tim. Dalam peristiwa tersebut, kaca bus yang membawa rombongan mengalami kerusakan. Kondisi itu menunjukkan bahwa perjalanan tim tidak berlangsung sebagaimana mestinya dan menimbulkan gangguan terhadap keamanan rombongan. Kerusakan pada kendaraan juga menjadi bagian penting dari perkara yang perlu diperhatikan karena berkaitan langsung dengan keselamatan para pemain dan ofisial yang berada di dalamnya.

Selain kerusakan bus, sebanyak 18 koper milik pemain dilaporkan hilang. Kehilangan tersebut menambah kerugian yang dialami rombongan dan berdampak pada kebutuhan para pemain setelah kejadian. Sejumlah ofisial Persib EPA juga mengalami luka-luka dalam penyerangan itu. Rangkaian dampak tersebut memperlihatkan bahwa perkara ini bukan sekadar gangguan selama perjalanan, melainkan kejadian serius yang memengaruhi keamanan, perlengkapan, serta kondisi anggota rombongan.

Manajemen Persib memandang serangan terhadap rombongan Persib EPA U-18 sebagai tindakan serius yang tidak dapat ditoleransi. Karena itu, kepolisian didesak untuk mengusut perkara tersebut sampai tuntas. Penanganan yang menyeluruh diperlukan agar seluruh dampak kejadian dapat diperjelas dan pihak yang bertanggung jawab dapat dimintai pertanggungjawaban sesuai ketentuan yang berlaku. Persib juga menekankan pentingnya perhatian terhadap perlindungan pemain dan ofisial dalam setiap perjalanan tim, sehingga insiden serupa tidak dianggap sebagai persoalan biasa dan tidak berulang pada kesempatan berikutnya.

Manajemen Persib menilai pembibitan atlet muda merupakan tanggung jawab bersama yang perlu mendapat dukungan dari seluruh pihak. Program pengembangan pemain usia dini tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan klub, tetapi juga menjadi bagian penting dari upaya membangun masa depan olahraga nasional. Karena itu, setiap pemain muda semestinya memperoleh lingkungan yang aman, dukungan moral, serta kesempatan yang memadai untuk mengembangkan kemampuan dan karakter sebagai calon atlet nasional.

Perjalanan menuju prestasi membutuhkan proses panjang, termasuk pengalaman bertanding, pendampingan pelatih, pendidikan, dan perlindungan dari berbagai ancaman. Rasa aman menjadi unsur mendasar agar pemain dapat berkonsentrasi pada perkembangan teknis maupun mental. Dukungan tersebut perlu diberikan oleh klub, penyelenggara kompetisi, suporter, masyarakat, serta pihak-pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap pembinaan olahraga. Dengan kerja sama yang konsisten, talenta muda dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.

Dalam pandangan Persib, kekerasan fisik, perusakan kendaraan, maupun dugaan pengambilan barang milik orang lain tanpa hak tidak dapat dibenarkan dan bukan merupakan bentuk rivalitas sepak bola. Rivalitas seharusnya diwujudkan melalui persaingan sportif di lapangan, penghormatan terhadap lawan, serta kepatuhan terhadap aturan kompetisi. Tindakan yang membahayakan keselamatan dan merugikan pihak lain justru mencederai nilai-nilai olahraga sekaligus mengancam keberlangsungan pembinaan pemain usia muda.

Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan, menyampaikan kecaman terhadap kekerasan yang menimpa rombongan EPA U-18 Persib pada Senin, 12 Oktober 2026. Ia menegaskan bahwa perlindungan terhadap atlet muda harus menjadi perhatian serius dan tidak boleh dikalahkan oleh fanatisme yang berlebihan. Persib mendorong pengusutan secara menyeluruh agar fakta dapat diketahui, pihak yang bertanggung jawab diproses sesuai ketentuan, dan kejadian serupa tidak kembali terulang. Sikap tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa sepak bola harus berkembang dalam suasana aman, bermartabat, dan menjunjung sportivitas.

Viking Persib Club (VPC) menyampaikan respons terpisah terkait penyerangan terhadap rombongan EPA U-18 Persib di Batang. Ketua Umum VPC Tobias Ginanjar menilai pemain dan ofisial junior semestinya memperoleh rasa aman dalam setiap perjalanan maupun kegiatan pertandingan. Mereka bukan hanya bagian dari sebuah tim pada masa kini, melainkan calon penerus sepak bola nasional yang kelak dapat bermain untuk klub mana pun. Karena itu, keselamatan mereka perlu menjadi perhatian bersama, tanpa dipengaruhi oleh identitas klub atau latar belakang suporter.

Menurut Tobias, rivalitas dalam sepak bola harus ditempatkan secara proporsional dan tetap menjunjung sportivitas. Persaingan seharusnya berlangsung selama pertandingan, kemudian berakhir ketika peluit panjang dibunyikan oleh wasit. Setelah laga selesai, tidak semestinya terdapat tindakan provokatif, intimidasi, apalagi kekerasan yang dibawa ke luar lapangan. Perbedaan dukungan terhadap klub tidak dapat dijadikan alasan untuk menyerang rombongan pemain dan ofisial, terlebih mereka yang masih berada dalam kelompok usia pembinaan.

VPC berharap oknum suporter yang diduga menyerang rombongan tersebut dapat diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Langkah tegas diperlukan agar kejadian serupa tidak dianggap sebagai bagian wajar dari rivalitas sepak bola. Tobias juga menilai cuplikan video dan foto yang telah tersebar di ruang publik diharapkan dapat membantu kepolisian mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat serta bergerak cepat dalam melakukan penyelidikan. Penanganan yang transparan dan tuntas penting untuk memberikan rasa keadilan kepada korban, sekaligus mencegah kekerasan atas nama rivalitas kembali terjadi di kemudian hari. Dengan demikian, atmosfer sepak bola dapat berkembang secara sehat dan kegiatan pembinaan pemain muda tetap berlangsung dalam lingkungan yang aman.

Baca juga: Kedatangan Persib di Jakarta: Laga Spesial Persija vs Persib | Laga Derbi Persija vs Persib: Kesiapan Persib Menuju Pertandingan Kunci