Santri Peserta PPSN VI 2026 Belajar Menjaga Alam di Boon Pring

oleh -34 Dilihat
oleh
Santri Peserta PPSN VI 2026 Belajar Menjaga Alam di Boon Pring

KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI 2026 tidak hanya menjadi ajang berkumpulnya santri dari berbagai daerah, tetapi juga ruang pembelajaran yang memperkaya wawasan mereka. Selain mengikuti aktivitas perkemahan dan mengasah keterampilan kepramukaan, para peserta memperoleh kesempatan untuk mempelajari pentingnya menjaga lingkungan hidup melalui kegiatan di luar kawasan perkemahan.

Salah satu agenda tersebut adalah kunjungan edukatif ke Ekowisata Boon Pring di Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kawasan ini dikenal memiliki potensi alam berupa hutan bambu dan sumber daya air yang dikelola sebagai bagian dari kegiatan wisata berbasis lingkungan. Kunjungan para peserta PPSN VI 2026 dirancang agar proses belajar tidak hanya berlangsung melalui penjelasan, tetapi juga melalui pengamatan dan pengalaman langsung di lapangan.

Di Boon Pring, para santri dapat melihat hubungan pemanfaatan potensi alam, pengelolaan kawasan, dan upaya mempertahankan keberlanjutan lingkungan. Mereka diajak memahami bahwa alam dapat memberikan manfaat bagi masyarakat apabila dikelola secara bertanggung jawab. Pada saat yang sama, pemanfaatan tersebut perlu disertai kesadaran untuk menjaga keseimbangan ekosistem agar manfaatnya tetap dirasakan oleh generasi berikutnya.

Pembelajaran berbasis pengalaman seperti ini menjadi bagian penting dalam rangkaian PPSN VI 2026. Peserta tidak hanya menerima pengetahuan mengenai pelestarian alam, tetapi juga menyaksikan praktik pengelolaan lingkungan secara nyata. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab para santri terhadap lingkungan di sekitar mereka. Dengan demikian, kegiatan PPSN memadukan nilai kepramukaan, pendidikan karakter, dan kesadaran ekologis dalam satu rangkaian kegiatan yang relevan bagi kehidupan sehari-hari.

Di kawasan Boon Pring, para santri peserta PPSN VI 2026 memperoleh pengalaman belajar yang berlangsung langsung di tengah lingkungan masyarakat. Mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan mengenai pentingnya menjaga alam, tetapi juga mengamati bagaimana warga mengelola sumber daya alam secara teratur dan berkelanjutan. Suasana pembelajaran menjadi lebih kontekstual karena kegiatan dilakukan di lokasi yang selama ini dimanfaatkan sekaligus dirawat oleh masyarakat sekitar. Pepohonan bambu, sumber air, serta kawasan pendukung lainnya menjadi bagian dari ruang belajar yang memperlihatkan hubungan erat kelestarian lingkungan dan kehidupan warga.

Dalam kunjungan tersebut, santri diperkenalkan pada berbagai upaya pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat. Mereka melihat bahwa pemanfaatan alam tidak semata-mata diarahkan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga disertai tanggung jawab untuk mempertahankan fungsi ekologisnya. Masyarakat memiliki peran dalam merawat kawasan, mengatur pemanfaatan sumber daya, menjaga kebersihan, serta memastikan lingkungan tetap dapat memberikan manfaat bagi generasi berikutnya. Pengetahuan itu membantu peserta memahami bahwa pengelolaan lingkungan memerlukan partisipasi bersama, aturan yang dipatuhi, dan kepedulian yang dilakukan secara konsisten.

Pengalaman mengamati praktik tersebut memberikan nilai edukatif yang kuat bagi peserta PPSN. Santri dapat membandingkan materi tentang pelestarian alam yang dipelajari secara teoritis dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menyaksikan bahwa kegiatan sederhana, seperti merawat tanaman, menjaga kebersihan sumber air, dan menggunakan hasil alam secara bijaksana, dapat membentuk sistem perlindungan lingkungan yang nyata. Interaksi dengan masyarakat juga mendorong santri untuk melihat pentingnya keteladanan, kerja sama, dan tanggung jawab sosial dalam menjaga alam. Melalui pembelajaran di Boon Pring, kepedulian terhadap lingkungan dipahami bukan sebagai gagasan abstrak, melainkan sebagai kebiasaan yang perlu diwujudkan melalui tindakan bersama.

Dalam rangkaian kegiatan di Boon Pring, para santri peserta PPSN VI 2026 memperoleh pengenalan mengenai pemanfaatan sumber daya air melalui pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH). Pengalaman ini memperluas pemahaman mereka bahwa air tidak hanya penting bagi kehidupan sehari-hari, tetapi juga memiliki potensi untuk mendukung kebutuhan energi. Dengan melihat pemanfaatan air secara langsung, para santri diajak mengenali hubungan kelestarian alam dan upaya memenuhi kebutuhan masyarakat.

PLTMH menjadi contoh pemanfaatan energi terbarukan yang bersumber dari lingkungan sekitar. Potensi air diolah menjadi energi yang dapat membantu menyediakan kebutuhan listrik bagi warga. Pengenalan tersebut menunjukkan bahwa sumber daya alam dapat dimanfaatkan secara bijaksana tanpa mengabaikan pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan. Bagi para santri, pembelajaran ini menjadi pengalaman yang mempertemukan pengetahuan tentang alam dengan penerapan teknologi dalam kehidupan masyarakat.

Kegiatan tersebut juga memperlihatkan bahwa teknologi tidak selalu harus dipahami sebagai sesuatu yang rumit atau jauh dari keseharian. Melalui pemanfaatan air, teknologi sederhana dapat memberikan manfaat nyata apabila disesuaikan dengan kondisi dan kepentingan warga. Para santri dapat melihat adanya keterkaitan pengelolaan sumber daya alam, penggunaan energi terbarukan, dan peningkatan manfaat bagi masyarakat sekitar. Pemahaman ini diharapkan mendorong kepedulian mereka untuk menjaga lingkungan sekaligus menghargai berbagai inovasi yang mendukung kehidupan berkelanjutan. Dengan demikian, kunjungan ke PLTMH tidak hanya menjadi kegiatan pengamatan, tetapi juga sarana belajar mengenai tanggung jawab bersama dalam merawat alam dan memanfaatkannya secara tepat.

Menurut Kepala Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, H. Subur, kawasan Boon Pring terus dikembangkan dengan memperhatikan potensi alam yang dimilikinya. Salah satu potensi penting di kawasan tersebut adalah bambu. Tumbuhan ini tidak hanya menjadi bagian dari lanskap dan daya tarik ekowisata, tetapi juga memiliki manfaat yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Keberadaan bambu menunjukkan bahwa sumber daya alam di sekitar desa dapat dikelola secara berkelanjutan tanpa mengabaikan fungsi lingkungan.

Dari sisi ekologis, bambu membantu menjaga keseimbangan lingkungan. Perakarannya dapat membantu memperkuat struktur tanah sehingga berperan dalam mengurangi risiko erosi, terutama pada area yang memiliki kemiringan atau berada di sekitar aliran air. Pertumbuhan bambu juga mendukung kondisi kawasan yang tetap hijau dan memberikan ruang bagi berlangsungnya berbagai proses alami. Karena itu, pemeliharaan bambu menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas lingkungan Boon Pring serta mempertahankan karakter kawasan ekowisata tersebut.

Selain memberikan manfaat ekologis, bambu memiliki nilai ekonomi yang beragam. Batangnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, termasuk untuk elemen konstruksi maupun fasilitas pendukung kawasan wisata. Bambu juga dapat diolah menjadi kerajinan, perlengkapan rumah tangga, dan berbagai produk lain yang memiliki nilai jual. Pemanfaatan tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan keterampilan, menghasilkan produk, dan memperoleh manfaat ekonomi dari potensi lokal secara bertanggung jawab. Dengan memahami kegunaan bambu secara lebih luas, peserta PPSN VI 2026 memperoleh pengalaman belajar yang menghubungkan pelestarian alam dengan kehidupan masyarakat. Pengetahuan di Boon Pring memperlihatkan bahwa menjaga lingkungan dapat berjalan bersama dengan pemanfaatan sumber daya yang bijaksana dan bernilai bagi kehidupan sehari-hari.