Medan | Kebakaran hutan dan lahan di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, masih ditangani. Upaya pemadaman berlangsung di tengah sejumlah kendala, terutama medan yang terjal, akses darat yang sulit, serta angin kencang. Kondisi tersebut membuat petugas belum leluasa menjangkau beberapa titik kebakaran. Dengan akses dan sarana yang terbatas, penanganan api perlu dilakukan secara hati-hati sesuai kondisi lapangan.
Medan yang curam menjadi tantangan karena membatasi pergerakan petugas menuju area yang perlu ditangani. Jalur darat yang sulit dilalui juga menghambat upaya untuk mencapai titik-titik kebakaran secara langsung. Akibatnya, petugas belum dapat bergerak bebas ke seluruh bagian yang terdampak api. Keterbatasan jangkauan ini menjadi salah satu hambatan utama dalam proses pemadaman yang masih berlangsung.
Angin kencang turut menyulitkan penanganan. Dalam kondisi seperti itu, upaya mengendalikan api harus mempertimbangkan perubahan keadaan di lapangan. Petugas menghadapi tantangan untuk bekerja di area yang sulit dijangkau, sementara kondisi angin dapat memengaruhi proses pemadaman. Situasi tersebut menuntut kehati-hatian agar upaya penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi yang dihadapi, tanpa mengabaikan keterbatasan akses dan sarana yang tersedia.
Sejumlah titik kebakaran belum dapat dicapai dengan leluasa karena gabungan medan terjal dan akses darat yang terbatas. Situasi ini membuat pemadaman tidak dapat dilakukan secara mudah dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Petugas masih berupaya menangani kebakaran di lereng Lawu, tetapi hambatan lapangan membatasi jangkauan mereka. Informasi yang tersedia menegaskan kendala akses dan kondisi medan, tanpa merinci lokasi titik api tertentu ataupun dampak lain. Karena itu, gambaran utama penanganan saat ini adalah upaya yang terus berjalan di tengah medan sulit dan angin kencang. Kelancaran pemadaman bergantung pada kemampuan petugas menjangkau area yang terbakar dengan sarana yang ada, sementara kondisi lapangan belum memberi keleluasaan untuk mencapai seluruh titik. Hingga hambatan tersebut dapat diatasi, penanganan tetap menghadapi tantangan untuk menjangkau titik kebakaran yang belum mudah dicapai.
Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, sebanyak 244 personel gabungan dikerahkan untuk mendukung upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di lereng Gunung Lawu. Pengerahan tersebut melibatkan berbagai instansi dan unsur yang memiliki peran dalam penanganan kebakaran maupun dukungan operasi di lapangan. Jumlah personel itu mencakup anggota Polri, TNI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Perum Perhutani, Basarnas, serta relawan. Kehadiran berbagai unsur diarahkan untuk memperkuat kerja bersama dalam menghadapi kondisi medan yang terjal dan menjadi kendala bagi petugas.
Polres Karanganyar turut menurunkan personel untuk bergabung dalam upaya tersebut. Dukungan kepolisian berasal dari fungsi Samapta dan Satuan Brimob, yang dikerahkan untuk memperkuat pemadaman bersama petugas dari instansi lain. Personel Samapta dan Brimob menjadi bagian dari kekuatan gabungan, bukan bekerja secara terpisah dari unsur lainnya. Dengan pengerahan lintas instansi, masing-masing unsur dapat mendukung penanganan sesuai keterlibatan dan kapasitasnya di lapangan. Polres Karanganyar menyertakan personel dalam susunan tersebut sebagai bagian dari respons terhadap kebakaran yang terjadi di kawasan lereng Lawu.
Komposisi tim gabungan menunjukkan bahwa penanganan karhutla melibatkan lebih dari satu lembaga. Polri dan TNI bergabung dengan BPBD, Perum Perhutani, Basarnas, dan relawan dalam pengerahan pada hari itu. Medan terjal menjadi tantangan yang perlu diperhitungkan dalam pelaksanaan tugas, sehingga dukungan banyak unsur menjadi bagian penting dari upaya pemadaman. Namun, informasi mengenai pengerahan personel ini tidak merinci hasil yang telah dicapai, jumlah titik yang ditangani, maupun perkembangan kebakaran setelah operasi berlangsung. Karena itu, angka 244 merujuk pada personel yang dikerahkan, bukan jumlah petugas yang dipastikan berada di setiap lokasi. Rincian tersebut memberikan gambaran mengenai skala dukungan lintas instansi, sementara kondisi dan hasil penanganan memerlukan keterangan tersendiri dari pihak terkait.
Polda Jawa Tengah mengupayakan dukungan pemadaman dari udara untuk membantu menangani kebakaran hutan dan lahan di lereng Gunung Lawu. Upaya tersebut mencakup pengerahan helikopter dari unsur Penerbad, baik untuk membawa peralatan yang diperlukan petugas maupun mendukung pelaksanaan water bombing. Bantuan udara dipertimbangkan karena sejumlah titik kebakaran berada di medan terjal dan sulit dijangkau melalui jalur darat. Kondisi itu dapat membatasi pergerakan personel serta memperlambat pengiriman perlengkapan ke lokasi.
Helikopter diharapkan dapat menjangkau kawasan yang tidak mudah didatangi dari darat, sehingga dukungan bisa diberikan secara lebih cepat dan tepat. Dalam penanganan karhutla, waktu menjadi faktor penting karena api berpotensi menyebar apabila tidak segera dikendalikan. Water bombing dapat membantu membasahi area yang terbakar atau membatasi perluasan titik api, sementara pengangkutan peralatan memungkinkan petugas di lapangan memperoleh dukungan yang dibutuhkan. Namun, pelaksanaannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi cuaca, kesiapan sarana, dan koordinasi antarinstansi.
Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol. Roy Hardi Siahaan mengunjungi Posko Bersama Penanganan Karhutla dan Pos Pantau RPH Tlogo Dlingo pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Kedua lokasi tersebut berada di Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Kunjungan dilakukan untuk memantau perkembangan penanganan kebakaran sekaligus memperkuat koordinasi petugas dan pihak terkait. Melalui pemantauan langsung, perkembangan situasi dapat diketahui dan kebutuhan dukungan di lapangan dapat dibahas bersama, termasuk opsi bantuan melalui jalur udara.
Dalam kesempatan tersebut, Roy menyampaikan harapan agar Penerbad dapat mengirimkan helikopter untuk mendukung water bombing. Menurutnya, bantuan itu diperlukan agar upaya pemadaman bisa menjangkau titik-titik yang sulit dicapai dan berjalan lebih cepat. Harapan tersebut sejalan dengan kebutuhan petugas yang menghadapi keterbatasan akses di medan terjal. Pengerahan helikopter juga diharapkan membantu menekan risiko api meluas ke kawasan lain sebelum penanganan darat dapat dilakukan secara lebih leluasa. Koordinasi lebih lanjut diperlukan untuk memastikan dukungan udara dapat dilaksanakan secara aman dan sesuai kebutuhan operasi.
Upaya memperoleh dukungan Penerbad menjadi salah satu langkah yang ditempuh Polda Jateng dalam memperkuat penanganan karhutla di lereng Lawu. Sementara keputusan dan kesiapan pengerahan helikopter dibahas bersama unsur terkait, petugas tetap memantau kondisi titik api dan melakukan penanganan sesuai kemampuan di lapangan. Perpaduan koordinasi, dukungan peralatan, dan akses udara diharapkan mempercepat respons terhadap kebakaran. Dengan demikian, area yang sulit dijangkau dapat memperoleh perhatian tanpa mengesampingkan keselamatan personel maupun prosedur operasi yang berlaku.
Koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan di lereng Lawu dilanjutkan dengan melibatkan Kapolda, Wakil Bupati Karanganyar, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pembahasan tersebut diarahkan untuk menyusun langkah lanjutan yang sesuai dengan kondisi di lapangan, termasuk kebutuhan dukungan bagi petugas yang berupaya memadamkan api di kawasan dengan medan terjal. Setiap instansi diharapkan menyampaikan pertimbangan berdasarkan tugas dan kewenangannya, sehingga keputusan penanganan dapat dilakukan secara terkoordinasi.
Salah satu opsi yang turut dibahas adalah modifikasi cuaca untuk membantu menghadapi kemarau panjang dan kondisi yang mendukung meluasnya kebakaran. Namun, langkah tersebut belum diputuskan sebagai tindakan yang pasti. Pelaksanaannya bergantung pada penilaian BMKG, yang perlu mempertimbangkan keadaan atmosfer serta kelayakan teknis sebelum memberikan rekomendasi. Karena itu, modifikasi cuaca dipandang sebagai kemungkinan dukungan, bukan pengganti upaya pemadaman langsung maupun langkah pencegahan di kawasan rawan. Koordinasi dengan lembaga terkait diperlukan agar opsi yang dipilih benar-benar sesuai dengan situasi dan dapat dilaksanakan secara tepat.
Di tingkat daerah, Pemerintah Kabupaten Karanganyar sedang memproses penetapan status tanggap darurat bencana.
Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Upaya Pemadaman Kebakaran Pabrik Lampu di Batuceper | Antisipasi Dampak Kabut Asap Karhutla, Babinsa Koramil 0908-01/Loktuan Bagikan Masker kepada Warga
