Vicky Prasetyo Ungkap Detik-Ddetik Dede Sunandar Tak Sadarkan Diri di Laga Tinju

oleh -318 Dilihat
oleh
Vicky Prasetyo Ungkap Detik-Ddetik Dede Sunandar Tak Sadarkan Diri di Laga Tinju

KOTA JAMBI, JAMBI — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Dede Sunandar tak sadarkan diri setelah terkena pukulan Vicky Prasetyo dalam pertandingan tinju celebrity match yang berlangsung di GOR Kota Jambi, Sabtu (3/10). Peristiwa tersebut menjadi bagian dari ajang Kapolda Fighter Match dan menarik perhatian publik setelah cuplikannya beredar serta diperbincangkan di media sosial pada akhir pekan.

Dalam pertandingan itu, Dede tidak tampil seorang diri. Ia berada dalam satu tim bersama Bedu untuk menghadapi Vicky Prasetyo yang bertanding sendirian. Format dua lawan satu tersebut telah disepakati sebagai bagian dari pertandingan celebrity match. Ketiganya kemudian berhadapan di atas ring sesuai aturan dan susunan laga yang telah ditentukan dalam acara tersebut.

Di tengah pertandingan, Vicky melepaskan pukulan yang mengenai Dede. Setelah menerima pukulan itu, Dede terlihat terkapar dan kemudian tidak sadarkan diri. Momen tersebut menjadi perhatian karena terjadi dalam laga yang melibatkan dua komedian, Dede Sunandar dan Bedu, melawan Vicky Prasetyo seorang diri.

Vicky Prasetyo kemudian mengungkap detik-detik ketika pukulannya mengenai Dede hingga komedian tersebut tumbang. Kejadian itu berlangsung saat pertandingan berlangsung di GOR Kota Jambi dan menjadi sorotan dalam pemberitaan mengenai Kapolda Fighter Match. Pertandingan tersebut merupakan laga tinju hiburan dengan format celebrity match dua lawan satu, sebagaimana kesepakatan yang telah dibuat sebelum pertarungan dimulai.

Vicky Prasetyo mengungkapkan bahwa jalannya pertandingan berlangsung di luar perkiraannya. Sebelum laga dimulai, ia tidak menyangka pukulannya dapat mengenai Dede Sunandar dengan telak. Menurut Vicky, Dede tampil bersama Bedu sehingga keduanya memiliki peluang untuk mengatur tenaga melalui sistem pergantian. Situasi tersebut membuat Vicky memperkirakan stamina lawannya akan lebih terjaga sepanjang pertandingan.

Berbeda dari Dede dan Bedu, Vicky harus menghadapi keduanya seorang diri. Ia memang memiliki postur tubuh yang lebih besar, tetapi kondisi itu tidak otomatis membuat pertandingan menjadi mudah. Pergerakan lawan, pergantian pemain, serta tekanan yang terus berlangsung membuat Vicky harus mengeluarkan tenaga dan menjaga konsentrasi dalam waktu bersamaan. Ia juga mengaku tidak dapat mengukur secara pasti seberapa keras pukulan yang dilepaskan maupun seberapa kuat daya tahan Dede saat menerima serangan.

Vicky memperkirakan Dede mulai kehilangan kesadaran karena kelelahan yang berpadu dengan akumulasi pukulan selama pertandingan. Ia menyebut beberapa pukulan mengenai bagian rusuk dan rahang, sehingga kemungkinan turut memengaruhi kondisi Dede ketika akhirnya jatuh dan tidak sadarkan diri. Namun, Vicky menegaskan bahwa penjelasan tersebut merupakan perkiraan berdasarkan pengamatannya di arena, bukan diagnosis medis.

Dengan demikian, kondisi Dede tetap perlu dipahami berdasarkan pemeriksaan dan keterangan tenaga medis yang menangani setelah pertandingan. Dugaan mengenai kelelahan serta dampak pukulan tidak dapat dijadikan kesimpulan tunggal tanpa evaluasi profesional. Pernyataan Vicky lebih menggambarkan dinamika laga dari sudut pandang petinju, termasuk bagaimana ia sendiri tidak sepenuhnya menyadari dampak pukulannya pada saat pertandingan berlangsung.

Setelah Dede Sunandar terkapar dan tidak sadarkan diri, situasi di arena tinju langsung berubah tegang. Pertandingan dihentikan agar Dede segera memperoleh penanganan medis. Vicky Prasetyo yang melihat wajah sahabatnya pucat dan membiru tidak ingin mengambil risiko. Ia ikut mengantar Dede ke rumah sakit untuk memastikan kondisi sang sahabat mendapat perhatian dokter secepat mungkin.

Di tengah kepanikan tersebut, Vicky juga menjalani pemeriksaan medis di ruangan berbeda. Namun, pikirannya tetap tertuju kepada Dede. Ia bahkan menangis histeris ketika melihat kondisi Dede yang tidak kunjung sadar. Menurut Vicky, peristiwa itu mengingatkannya pada mendiang pelatihnya, Hero Tito. Wajah dan keadaan Dede saat itu seolah membuat Vicky kembali melihat sosok Hero di depan matanya.

Perasaan takut kehilangan semakin kuat karena hubungan Vicky dan Dede bukan sekadar rekan dalam pertandingan. Keduanya dikenal sebagai sahabat, sehingga Vicky merasa sangat terpukul ketika melihat Dede berada dalam kondisi kritis. Ia terus mendampingi Dede selama proses pemeriksaan dan perawatan, menunggu hingga sahabatnya tersebut menunjukkan tanda-tanda kesadaran.

Vicky juga berusaha menghubungi anak-anak Dede untuk menyampaikan kabar mengenai kondisi ayah mereka. Tindakan itu dilakukan agar keluarga Dede mengetahui perkembangan terbaru dan dapat bersiap memberikan dukungan. Selama menunggu, Vicky tidak beranjak jauh dari Dede dan terus memantau keadaannya.

Ketika akhirnya Dede siuman, Vicky langsung menghampirinya. Dengan emosi yang masih kuat, ia meminta maaf kepada Dede sebelum memeluk sahabatnya tersebut. Momen itu menjadi luapan kelegaan sekaligus bentuk kepedulian Vicky setelah menyaksikan kejadian yang membuatnya sangat panik. Bagi Vicky, keselamatan Dede jauh lebih penting daripada hasil pertandingan atau suasana kompetisi.

Setelah siuman, Dede Sunandar menjelaskan alasan dirinya tidak mengenakan pelindung kepala dalam pertandingan tersebut. Menurutnya, perlengkapan itu sebenarnya sempat disarankan sebelum laga dimulai. Namun, ia bersama peserta lain pada awalnya memandang pertandingan tersebut sebagai kegiatan untuk bersenang-senang, bukan pertarungan serius yang membutuhkan perlindungan lengkap. Karena pemahaman itu, mereka memilih tampil tanpa headguard.

Dede mengaku perkiraannya mengenai suasana pertandingan ternyata tidak sepenuhnya tepat. Ia menduga atmosfer laga akan berlangsung santai seperti latihan atau kegiatan hiburan biasa. Kenyataannya, suasana di dalam gedung olahraga atau GOR sangat meriah. Dukungan penonton, sorakan, serta antusiasme yang muncul membuat pertandingan terasa jauh lebih serius dan penuh tekanan daripada yang dibayangkan sebelumnya.

Dalam kesempatan itu, Dede juga mengingat pernyataan Vicky Prasetyo yang pernah menyebut bahwa atmosfer pertandingan di GOR berbeda dari suasana latihan. Dede mengatakan, ucapan tersebut benar-benar ia rasakan ketika berada di atas ring. Energi penonton dan intensitas pertandingan membuat setiap peserta terdorong untuk memberikan penampilan terbaik, meskipun kondisi itu juga meningkatkan risiko terjadinya hal-hal yang tidak diharapkan.

Dede menuturkan bahwa dirinya ingin tampil maksimal, bukan hanya untuk kepuasan pribadi, tetapi juga demi Bedu dan Vicky. Keinginan memberikan pertunjukan terbaik membuat semangatnya semakin tinggi saat laga berlangsung. Ia tidak menyangka dorongan tersebut justru berujung pada situasi yang membahayakan hingga dirinya tak sadarkan diri. Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa perlengkapan keselamatan tetap penting, sekalipun sebuah pertandingan digelar dalam suasana hiburan dan persahabatan. Penilaian terhadap risiko seharusnya dilakukan sejak awal agar semangat tampil tidak mengesampingkan keamanan para peserta.