Dari Semangat Bandung ke Kemitraan Strategis Indonesia-Afrika

oleh -52 Dilihat
oleh
Dari Semangat Bandung ke Kemitraan Strategis Indonesia-Afrika

Bandung | Pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 di Bandung, Presiden Soekarno menegaskan bahwa bangsa-bangsa Asia dan Afrika memiliki hak untuk menentukan masa depannya sendiri. Pesan tersebut lahir dari pengalaman panjang kolonialisme, sekaligus menjadi seruan bagi persatuan negara-negara yang tengah memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan. Tujuh puluh satu tahun kemudian, semangat Bandung tetap relevan sebagai landasan hubungan Indonesia dengan negara-negara Afrika, meskipun tantangan yang dihadapi telah mengalami perubahan mendasar.

Solidaritas yang dahulu terutama diarahkan untuk membebaskan bangsa-bangsa dari penjajahan kini diterjemahkan ke dalam kerja sama yang lebih konkret dan berorientasi pada pembangunan. Indonesia dan negara-negara Afrika berupaya memperkuat kedaulatan ekonomi melalui perdagangan yang lebih adil, investasi, pengembangan industri, serta pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan. Kemitraan tersebut juga mencakup peningkatan kualitas sumber daya manusia, lain melalui pendidikan, pelatihan, pertukaran keahlian, dan penguatan kapasitas kelembagaan. Dengan pendekatan ini, hubungan historis tidak berhenti sebagai simbol, tetapi berkembang menjadi sarana untuk mendorong kemakmuran bersama.

Pesan mengenai kesinambungan semangat Bandung itu disampaikan Wakil Tetap Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Duta Besar Umar Hadi, dalam sidang pleno ke-18 Majelis Umum PBB ke-81 di New York pada Senin, 12 Oktober 2026. Sidang tersebut membahas kemajuan pembangunan berkelanjutan di Afrika sekaligus dukungan internasional terhadap proses transformasi dari New Partnership for Africa’s Development menuju Agenda 2063 Uni Afrika. Dalam forum itu, Indonesia menempatkan pengalaman sejarah dan prinsip solidaritas Selatan-Selatan sebagai dasar untuk memperkuat kemitraan yang setara.

Bagi Indonesia, agenda tersebut menegaskan bahwa pembangunan Afrika merupakan kepentingan bersama, bukan semata-mata tanggung jawab kawasan itu sendiri. Dukungan internasional perlu diwujudkan melalui kebijakan yang menghormati kepemilikan nasional, memperluas akses pembiayaan, dan menyesuaikan kerja sama dengan kebutuhan setiap negara. Dengan demikian, warisan Bandung memperoleh makna baru: dari persatuan dalam perjuangan menuju kolaborasi strategis yang membantu negara-negara Asia dan Afrika membangun masa depan secara mandiri, inklusif, dan berkelanjutan.

Dari perspektif Indonesia, perkembangan ekonomi Afrika menunjukkan perubahan penting dalam peta pembangunan dunia. Selama lebih dari tujuh dekade, negara-negara Asia dan Afrika telah mencatat berbagai kemajuan yang memperkuat posisi kedua kawasan tersebut dalam percaturan global. Kemajuan ini tidak hanya terlihat dari perkembangan ekonomi nasional masing-masing negara, tetapi juga dari semakin besarnya peran Asia dan Afrika dalam menentukan arah pembangunan global. Perubahan tersebut menegaskan bahwa pembangunan dunia tidak lagi ditentukan oleh satu kawasan, melainkan semakin dipengaruhi oleh dinamika dan aspirasi negara-negara di Asia serta Afrika.

Prospek ekonomi Afrika memberikan gambaran mengenai potensi benua tersebut pada masa mendatang. Pertumbuhan ekonomi Afrika diperkirakan mencapai 4,4 persen pada 2025. Pada saat yang sama, sebanyak 22 negara di benua itu mencatat pertumbuhan di atas 5 persen. Capaian tersebut memperlihatkan adanya momentum ekonomi yang penting dan menunjukkan kapasitas negara-negara Afrika untuk terus meningkatkan perannya dalam pembangunan global. Perkembangan ini juga berkaitan erat dengan harapan untuk mewujudkan Agenda 2063, yang menargetkan terbentuknya Afrika yang makmur, terintegrasi, dan damai.

Namun, kemajuan ekonomi tersebut berlangsung di tengah sejumlah tantangan pembangunan yang masih signifikan. Negara-negara Afrika masih menghadapi tingginya biaya pinjaman, yang dapat membatasi ruang pembiayaan bagi kebutuhan pembangunan. Akses terhadap pembiayaan pembangunan juga masih terbatas, sehingga kemampuan untuk mendukung berbagai agenda ekonomi belum sepenuhnya optimal. Selain itu, kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Afrika belum memberikan manfaat ekonomi secara maksimal bagi masyarakat dan pembangunan di benua tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa capaian pertumbuhan perlu dipahami bersama dengan tantangan yang masih memengaruhi proses pembangunan Afrika. Bagi Indonesia, pemahaman terhadap kemajuan dan tantangan tersebut menjadi bagian penting dalam melihat perkembangan Afrika serta kedudukannya yang semakin strategis dalam pembangunan global.

Dalam menjawab tantangan pembangunan Afrika, Indonesia menempatkan penguatan kedaulatan ekonomi sebagai prioritas pertama. Kedaulatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengelola sumber daya, tetapi juga dengan kapasitas menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Pengalaman Indonesia dalam mendorong hilirisasi dapat menjadi salah satu rujukan, terutama dalam mengembangkan industri pengolahan, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan daya tawar negara pemilik sumber daya. Kerja sama dengan negara-negara Afrika dapat diarahkan pada pertukaran pengetahuan, pengembangan teknologi, serta pembentukan rantai pasok yang memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat setempat. Pendekatan ini mendorong pembangunan yang tidak berhenti pada ekspor bahan mentah.

Prioritas kedua adalah investasi pada sumber daya manusia sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan. Infrastruktur dan modal ekonomi akan memberikan hasil terbatas apabila tidak disertai tenaga kerja yang terampil, lembaga pendidikan yang kuat, serta kemampuan mengelola inovasi. Karena itu, Indonesia dapat memperluas kerja sama pendidikan, pelatihan vokasi, dan pengembangan kapasitas dengan negara-negara Afrika. Bidang pertanian menjadi salah satu ruang penting untuk kolaborasi tersebut, mencakup peningkatan produktivitas, pengelolaan pascapanen, teknologi tepat guna, dan ketahanan pangan. Pertukaran pengalaman lembaga pendidikan, pusat riset, dan pelaku usaha dapat membantu memastikan bahwa kerja sama menghasilkan kemampuan yang bertahan dalam jangka panjang, bukan sekadar program sesaat.

Prioritas ketiga ialah menerjemahkan semangat Bandung ke dalam kemitraan yang nyata dan terukur. Solidaritas historis tetap menjadi landasan moral, tetapi perlu diwujudkan melalui peningkatan perdagangan, investasi yang bertanggung jawab, dan penguatan kapasitas kelembagaan. Hubungan Indonesia-Afrika dapat dibangun atas prinsip kesetaraan, penghormatan terhadap kebutuhan nasional, serta penciptaan manfaat bersama. Dengan demikian, kemitraan tidak lagi semata-mata berangkat dari kedekatan sejarah, melainkan berorientasi pada penyelesaian persoalan pembangunan yang konkret. Ketiga prioritas tersebut menunjukkan pergeseran penting: dari solidaritas sebagai simbol menuju kolaborasi strategis yang menghasilkan nilai ekonomi, peningkatan kualitas manusia, dan kemandirian bagi kedua kawasan.

Rekam jejak hubungan Indonesia-Afrika menunjukkan bahwa kemitraan tersebut berkembang dari semangat solidaritas menjadi kerja sama ekonomi yang semakin terukur. Forum Indonesia-Afrika pertama pada 2018 menghasilkan kesepakatan bisnis dengan nilai hampir 600 juta dolar AS. Setahun kemudian, Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue mencatat nilai kerja sama lebih dari 800 juta dolar AS. Capaian ini memperlihatkan meningkatnya kepercayaan sekaligus luasnya ruang kolaborasi pelaku usaha, pemerintah, dan lembaga pembangunan dari kedua kawasan.

Momentum itu berlanjut melalui Forum Indonesia-Afrika kedua pada 2024. Forum tersebut menghasilkan 32 kesepakatan kerja sama dengan nilai lebih dari 3,5 miliar dolar AS, mencakup berbagai sektor strategis. Angka tersebut tidak hanya mencerminkan pertumbuhan perdagangan dan investasi, tetapi juga mengindikasikan peluang pengembangan proyek jangka panjang di bidang infrastruktur, energi, industri, pangan, kesehatan, serta ekonomi digital. Perluasan sektor akan membantu menciptakan hubungan yang lebih seimbang dan berkelanjutan.

Kerja sama Indonesia-Afrika juga melampaui agenda perdagangan dan investasi. Dalam satu dekade, sekitar 500 peserta dari Afrika memperoleh manfaat dari lebih dari 60 proyek kerja sama Selatan-Selatan dan triangular Indonesia, terutama dalam bidang kesehatan, teknologi pertanian, dan peternakan. Indonesia turut berbagi pengetahuan melalui pusat pelatihan pertanian di Tanzania dan Gambia. Praktik tersebut memperkuat kapasitas lokal, memperluas akses terhadap teknologi yang sesuai, dan membangun hubungan antarmasyarakat. Duta Besar Umar Hadi menegaskan bahwa Indonesia berdiri bersama Afrika sebagai mitra yang berlandaskan solidaritas dan saling menghormati.

Ke depan, kemitraan ini berpeluang ditingkatkan dari tingkat bilateral menuju antarkawasan.

Baca juga: Persib Bandung Bersiap Hadapi FC Seoul di AFC Champions League | Pembukaan GIIAS Bandung 2026: Inovasi dan Merek Terkenal Berpartisipasi | Panglima TNI: Olahraga Bentuk Karakter dan Semangat Pantang Menyerah