Mataram | Emil Audero mengungkap alasan personal yang pernah membuat proses naturalisasi dirinya sebagai warga negara Indonesia terhenti. Dalam wawancara bersama jurnalis sepak bola Gianluca Di Marzio, penjaga gawang tersebut menjelaskan bahwa ia sempat tidak menerima atau menolak undangan untuk menjalani proses tersebut. Pengakuan itu memberikan gambaran bahwa keputusan Emil pada waktu itu tidak semata-mata berkaitan dengan pertimbangan karier di lapangan.
Menurut penjelasan Emil, situasi yang terjadi dalam keluarganya turut memengaruhi sikapnya. Ia tidak memaparkan secara terperinci persoalan yang dihadapi, sehingga alasan tersebut perlu dipahami sebagai urusan personal yang tidak dapat dijelaskan lebih jauh berdasarkan keterangan yang tersedia. Emil hanya menegaskan bahwa kondisi keluarga menjadi faktor penting di balik terhentinya proses untuk memperoleh status sebagai WNI.
Pernyataan itu sekaligus menunjukkan bahwa peluang Emil untuk membela Indonesia pernah berada dalam situasi yang belum pasti. Undangan untuk mengikuti proses naturalisasi sempat datang, tetapi langkah tersebut tidak berlanjut karena keadaan yang sedang dihadapinya bersama keluarga. Dengan demikian, keputusan tersebut tidak dapat disederhanakan sebagai penolakan terhadap Indonesia atau terhadap kesempatan memperkuat tim nasional.
Pengakuan Emil dalam wawancara dengan Di Marzio menjadi penjelasan langsung mengenai fase yang sebelumnya belum banyak diketahui publik. Ia menyampaikan bahwa persoalan keluarga membuatnya mengambil jarak dari proses naturalisasi, meskipun tidak mengungkap rincian masalah tersebut. Keterangan ini perlu dibaca secara proporsional: proses menjadi warga negara Indonesia memang sempat berhenti karena alasan personal, sementara detail mengenai situasi keluarga Emil tetap tidak disebutkan.
Penjelasan itu juga memperlihatkan bahwa keputusan seorang pemain untuk menjalani naturalisasi dapat dipengaruhi berbagai keadaan di luar sepak bola. Bagi Emil, urusan keluarga pada saat itu menjadi pertimbangan yang lebih mendesak. Karena itu, informasi mengenai sikapnya sebaiknya disampaikan berdasarkan pernyataannya sendiri, tanpa menambahkan asumsi mengenai persoalan yang tidak ia jelaskan.
Sikap Emil Audero terhadap peluang membela Indonesia mengalami perubahan setelah sebelumnya ia menolak undangan untuk mengikuti proses naturalisasi. Penolakan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa Emil menutup kemungkinan untuk memperkuat tim nasional Indonesia. Pada tahap itu, ia tampaknya masih mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk arah karier, kesiapan pribadi, dan lingkungan sepak bola yang selama ini membentuk perjalanan profesionalnya.
Dalam pernyataannya, Emil menjelaskan bahwa pandangannya kemudian berkembang. Ia merasa perlu mencoba pengalaman baru, terutama dengan melihat dan merasakan sepak bola di luar Eropa. Bagi seorang pemain yang lama berkarier dalam kompetisi Eropa, keputusan untuk membuka diri terhadap lingkungan berbeda dapat menjadi langkah penting. Pengalaman tersebut bukan hanya berkaitan dengan perpindahan tempat bermain, tetapi juga kesempatan memahami budaya, karakter permainan, serta atmosfer sepak bola yang berbeda dari yang selama ini dikenalnya.
Pertimbangan itu memiliki sisi personal yang cukup kuat. Emil tidak sekadar melihat peluang tersebut sebagai pilihan karier, melainkan sebagai pengalaman hidup yang ingin dijalani. Kesempatan untuk lebih dekat dengan Indonesia, negara yang memiliki hubungan keluarga dengannya, turut membuat keputusan itu terasa relevan secara emosional. Dengan demikian, perubahan sikapnya lahir dari proses pertimbangan yang berlangsung secara bertahap, bukan keputusan yang diambil secara tiba-tiba.
Setelah mempertimbangkan keinginan untuk memperoleh pengalaman baru di luar sepak bola Eropa serta faktor personal tersebut, Emil akhirnya memantapkan hati untuk menjadi bagian dari Indonesia. Keputusannya memperlihatkan bahwa membela tim nasional tidak hanya dipengaruhi oleh aspek teknis, tetapi juga oleh kesiapan batin dan keinginan mengenal bagian penting dari identitas dirinya. Ia kemudian melihat kesempatan itu sebagai langkah yang layak dicoba, sekaligus pengalaman berharga dalam perjalanan sepak bolanya.
Emil Audero resmi menjadi warga negara Indonesia pada 10 Maret 2025. Ia disebut sebagai pemain kelahiran Mataram, Nusa Tenggara Barat, meskipun sebagian besar perjalanan kariernya berlangsung di Italia. Perubahan status tersebut membuka peluang bagi Emil untuk memperkuat tim nasional Indonesia pada level senior. Kehadirannya kemudian dipandang dapat menambah pilihan dan persaingan di posisi penjaga gawang skuad Garuda.
Prosesi pengucapan sumpah setia sebagai warga negara Indonesia berlangsung di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Roma, Italia. Dalam agenda tersebut, Emil tidak menjalani proses seorang diri. Ia bersama Joey Pelupessy dan Dean James juga mengucapkan sumpah setia sebagai WNI. Momen itu menandai tahap penting sebelum ketiganya dapat memperkuat tim nasional Indonesia dalam pertandingan resmi sesuai ketentuan yang berlaku.
Emil menjalani debut bersama timnas Indonesia pada 5 Juni 2025 dalam pertandingan melawan China. Penampilan tersebut menjadi awal kiprahnya untuk skuad Garuda setelah proses naturalisasi dan administrasi selesai. Sejak debut itu, kiper tersebut telah mencatat delapan penampilan bersama tim nasional. Catatan tersebut menunjukkan bahwa pelatih memberikan kepercayaan kepada Emil untuk mengawal gawang Indonesia dalam sejumlah pertandingan kompetitif.
Dalam perkembangannya, kiper Rayo Vallecano itu turut membantu timnas Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Pencapaian tersebut menambah arti penting keputusannya untuk membela Indonesia. Emil menyatakan bahwa pilihan itu memberinya banyak pengalaman, baik dalam kehidupan personal maupun dalam sepak bola. Selain merasakan tantangan baru di tingkat internasional, ia juga memperoleh kesempatan untuk lebih dekat dengan akar keluarganya serta menjadi bagian dari perjalanan prestasi sepak bola Indonesia.
Setelah berhasil mewujudkan tujuan untuk memenangkan trofi bersama tim nasional Indonesia, Emil Audero kini mengarahkan perhatian pada sasaran yang lebih besar. Penjaga gawang tersebut ingin membantu Indonesia melangkah sejauh mungkin di Piala Asia. Baginya, turnamen itu menjadi kesempatan penting untuk mengukur kemampuan tim sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia mampu bersaing menghadapi lawan-lawan terbaik di level benua.
Ambisi berikutnya adalah membawa Indonesia lolos ke Piala Dunia. Emil menilai kesempatan tampil di ajang global tersebut layak diperoleh Indonesia, terutama setelah tim nasional berulang kali gagal mencapainya. Pernyataan itu mencerminkan keyakinannya terhadap potensi sepak bola Indonesia dan keinginannya untuk berkontribusi dalam upaya mencapai target yang selama ini belum terwujud. Ia melihat perjalanan menuju Piala Dunia sebagai tantangan besar yang membutuhkan kerja keras, konsistensi, serta komitmen seluruh anggota tim.
Bagi Emil, bermain di Piala Dunia bersama Indonesia akan menjadi pengalaman yang unik. Kesempatan tersebut bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan juga momen istimewa karena ia dapat mewakili negara yang dipilihnya untuk dibela di panggung sepak bola paling bergengsi. Setelah merasakan keberhasilan meraih trofi bersama tim nasional, ia ingin terus menjaga fokus pada tujuan berikutnya, yakni membawa Indonesia tampil lebih jauh di Piala Asia dan mendapatkan kesempatan berkompetisi di Piala Dunia.
