Jakarta | BYD memastikan stasiun flash charging yang dimilikinya dapat digunakan oleh seluruh merek kendaraan listrik, tidak terbatas pada mobil BYD maupun Denza. Kebijakan tersebut membuka akses jaringan pengisian cepat perusahaan bagi pengguna EV dari berbagai merek. Dengan demikian, fasilitas ini ditujukan untuk melayani publik secara lebih luas, bukan hanya konsumen yang menggunakan kendaraan dari portofolio BYD. Pernyataan itu disampaikan Eagle Zhao, Presiden Direktur BYD Motor Indonesia, ketika menanggapi pertanyaan mengenai aksesibilitas stasiun pengisian bagi masyarakat dan merek kendaraan lain.
Penjelasan tersebut disampaikan di Jakarta pada Rabu (14/10). Dalam konteks pertanyaan itu, Zhao menegaskan bahwa pengguna kendaraan listrik dari merek lain juga dapat memanfaatkan stasiun flash charging BYD. Artinya, akses terhadap fasilitas pengisian cepat tersebut tidak disyaratkan berdasarkan merek kendaraan. Bagi pengemudi EV, keterbukaan ini berarti jaringan milik BYD dapat menjadi salah satu pilihan ketika mereka membutuhkan tempat untuk mengisi daya, terlepas dari kendaraan yang digunakan.
Kebijakan akses terbuka ini menempatkan stasiun BYD sebagai fasilitas yang dapat digunakan lintas merek. Pengguna kendaraan listrik tidak harus memiliki mobil BYD atau Denza untuk memanfaatkan jaringan pengisian cepat tersebut. Pernyataan perusahaan juga menjawab perhatian mengenai apakah fasilitas itu diperuntukkan hanya bagi pelanggan BYD atau dapat diakses oleh pengguna EV secara umum. BYD menyatakan bahwa merek kendaraan bukan pembatas untuk menggunakan stasiun tersebut.
Keputusan membuka jaringan flash charging bagi semua merek memperluas kelompok pengguna yang dapat mengakses fasilitas tersebut. Bagi pemilik kendaraan listrik, tersedianya pilihan pengisian dari jaringan yang tidak eksklusif pada satu merek dapat mendukung kemudahan dalam merencanakan pengisian daya. Namun, pokok informasi yang disampaikan BYD adalah soal aksesibilitas: stasiun miliknya terbuka bagi seluruh merek kendaraan listrik. Penegasan Eagle Zhao di Jakarta itu menjadi jawaban langsung atas pertanyaan tentang keterbukaan fasilitas kepada publik dan pemilik EV di luar merek BYD maupun Denza.
Keterlibatan BYD dalam pengembangan teknologi flash charging tidak hanya berkaitan dengan penyediaan fasilitas pengisian yang lebih cepat. Langkah ini juga mencerminkan upaya perusahaan untuk memperkuat infrastruktur kendaraan listrik dan melengkapi ekosistem yang sedang tumbuh di Indonesia. Pengisian daya merupakan bagian penting dari pengalaman menggunakan kendaraan listrik: ketersediaan lokasi, kemudahan akses, dan kemampuan layanan menjangkau berbagai wilayah dapat memengaruhi keyakinan masyarakat untuk beralih. Karena itu, pengembangan jaringan pengisian perlu berjalan seiring dengan pertumbuhan jumlah kendaraan dan kebutuhan pengguna.
Dalam keterangannya, Eagle Zhao menyampaikan bahwa jaringan flash charging yang dibangun dalam skala masif dan mencakup seluruh negeri perlu terbuka bagi semua merek kendaraan listrik. Prinsip akses lintas merek tersebut menempatkan infrastruktur sebagai fasilitas bersama, bukan layanan yang hanya diperuntukkan bagi pemilik kendaraan dari satu produsen. Dengan pendekatan terbuka, jaringan berpotensi memberi manfaat kepada lebih banyak pengguna sekaligus mendukung pemanfaatan fasilitas secara lebih luas. Hal ini juga dapat membantu membangun kepercayaan terhadap ekosistem kendaraan listrik nasional, sebab pengemudi memiliki pilihan pengisian yang tidak semata bergantung pada merek kendaraannya.
BYD juga menyatakan membuka peluang kolaborasi secara fleksibel dengan berbagai operator titik pengisian kendaraan listrik atau charge point operator (CPO) di seluruh Indonesia. Fleksibilitas ini memungkinkan kerja sama disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan tiap operator, termasuk jangkauan jaringan serta karakteristik wilayah layanan. Kolaborasi dengan beragam CPO dapat menjadi cara untuk memperluas cakupan infrastruktur tanpa membatasi pengembangan pada satu pihak saja. Sejalan dengan keterangan sumber, keterbukaan terhadap mitra menjadi bagian dari komitmen BYD untuk mendukung ekosistem yang lebih terhubung. Pada akhirnya, keberhasilan teknologi pengisian cepat tidak hanya ditentukan oleh kemampuan perangkat, tetapi juga oleh akses yang luas, interoperabilitas antarmerek, dan kerja sama para pelaku industri. Dengan memperkuat unsur-unsur tersebut, BYD ingin menunjukkan bahwa pembangunan jaringan pengisian merupakan upaya bersama untuk mendukung penggunaan kendaraan listrik di Indonesia.
Akses ke stasiun pengisian cepat BYD tidak berarti setiap kendaraan listrik (EV) dapat mengisi daya dengan kecepatan yang sama. Stasiun dapat melayani kendaraan dari berbagai merek, tetapi daya yang benar-benar diterima selama pengisian ditentukan oleh kemampuan sistem baterai dan batas pengisian masing-masing kendaraan. Karena itu, keterbukaan akses dan pencapaian kecepatan pengisian optimal merupakan dua hal yang berbeda.
Richard Li, Flash Charging Director BYD Asia Pacific Auto Sales Division, menjelaskan bahwa pengisian hingga penuh dalam sembilan menit membutuhkan dukungan Blade Battery generasi kedua BYD. Baterai tersebut dirancang untuk menerima proses pengisian berdaya tinggi yang diperlukan untuk mencapai waktu tersebut. Dengan demikian, klaim sembilan menit merujuk pada kemampuan teknologi baterai tertentu, bukan jaminan waktu pengisian bagi semua kendaraan yang tersambung ke stasiun.
Model BYD yang menggunakan Blade Battery generasi kedua dapat memanfaatkan kemampuan pengisian tersebut, dengan tetap memperhatikan kondisi dan batas teknis kendaraan saat digunakan. Sementara itu, EV dari produsen lain tetap dapat mengakses stasiun BYD apabila kompatibel, tetapi laju pengisian akan mengikuti kapasitas penerimaan daya pada kendaraan masing-masing. Jika mobil hanya dapat menerima daya di bawah kemampuan stasiun, daya yang terserap pun tidak akan mencapai tingkat maksimum yang tersedia.
Perbedaan ini penting dipahami saat menilai manfaat jaringan pengisian lintas merek. Ketersediaan stasiun dapat memperluas pilihan lokasi pengisian bagi pemilik EV, namun tidak otomatis mengubah spesifikasi baterai atau sistem pengisian kendaraan mereka. Waktu yang dibutuhkan juga dapat dipengaruhi oleh faktor penggunaan dan kondisi pengisian, sehingga angka waktu tertentu sebaiknya dipahami sesuai konteks teknologi yang mendukungnya.
Dengan demikian, pengemudi kendaraan merek lain tetap dapat menggunakan stasiun BYD, tetapi tidak semestinya mengharapkan semua EV terisi penuh dalam sembilan menit. Kecepatan aktual bergantung pada batas daya yang dapat diterima oleh kendaraan. Kemampuan pengisian tercepat yang disebutkan BYD berlaku pada model dengan Blade Battery generasi kedua, sedangkan kendaraan lain memperoleh manfaat sesuai kemampuan teknis baterainya.
Richard Li menjelaskan bahwa stasiun flash charging BYD memiliki daya output tinggi, tetapi kecepatan pengisian yang diterima tetap bergantung pada kemampuan masing-masing kendaraan. Mobil listrik dari merek lain tidak serta-merta dapat menggunakan seluruh daya maksimum yang tersedia, karena sistem kendaraan menentukan seberapa besar daya yang dapat diterima. Meski demikian, kapasitas output stasiun yang besar tetap berpotensi memberikan pengisian lebih cepat daripada fasilitas DC charging standar, selama kendaraan tersebut kompatibel dan mampu menerima daya yang lebih tinggi. Dengan demikian, manfaat fasilitas ini bagi pemilik EV lain tidak selalu sama, tetapi dapat menjadi pilihan tambahan untuk mengisi daya.
Perbedaan kemampuan pengisian antar-model perlu dipahami agar ekspektasi pengguna tetap realistis. Kecepatan aktual dapat dipengaruhi oleh batas penerimaan daya kendaraan dan kondisi baterai ketika pengisian berlangsung. Karena itu, keberadaan stasiun berdaya tinggi bukan jaminan bahwa setiap mobil akan mengisi dengan laju yang sama atau mencapai waktu pengisian tertentu. Poin yang disampaikan Li adalah bahwa output stasiun yang tinggi memberi peluang untuk memangkas waktu dibandingkan penggunaan pengisi daya DC standar, khususnya bagi kendaraan yang dapat memanfaatkan daya lebih besar. Pengguna tetap perlu memperhatikan spesifikasi kendaraan dan informasi yang tersedia di lokasi pengisian sebelum merencanakan perjalanan.
Pembukaan akses bagi berbagai merek juga menempatkan fasilitas tersebut sebagai bagian dari upaya memperluas pilihan pengisian untuk pengguna kendaraan listrik di Indonesia.
Baca juga: Inisiatif Pertamina Patra Niaga Dukung Pertumbuhan Mobil Listrik di Indonesia | HUT ke-48 FKPPI, Bamsoet Tegaskan Arahan Ketua Umum, Bahwa FKPPI Organisasi Perjuangan, Bukan Kendaraan Politik Cari Kekuasaan | GEMMAKO RI: Warga Kisaran Kembali Geram! Pemadaman Listrik Berulang Tanpa Peringatan, PLN Cabang Kisaran Tetap Bungkam

