Bulog Siapkan 300 Ribu Ton Beras Premium untuk Menahan Kenaikan Harga

oleh -497 Dilihat
oleh
Bulog Siapkan 300 Ribu Ton Beras Premium untuk Menahan Kenaikan Harga

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Perum Bulog menyiapkan langkah khusus untuk menjaga kestabilan harga beras di tengah kenaikan harga pada tingkat konsumen. Badan usaha pangan tersebut akan meningkatkan produksi beras komersial kualitas premium hingga mencapai 300 ribu ton sampai Desember 2026. Kebijakan ini diarahkan untuk memperkuat ketersediaan beras premium sekaligus menahan laju kenaikan harga di pasar.

Produksi tambahan tersebut terutama ditujukan bagi jaringan ritel modern dan pasar swalayan. Kedua saluran perdagangan itu menjadi bagian penting dalam penyaluran beras kepada konsumen, sehingga ketersediaan pasokan dengan harga yang lebih terkendali diharapkan dapat membantu meredam tekanan harga. Bulog akan mengatur pelaksanaan produksi dan distribusi sesuai kebutuhan pasar selama periode intervensi.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan bahwa pelaksanaan intervensi dilakukan setelah muncul kenaikan harga beras. Menurut dia, peningkatan produksi beras komersial premium merupakan respons perusahaan terhadap kondisi tersebut. Upaya ini diharapkan dapat menjaga pasokan di tingkat konsumen, khususnya pada kanal ritel modern yang menjadi sasaran utama kebijakan.

Ahmad menjelaskan bahwa kebijakan peningkatan produksi itu dilaksanakan atas arahan Menteri Pertanian. Arahan tersebut menjadi dasar bagi Bulog untuk menyiapkan pasokan beras premium dalam jumlah yang lebih besar hingga akhir 2026. Dengan target 300 ribu ton, intervensi diharapkan mampu memperkuat peran Bulog dalam mengendalikan harga sekaligus memastikan konsumen memperoleh beras premium melalui jaringan penjualan yang tersedia.

Kebijakan Bulog untuk menyiapkan 300 ribu ton beras premium dilatarbelakangi oleh kenaikan harga beras yang masih bertahan di tingkat konsumen. Ahmad Rizal Ramdhani menjelaskan bahwa tekanan harga tersebut berkaitan erat dengan meningkatnya harga gabah kering panen di tingkat petani. Kondisi itu membuat biaya pengadaan bahan baku beras ikut naik, sehingga dampaknya diteruskan ke rantai distribusi dan tercermin pada harga jual di pasar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirujuk Ahmad, kenaikan harga beras sejak awal tahun lebih banyak terjadi pada beras kualitas premium. Segmen ini memiliki standar mutu dan kebutuhan pasokan yang lebih tinggi, sehingga perubahan harga gabah dapat memberikan pengaruh yang lebih cepat. Ketersediaan beras premium menjadi perhatian karena konsumen tetap membutuhkan produk tersebut, sementara pasokan mulai berkurang setelah musim panen raya berakhir.

Berakhirnya panen raya turut meningkatkan persaingan antar pelaku usaha dalam memperoleh gabah. Ketika volume gabah yang tersedia menurun, pembelian dari tingkat petani menjadi lebih kompetitif dan mendorong harga bergerak naik. Ahmad menyebut harga gabah kering panen di tingkat petani berada pada kisaran Rp7.000 hingga Rp9.000 per kilogram. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan harga pembelian pemerintah yang tercatat sebesar Rp6.500 per kilogram. Selisih ini menunjukkan adanya tantangan bagi Bulog untuk menyerap gabah sekaligus menjaga agar harga beras tetap terjangkau. Penyiapan cadangan beras premium diharapkan dapat memperkuat pasokan dan membantu meredam tekanan harga, terutama ketika distribusi hasil panen baru mulai menurun.

Perum Bulog terus mengembangkan pengolahan beras premium sebagai bagian dari upaya menyiapkan pasokan hingga 300 ribu ton. Produksi tersebut diarahkan untuk memperkuat ketersediaan beras di pasar sekaligus membantu menahan tekanan kenaikan harga. Hingga saat ini, proses pengolahan telah mencapai sekitar 71 ribu hingga 72 ribu ton.

Jumlah itu merupakan produksi sementara yang berasal dari beras yang telah dibeli Bulog secara komersial. Pengolahannya tidak hanya dilakukan oleh fasilitas milik Bulog, tetapi juga melibatkan mitra-mitra penggilingan yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Keterlibatan jaringan mitra tersebut memungkinkan proses produksi berjalan dengan memanfaatkan kapasitas penggilingan di sejumlah wilayah.

Bulog mendorong direktur pemasaran untuk mengolah beras komersial yang telah dibeli menjadi beras premium. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemasaran dan pengelolaan stok, sehingga beras yang tersedia dapat disalurkan dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Proses tersebut dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kemampuan pengolahan serta perkembangan kebutuhan masyarakat.

Menurut keterangan narasumber, capaian sekitar 71 ribu hingga 72 ribu ton belum merupakan keseluruhan target yang disiapkan. Angka itu menggambarkan perkembangan produksi yang telah berjalan sampai saat ini, sementara Bulog masih melanjutkan pengolahan melalui mitra-mitra penggilingan di berbagai daerah. Dengan demikian, volume pasokan beras premium masih berpotensi bertambah mengikuti proses produksi berikutnya.

Pasokan beras premium ini ditujukan terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kelas menengah yang tidak tercakup dalam program bantuan pangan pemerintah. Kelompok tersebut tetap membutuhkan beras dengan kualitas dan saluran pembelian yang sesuai, sehingga ketersediaan produk komersial menjadi penting. Melalui pengolahan beras yang dibeli secara komersial, Bulog berupaya menjaga pilihan pasokan bagi masyarakat sekaligus mendukung stabilitas harga di pasar.

Strategi penyaluran beras premium Bulog dilakukan melalui jaringan ritel modern, terutama untuk memastikan pasokan tersedia lebih dekat dengan konsumen di wilayah perkotaan. Sejumlah merek yang disebut dalam penyaluran tersebut meliputi B-Food, Punokawan, dan Setra Ramos. Kehadiran produk-produk ini menjadi bagian dari upaya Bulog memperluas akses masyarakat terhadap beras premium dengan harga yang diharapkan tetap terkendali.

Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan bahwa ritel modern, khususnya di kota-kota besar, mulai dipenuhi beras premium produksi Bulog. Menurutnya, saluran tersebut memiliki peran penting karena dapat menjangkau konsumen secara langsung sekaligus menyediakan pilihan beras yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Penyaluran melalui ritel juga memungkinkan masyarakat memantau ketersediaan produk secara lebih mudah di tengah perhatian terhadap perkembangan harga pangan.

Bulog menyiapkan tambahan pasokan sebanyak 300 ribu ton beras premium untuk memperkuat intervensi di pasar. Tambahan volume ini diharapkan dapat membantu menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan, terutama ketika harga beras menunjukkan kecenderungan meningkat. Dengan masuknya beras premium produksi Bulog ke lebih banyak gerai, perusahaan berharap tekanan harga dapat diredam dalam waktu dekat.

Langkah tersebut menjadi bagian dari pengelolaan pasokan yang diarahkan untuk mendukung stabilitas harga tanpa mengabaikan kebutuhan konsumen terhadap beras berkualitas. Distribusi melalui jaringan ritel modern juga diharapkan melengkapi penyaluran melalui saluran lainnya, sehingga pasokan dapat menjangkau lebih banyak wilayah dan kelompok masyarakat.

Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan harapannya agar intervensi melalui tambahan pasokan dan penyaluran beras premium di ritel modern dapat memberikan dampak positif terhadap kestabilan harga dalam waktu dekat.