Palembang | Kualitas udara Kota Palembang, Sumatera Selatan, tercatat berada dalam kategori berbahaya pada Selasa pagi, 13 Oktober 2026. Berdasarkan data Air Quality Index (AQI) Amerika Serikat yang dibagikan IQAir, indeks kualitas udara di kota tersebut mencapai angka 573. Nilai ini menunjukkan tingkat pencemaran udara yang sangat tinggi dan menjadi gambaran kuat mengenai kondisi udara Palembang di tengah dampak kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera Selatan.
Selain nilai AQI yang berada pada tingkat ekstrem, konsentrasi PM2.5 di Palembang tercatat sebesar 362 mikrogram per meter kubik (µg/m³). PM2.5 adalah partikel udara berukuran sangat halus yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Karena ukurannya yang kecil, partikel tersebut juga berpotensi mencapai aliran darah. Tingginya konsentrasi PM2.5 menjadi salah satu penanda utama buruknya kualitas udara yang tercatat pada waktu tersebut.
Data kondisi cuaca Palembang pada saat yang sama mencatat suhu udara sebesar 31 derajat Celsius. Kecepatan angin berada di angka 12 kilometer per jam, sementara kelembapan udara mencapai 58 persen. Informasi cuaca ini melengkapi catatan mengenai situasi atmosfer di kota tersebut ketika AQI menunjukkan kategori berbahaya. Dengan AQI 573 dan konsentrasi PM2.5 sebesar 362 µg/m³, Palembang mengalami tingkat pencemaran yang sangat tinggi berdasarkan data AQI Amerika Serikat yang disampaikan melalui IQAir pada Selasa pagi tersebut.
Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, turut mengalami dampak karhutla yang tercermin pada penurunan kualitas udaranya. Berdasarkan data IQAir pada Selasa pagi, 13 Oktober 2026, kualitas udara Balikpapan berada dalam kategori tidak sehat. Indeks kualitas udara atau AQI Amerika Serikat tercatat sebesar 155. Angka tersebut menunjukkan bahwa kondisi udara perlu mendapat perhatian karena paparan polutan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan.
Pada waktu pengukuran yang sama, konsentrasi PM2.5 di Balikpapan mencapai 60,08 mikrogram per meter kubik (µg/m³). PM2.5 merupakan partikel halus berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini dapat masuk jauh ke dalam paru-paru ketika terhirup. Paparan dalam kondisi konsentrasi tinggi berpotensi memperburuk iritasi saluran pernapasan dan meningkatkan keluhan seperti batuk, sesak napas, atau rasa tidak nyaman di dada.
Kondisi atmosfer Balikpapan pada pengukuran tersebut juga ditandai suhu 29 derajat Celsius, kecepatan angin 10 kilometer per jam, dan kelembapan udara 71 persen. Unsur-unsur cuaca ini menjadi konteks penting dalam membaca kualitas udara, meskipun angka AQI dan PM2.5 tetap menjadi indikator utama tingkat pencemaran yang terpantau. Data Balikpapan perlu dibedakan dari kondisi Palembang dalam pembahasan dampak karhutla. Keduanya sama-sama dapat terdampak asap kebakaran hutan dan lahan, tetapi tingkat kualitas udara, konsentrasi partikulat, serta waktu pengukuran tidak dapat disamakan tanpa merujuk pada data masing-masing kota. Dengan demikian, AQI 155 dan PM2.5 sebesar 60,08 µg/m³ secara khusus menggambarkan kondisi Balikpapan pada Selasa pagi, 13 Oktober 2026.
Konsentrasi PM2.5 yang tinggi dalam kualitas udara Palembang dan Balikpapan menunjukkan adanya peningkatan paparan partikel halus yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Bagi masyarakat, kondisi ini dapat menimbulkan gangguan kesehatan mulai dari iritasi mata dan tenggorokan hingga gangguan pernapasan. Keluhan tersebut mencerminkan dampak paparan polutan terhadap tubuh, terutama ketika udara tercemar berlangsung dalam periode tertentu. Namun, informasi mengenai kualitas udara tidak dapat digunakan untuk menetapkan diagnosis pada individu.
Tingkat risiko kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan, yaitu kategori AQI, konsentrasi PM2.5 dan polutan lain yang tercatat, serta lamanya paparan. Semakin tinggi kategori AQI dan kadar PM2.5, semakin besar perhatian yang perlu diberikan terhadap kemungkinan gangguan kesehatan. Paparan yang berlangsung lebih lama juga dapat meningkatkan beban polusi yang diterima tubuh. Karena itu, angka kualitas udara perlu dipahami bersama durasi kondisi tersebut, bukan hanya berdasarkan satu pengukuran pada waktu tertentu.
Risiko juga menjadi lebih penting bagi kelompok sensitif, khususnya anak-anak, lansia, serta orang yang telah memiliki penyakit pernapasan atau penyakit jantung. Pada kelompok ini, paparan polusi dapat memperburuk penyakit yang sudah diderita dan memicu gangguan pernapasan atau keluhan kesehatan lain yang berkaitan dengan kondisi tersebut. Dampaknya tidak selalu sama pada setiap orang, karena dipengaruhi oleh tingkat pencemaran dan lamanya seseorang berada di udara tercemar. Dengan demikian, catatan PM2.5 di kedua kota perlu dibaca sebagai indikator potensi risiko kesehatan masyarakat, bukan sebagai kepastian bahwa setiap penduduk akan mengalami dampak yang sama.
Pemantauan kualitas udara secara berkala penting dilakukan ketika kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan berpotensi memengaruhi Palembang, Balikpapan, maupun wilayah sekitarnya. Masyarakat dapat menggunakan informasi indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Amerika Serikat sebagai indikator tingkat pencemaran dan kemungkinan dampaknya terhadap kesehatan. Semakin tinggi nilai AQI, semakin besar tingkat pencemaran serta risiko gangguan bagi kelompok sensitif, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit pernapasan atau kardiovaskular. Informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk menyesuaikan kegiatan harian, khususnya ketika kualitas udara masuk kategori tidak sehat.
Selain memperhatikan AQI, masyarakat perlu mencermati konsentrasi PM2.5. Parameter ini menunjukkan jumlah partikel sangat halus berdiameter hingga 2,5 mikrometer yang terdapat di udara. Karena ukurannya kecil, PM2.5 dapat masuk jauh ke saluran pernapasan dan berpotensi mencapai bagian paru-paru yang lebih dalam. Saat kadarnya meningkat, aktivitas fisik berat di luar ruangan sebaiknya dikurangi atau ditunda. Berlari, berolahraga, dan pekerjaan yang membutuhkan tenaga besar dapat meningkatkan frekuensi serta volume pernapasan, sehingga paparan polutan ikut bertambah. Kelompok rentan perlu mengambil langkah lebih hati-hati dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mengalami sesak, batuk berkepanjangan, atau iritasi.
Perlindungan tambahan dapat dilakukan dengan menutup jendela dan pintu ketika udara luar tercemar, serta membatasi masuknya asap ke dalam rumah. Penggunaan penyaring udara dalam ruangan dapat membantu mengurangi partikel halus, terutama apabila perangkat memiliki kemampuan menyaring PM2.5 dan digunakan sesuai petunjuk. Masker yang sesuai juga dapat dipertimbangkan saat seseorang harus beraktivitas di luar. Kondisi udara tidak selalu tetap karena dipengaruhi cuaca, arah angin, kelembapan, dan perubahan sumber pencemaran. Oleh sebab itu, pemantauan AQI dan PM2.5 perlu diulang secara berkala agar keputusan mengenai aktivitas dan perlindungan dapat disesuaikan dengan keadaan terbaru.
Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Kualitas Udara Jakarta 5 September 2026: Ancaman Bagi Kesehatan | Dampak Biaya Kelebihan Bagasi Juicy Luicy Terhadap Penampilan di Batam

