FLORES TIMUR – RADARNKRI – Mungkin saat ini belum banyak masyarakat yang mengenal sosok muda energik seperti Fransiskus Xaverius Bala Keban, Caleg DPRD Kabupaten Flores Timur, Dapil 6 dari Partai Nasional Demokrasi (Nasdem).
Maklum pria kelahiran Balaweling 1, Solor Barat, Pulau Solor ini lebih banyak menghabiskan waktu sekolahnya di Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur, dari TK Bhayangkara hingga SMA Seminari San Dominggo Hokeng di tahun 2008.
Ketika ditemui awak media ini di kediaman nga pada Senin 4 Desember 2023, Frengky Keban (sapaan nya-red) menceritakan, ketika usai menempuh pendidikan di SMA Seminari Sandomingo Hokeng dirinya memiliki keinginan untuk menjadi seorang Imam Katolik.
Namun cita-cita itu urung terwujud usai ia memutuskan keluar dari Novisiat Sang Sabda Kuwu dan melanjutkan studi di program studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial Politik, Universitas Nusa Cendana Kupang.
Di Kupang inilah kata Frengky, ia seolah menemukan jiwanya sendiri dengan mulai aktif berorganisasi di sejumlah organisasi kepemudaan level lokal Flores Timur seperti Kemah Nusa Solor dan organisasi intra kampus seperti BEM, BLM dan KMK St Agustinus Fisip Undana yang kemudian mengantarkan menjadi ketua di dua organisasi tersebut.
Kepiawaian dalam berkomunikasi harus diakui membuatnya tidak kesulitan membangun kemitraan dengan organisasi lainnya juga para pemangku kepentingan saat itu.
Imbasnya, saat selesai meraih gelar sarjana ia tidak kesulitan mendapatkan pekerjaan dengan memulai kariernya sebagai wartawan radio di LPPL RSPD Flotim selama 1,5 tahun.
Di ruang inilah ia mulai akrab dengan diskusi mendalam dengan figur-figur kritis seperti, Pater Stef Tupeng Witin, Melki Koli Baran, Kanis Soge, Vero Lamahoda ataupun wartawan senior Wentho Eliando.
“Dari mereka saya banyak belajar tentang banyak hal untuk memperkaya keilmuan yang saya miliki termasuk ilmu sosial kemasyarakatan. Sedang untuk politik harus diakui saya punya sejumlah figur yang hari ini juga berperan memberikan banyak ilmu buat saya dengan cerita ataupun pengalaman mereka saat diwawancarai,” katanya saat ditemui media ini, Senin 4 Desember 2023 di Larantuka.
Iya pengalaman itulah yang mendorongnya keluar untuk belajar lagi di daerah lain karena baginya belajar itu harus terus dilakukan selama masih diberi ruang.
Hasilnya cukup terasa di tana Sumba khususnya SBD ia hadir sebagai seorang inovator ulung dengan menggerakkan anak muda Sumba potensial untuk terlibat membantu pemerintah dan masyarakat membangun daerah tersebut melalui kegiatan sosial di bidang pendidikan dengan Buku Bagi NTT.
“Di komunitas itu saya punya cita-cita anak SBD bisa berpikir out of box dengan percaya kalau mereka punya modal untuk bersama membangun daerahnya dengan kemampuan yang mereka miliki dan itu terbukti saat kami bergabung di buku bagi NTT dan Ko Dukung SBD,” katanya.
Kepiawaiannya itu kemudian tak pelak membuat anak pertama dari pasangan Paulus Laparuda Keban dan Almarhumah Maria Golo Niron ini terus mengembangkan diri dengan belajar politik dari berbagai figur politik baik di Flores maupun Sumba dalam ruang diskusi yang ia jalani.
Tak pelak dalam keseharian sebagai jurnalis ia masih memberikan ruang jadi tempat para politisi untuk jadi teman mencurahkan ide dan gagasan untuk bersama diperjuangkan.
Masuk Politik Untuk Membantu Masyarakat

– Uniknya, walaupun sudah familiar dengan politik tapi sekretaris Komunitas Anak Muda Lamaholot SBD itu tidak buru-buru masuk partai.
Alasannya cukup masuk akal, baginya ia hanya butuh partai yang serius melihat potensi dalam dirinya dan percaya dengan kemampuan yang ia miliki.
“Dan pilihan itu jatuh pada NasDem pada 1 Mei 2023 lalu yang serius meminang saya. Iya bagi kebanyakan orang jawaban ia yang saya berikan itu terlambat tapi dalam politik tidak ada kata terlambat. Toh ketika NasDem serius dan percaya kepada saya, saya tidak bisa menolaknya apalagi mereka mempercayakan saya jadi caleg di tanah leluhur saya,” tutur Frengky.
Pilihan itu telah dibuat dan kerja politik pun sudah dilakukan dan beberapa bulan belakangan. Dirinya juga selalu percaya bahwa ketika menjadi caleg dan jika terpilih pilih nanti hanyalah bonus dari sebuah perjuangan.
yang terpenting kata Frengki, ia bisa kembali membantu masyarakatnya agar keputusan politik di balai gelekat juga menyasar pada masyarakat Solor yang saban hari belum mendapatkan banyak perhatian.
Hal ini ungkapnya bisa dilihat dari masih banyak ruas jalan yang rusak, ada daerah yang belum merasakan nikmatnya air bersih, listrik dan signal untuk berkomunikasi.
“Saya hadir bukan sebagai penyumbang tapi penentu suara tuk menjadikan solor itu mahal kendati saya hanya punya kemampuan dan koneksi. Tapi saya percaya apa yang ada pada saya bisa memberikan manfaat buat ribu ratu Solor karena suara mereka adalah suara Leluhur lewotanah,” tambahnya mengakhiri. ***(ell).
