Hilirisasi Antam Makin Terlihat: Kinerja Alumina, Bauksit, dan Nikel Menguat

oleh -53 Dilihat
oleh
Hilirisasi Antam Makin Terlihat: Kinerja Alumina, Bauksit, dan Nikel Menguat

Kabupaten Mempawah | Hilirisasi semakin penting dalam strategi Antam karena membuka jalur untuk mengolah sumber daya mineral menjadi bahan dan produk bernilai tambah lebih tinggi. Penguatan kinerja alumina, bauksit, dan nikel memberi landasan bagi perusahaan untuk mengembangkan bisnis yang tidak hanya bergantung pada penjualan komoditas mentah. Dengan memperluas kegiatan pengolahan, Antam berupaya menghubungkan tahap penambangan, pemurnian, manufaktur, hingga produk yang digunakan oleh industri dan konsumen. Pendekatan ini juga dapat memperkuat keterkaitan aset mineral perusahaan dan kebutuhan sektor hilir, sekaligus membangun sumber pertumbuhan baru dalam jangka panjang. Fokus pengembangan diarahkan terutama pada ekosistem baterai kendaraan listrik serta industri aluminium, dua bidang yang memerlukan pasokan bahan baku dan kapasitas pengolahan yang andal. Strategi tersebut menempatkan hilirisasi sebagai bagian penting dari arah pengembangan usaha Antam.

Di sektor nikel, pengembangan fasilitas pengolahan menjadi salah satu penghubung utama cadangan mineral dan bahan untuk rantai pasok baterai. Proyek rotary kiln electric furnace (RKEF) telah memasuki tahap engineering, procurement, and construction (EPC), menandai kemajuan menuju pembangunan fasilitas. Sementara itu, proyek high pressure acid leach (HPAL) masih berada dalam tahap persetujuan investasi. Perbedaan tahap ini menunjukkan bahwa setiap proyek memiliki proses pengembangan dan keputusan yang perlu dilalui sebelum beroperasi. Kemajuan RKEF dan kelanjutan pembahasan HPAL tetap relevan bagi rencana Antam untuk memperbesar kapasitas pengolahan nikel. Di sisi aluminium, pengembangan ekosistem juga menghubungkan bauksit dengan alumina dan kebutuhan industri, sehingga sumber daya mineral dapat mendukung rantai produksi yang lebih luas. Keterpaduan antartahap menjadi faktor penting dalam mewujudkan nilai tambah domestik.

Analis Phintraco Sekuritas, Indra Setyadi, menyampaikan visi untuk membangun rantai nilai baterai kendaraan listrik yang terintegrasi dengan dukungan mitra strategis. Kemitraan diperlukan untuk melengkapi kemampuan perusahaan, mendukung pembiayaan, serta menghubungkan pasokan bahan baku dengan teknologi dan pasar produk akhir. Dalam kerangka tersebut, Antam tidak hanya berperan sebagai penyedia mineral, tetapi juga berupaya mengambil bagian pada tahapan pengolahan dan manufaktur. Perusahaan menyebut fasilitas manufaktur sel baterai di Karawang mulai beroperasi pada 2026. Jadwal itu menjadi salah satu penanda penting bagi rencana pengembangan ekosistem baterai, meskipun realisasinya bergantung pada kesiapan fasilitas dan kelanjutan proyek terkait. Jika berbagai mata rantai dapat berjalan seiring, pengembangan mineral, pengolahan, dan produksi sel berpotensi memperkuat posisi Antam dalam industri baterai EV serta mendukung pertumbuhan bisnis hilir perusahaan.Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) fase I di Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, mulai memperlihatkan kontribusi nyata terhadap hilirisasi mineral Antam. Fasilitas ini dikelola PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), perusahaan patungan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Setelah beroperasi, SGAR tidak hanya menambah kapasitas pengolahan bauksit di dalam negeri, tetapi juga mulai menghasilkan penjualan alumina dalam skala signifikan. Pada semester I-2026, BAI membukukan penjualan sebanyak 350 ribu ton, menjadi salah satu capaian operasional yang menandai perkembangan proyek tersebut.

Kinerja penjualan itu menjadi pijakan bagi perusahaan untuk mengejar target sepanjang tahun. BAI menargetkan penjualan mencapai 700 ribu ton hingga akhir 2026, sementara fase I SGAR memiliki kapasitas produksi tahunan sebesar 1 juta ton alumina. Target penjualan dan kapasitas produksi tersebut mencerminkan ruang bagi fasilitas untuk meningkatkan pemanfaatan produksinya secara bertahap. Realisasi berikutnya akan bergantung pada kelancaran operasi serta penyerapan produk oleh pasar domestik dan ekspor. Dengan kapasitas tersebut, SGAR berpotensi memperkuat rantai pasok alumina nasional sekaligus menyediakan bahan baku bagi industri pengolahan aluminium.

Rencana alokasi produksi fase I mencakup sekitar 550 ribu ton untuk memenuhi kebutuhan domestik Inalum dan sekitar 450 ribu ton untuk ekspor. Pembagian ini menempatkan pasokan bagi industri dalam negeri sebagai bagian utama dari pemanfaatan alumina, sembari membuka akses ke pasar internasional. Selain menghasilkan penjualan, BAI juga telah memberikan kontribusi laba kepada Antam. Pada semester I-2026, kontribusi laba tersebut tercatat sebesar Rp257,6 miliar. Indra menyampaikan bahwa setoran laba kepada Antam berpeluang meningkat seiring dengan kenaikan produksi. Karena itu, perkembangan operasi SGAR, pencapaian target penjualan, dan realisasi alokasi produk akan menjadi faktor penting untuk dicermati dalam menilai manfaat proyek bagi kinerja Antam ke depan.

Operasi Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) memiliki hubungan langsung dengan bisnis bauksit Antam karena kebutuhan bijih untuk fasilitas pengolahan tersebut dipasok dari tambang perseroan. Hubungan ini menghubungkan kegiatan penambangan dengan pengolahan lebih lanjut, sekaligus memperlihatkan peran bahan baku domestik dalam mendukung rantai usaha perusahaan. Seiring mulai beroperasinya SGAR, penjualan bauksit Antam pada semester I-2026 meningkat 24,4% menjadi sekitar 1,3 juta wet metric ton (WMT). Kenaikan tersebut berjalan seiring dimulainya operasi fasilitas dan memberikan gambaran mengenai meningkatnya aktivitas pada lini bauksit dalam periode pelaporan.

Perkembangan itu berlangsung bersama pertumbuhan penjualan pada sejumlah komoditas lain. Penjualan feronikel naik 32% menjadi sekitar 7,6 ribu ton nikel, sedangkan penjualan chemical grade alumina meningkat 10,2% menjadi sekitar 100,4 ribu ton. Kedua capaian tersebut menambah gambaran kinerja segmen hilir Antam, termasuk produk olahan yang terkait dengan pengembangan kegiatan pemrosesan mineral. Secara bersama-sama, angka penjualan bauksit, feronikel, dan alumina menunjukkan adanya perkembangan pada beberapa lini usaha. Namun, angka pertumbuhan setiap komoditas perlu dibaca sesuai konteksnya: volume penjualan, jenis produk, serta peran masing-masing dalam keseluruhan portofolio perusahaan tidak sama.

Karena itu, kenaikan penjualan bauksit dan produk hilir tidak berarti komposisi pendapatan Antam telah berubah dengan sendirinya. Emas tetap menjadi penyumbang pendapatan terbesar, disusul nikel, kemudian bauksit dan alumina. Dengan susunan tersebut, penguatan penjualan bauksit dan alumina menunjukkan kemajuan pada bisnis terkait hilirisasi, sementara emas masih memegang posisi utama dalam kontribusi pendapatan. Kinerja feronikel yang meningkat juga memperlihatkan perkembangan pada lini nikel, yang tetap menjadi penyumbang penting setelah emas. Secara keseluruhan, data semester I-2026 menggambarkan pertumbuhan di beberapa kegiatan usaha Antam, dengan SGAR turut mengaitkan pasokan bauksit tambang perseroan dan pengolahan alumina.PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatat kinerja keuangan yang menguat pada semester I-2026. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp62,71 triliun, tumbuh sekitar 6,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih mencapai Rp6,91 triliun, meningkat 34% dari semester I-2025. Pertumbuhan laba yang lebih tinggi daripada kenaikan pendapatan menunjukkan bahwa penguatan kinerja tidak hanya ditopang oleh penjualan, tetapi juga oleh perkembangan profitabilitas perseroan.

Phintraco Sekuritas mengaitkan prospek laba Antam pada 2026 dengan pertumbuhan EBITDA dan meningkatnya kontribusi laba dari entitas asosiasi, terutama PT Borneo Alumina Indonesia (BAI). Berdasarkan proyeksinya, laba bersih Antam dapat mencapai sekitar Rp11,6 triliun pada 2026, atau tumbuh 61,6%. Kontribusi BAI menjadi salah satu faktor yang diperhatikan karena pengembangan fasilitas pengolahan alumina dapat memperluas nilai tambah dari sumber daya bauksit. Seiring proyek hilirisasi berjalan dan kinerja operasional berkembang, pendapatan dari kegiatan terkait diharapkan memberi dukungan lebih besar terhadap hasil keuangan Antam.

Dengan mempertimbangkan prospek tersebut, Phintraco mempertahankan rekomendasi beli untuk saham ANTM dan menetapkan target harga Rp4.840.