PALEMBANG, SUMATERA SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih menyelimuti Kota Palembang, Sumatra Selatan, pada Kamis, 8 Oktober 2026. Asap terlihat sejak pagi dan bertahan hingga sore hari, membuat jarak pandang serta kenyamanan warga menurun. Kondisi tersebut terjadi ketika upaya penanganan kebakaran terus dilakukan secara intensif di sejumlah wilayah yang terdampak. Bau asap terasa di berbagai kawasan dan menambah kekhawatiran masyarakat terhadap dampaknya bagi kesehatan.
Gangguan paling nyata dirasakan warga yang harus beraktivitas di luar ruangan. Sebagian masyarakat terlihat mengenakan masker ketika bepergian, bekerja, atau menjalankan kegiatan sehari-hari untuk mengurangi paparan asap. Namun, masih terdapat warga yang beraktivitas tanpa perlindungan tersebut, baik karena keterbatasan maupun karena menganggap kondisi asap belum terlalu mengganggu. Paparan dalam waktu lama tetap perlu diwaspadai, terutama oleh anak-anak, lanjut usia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan.
Di sejumlah wilayah, kualitas udara dilaporkan berada dalam kategori berbahaya. Situasi ini menunjukkan bahwa kabut asap bukan hanya persoalan jarak pandang, melainkan juga ancaman terhadap kesehatan dan kelancaran aktivitas masyarakat. Warga diimbau membatasi kegiatan di luar ruangan, menggunakan masker yang sesuai, serta memantau perkembangan kualitas udara sebelum bepergian. Sementara itu, operasi modifikasi cuaca belum dilaksanakan karena belum terdapat potensi pertumbuhan awan hujan yang mendukung pelaksanaannya. Langkah tersebut masih menunggu kondisi atmosfer yang memungkinkan penyemaian awan dilakukan secara efektif.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut mengganggu transportasi udara di Palembang. Pada 8 Oktober 2026, jarak pandang di wilayah tersebut sempat menurun hingga sekitar 400 meter. Kondisi ini menyulitkan awak pesawat maupun petugas pengatur lalu lintas udara dalam memastikan proses lepas landas dan pendaratan berlangsung secara aman. Minimnya jarak pandang juga meningkatkan kebutuhan untuk melakukan pengaturan operasional secara lebih hati-hati di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II.
Penurunan jarak pandang tersebut berdampak pada sejumlah penerbangan yang menuju bandara internasional di Palembang. Sebagian penerbangan mengalami penundaan karena aspek keamanan dan keselamatan harus menjadi pertimbangan utama ketika kondisi atmosfer tidak mendukung. Dalam situasi seperti ini, keputusan untuk menunda jadwal dapat diambil guna mengurangi risiko selama pesawat berada di sekitar kawasan bandara, terutama pada fase pendekatan, pendaratan, dan keberangkatan.
Gangguan serupa juga tercatat sehari sebelumnya. Pada Rabu, 7 Oktober 2026, tiga penerbangan sipil mengalami gangguan, baik pada jadwal keberangkatan maupun kedatangannya. Fakta tersebut menunjukkan bahwa dampak kabut asap tidak hanya dirasakan oleh penumpang yang hendak berangkat, tetapi juga oleh penerbangan yang dijadwalkan tiba di Palembang. Ketika jarak pandang berada pada tingkat rendah, seluruh rangkaian operasional penerbangan dapat ikut terpengaruh karena prosesnya harus menyesuaikan kondisi aktual di lapangan.
Jarak pandang menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kelancaran dan keselamatan penerbangan. Selama kabut asap masih membatasi visibilitas, jadwal penerbangan berpotensi mengalami perubahan mengikuti hasil pemantauan dan penilaian keselamatan. Penumpang perlu memperhatikan informasi terbaru dari pihak bandara atau operator penerbangan sebelum menuju lokasi, sementara pengelola bandara terus menyesuaikan layanan dengan perkembangan kondisi udara di Palembang.
Catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Rabu, 7 Oktober 2026, menunjukkan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan masih menghadapi tantangan besar. Sebanyak 354 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi di wilayah tersebut. Angka ini menjadi indikator adanya potensi kebakaran yang perlu segera diverifikasi dan ditangani oleh petugas di lapangan.
Di sisi lain, titik api yang masih membakar lahan tercatat sebanyak 92 titik. Kebakaran aktif itu diperkirakan telah menjangkau area seluas 390,61 hektare. Data tersebut menggambarkan bahwa persoalan karhutla tidak hanya berkaitan dengan kemunculan titik panas, tetapi juga meliputi api yang telah berkembang dan berpotensi meluas apabila tidak dikendalikan secara cepat.
Pemantauan menggunakan satelit NOAA20 dalam kurun waktu 24 jam turut menemukan 49 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Berdasarkan sebarannya, Kabupaten Ogan Komering Ilir menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 45 titik. Sementara itu, Muara Enim mencatat 4 titik. Perbedaan jumlah tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi deteksi panas masih lebih dominan di wilayah Ogan Komering Ilir.
Kondisi lingkungan turut meningkatkan risiko kebakaran. Sebagian besar wilayah Sumatra Selatan berada dalam kategori sangat mudah terbakar berdasarkan tingkat kemudahan terbakar pada lapisan atas permukaan tanah. Lapisan yang kering dapat mempercepat penyalaan dan membantu api menjalar, terutama ketika curah hujan rendah serta angin bertiup cukup kuat. Karena itu, pemantauan titik panas, patroli kawasan rawan, dan pemadaman dini menjadi langkah penting untuk mencegah perluasan area terdampak. Informasi tersebut juga diperlukan sebagai dasar kewaspadaan masyarakat dan pengelola transportasi udara terhadap kemungkinan gangguan akibat kabut asap.
Wakil Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palembang pada Rabu, 7 Oktober 2026. Dalam peninjauan tersebut, pemerintah menegaskan pentingnya koordinasi lintas lembaga untuk mempercepat pemadaman, mengurangi dampak kabut asap, serta mencegah munculnya titik api baru.
Langkah operasional yang disiapkan mencakup koordinasi operasi modifikasi cuaca untuk mendorong turunnya hujan di wilayah terdampak. Upaya dari udara juga diperkuat melalui water bombing, terutama pada lokasi yang sulit dijangkau petugas di darat. Selain pemadaman, pemerintah meminta pengelola wilayah konsesi meningkatkan patroli, pemantauan titik panas, kesiapsiagaan personel, dan pencegahan agar api tidak meluas.
Diaz juga memimpin rapat koordinasi penanganan karhutla Sumatra Selatan yang melibatkan 43 perusahaan swasta pemegang konsesi di wilayah 1 yang memiliki titik kebakaran. Keterlibatan perusahaan dinilai penting karena pengendalian api di area konsesi memerlukan respons cepat, ketersediaan peralatan, serta pelaporan kondisi lapangan secara berkala kepada pemerintah dan tim penanggulangan bencana.
Salah satu rencana pencegahan diarahkan pada peningkatan kembali air tanah di lahan gambut yang mengering. Pemerintah mendorong pembangunan sekat kanal untuk menahan air agar kelembapan gambut tetap terjaga. Di area konsesi yang rawan terbakar, air dari sungai sekitar akan diambil melalui intake untuk mengisi kanal. Proses tersebut dapat didukung pompa sentrifugal, sehingga distribusi air berlangsung lebih efektif, khususnya ketika curah hujan belum mencukupi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau warga memakai masker saat beraktivitas di luar rumah untuk mengurangi paparan asap. Masyarakat juga diminta berhati-hati ketika berkendara karena kabut asap dapat mengurangi jarak pandang. Pengendara sebaiknya menyalakan lampu, mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, dan mengikuti arahan petugas di jalan.

