Kebakaran di Loa Ipuh Melalap Sembilan Bangunan, Dua Kakak Adik Ditemukan Berpelukan

oleh -32 Dilihat
oleh
Kebakaran di Loa Ipuh Melalap Sembilan Bangunan, Dua Kakak Adik Ditemukan Berpelukan

Kabupaten Kutai Kartanegara | Kebakaran melanda permukiman padat penduduk di Jalan Kartini, Gang Karya, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada Selasa, 13 Oktober 2026. Peristiwa tersebut menghanguskan sembilan bangunan yang berada di kawasan permukiman warga.

Api mulai berkobar sekitar pukul 23.45 WITA ketika sebagian besar warga berada di dalam rumah. Dalam waktu singkat, kobaran api membesar dan menjalar di bangunan yang berdiri berdekatan. Kondisi lingkungan yang padat membuat kebakaran dengan cepat meluas ke area permukiman di sekitarnya.

Jangkauan api kemudian mencapai kawasan RT 61 dan RT 26. Kepulan asap serta cahaya api terlihat dari sekitar lokasi, sementara warga berupaya menyelamatkan diri dan mengamankan barang-barang yang masih dapat dibawa. Sejumlah bangunan di jalur rambatan api tidak dapat diselamatkan hingga akhirnya terbakar.

Peristiwa di Gang Karya itu menjadi perhatian warga Tenggarong karena terjadi pada malam hari dan berlangsung di tengah permukiman yang rapat. Sembilan bangunan tercatat terdampak dalam kejadian tersebut, sehingga warga di sekitar lokasi harus menghadapi situasi darurat dan melakukan evakuasi dari area yang berdekatan dengan titik kebakaran.

Petugas pemadam kebakaran bersama para relawan segera berjibaku menghadapi kobaran api yang melanda kawasan permukiman di Loa Ipuh. Situasi berlangsung dalam kondisi darurat karena api tidak hanya menghanguskan bangunan yang terdampak, tetapi juga berpotensi menjalar ke rumah-rumah warga di sekitarnya. Upaya pemadaman dilakukan secara berkelanjutan untuk menahan pergerakan api dan mencegah dampak yang lebih luas.

Di tengah kepadatan lingkungan, petugas berusaha mengendalikan titik-titik api dengan tetap memperhatikan bangunan di sekitar lokasi. Rumah warga menjadi salah satu area yang berada dalam ancaman, terutama karena kobaran api dapat menyebar dengan cepat dari satu bangunan ke bangunan lain. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan kewaspadaan tinggi serta koordinasi petugas dan relawan yang berada di lapangan.

Ancaman juga mengarah ke bangunan sekolah yang berada tidak jauh dari lokasi kebakaran. Keberadaan fasilitas pendidikan di sekitar area terdampak menambah urgensi penanganan, sebab api harus segera dikendalikan agar tidak meluas ke lingkungan yang lebih banyak. Petugas dan relawan terus bekerja menghadapi panas serta kepulan asap, sambil berupaya menjaga agar bangunan lain tetap terhindar dari jangkauan kobaran.

Setelah sekitar 45 menit, tim gabungan akhirnya berhasil mengendalikan api. Keberhasilan tersebut menandai berkurangnya ancaman terhadap rumah warga dan bangunan sekolah di sekitar lokasi, meskipun penanganan tetap dilakukan dengan kehati-hatian. Peristiwa ini memperlihatkan betapa cepat kebakaran di tengah permukiman dapat berubah menjadi keadaan yang mengancam banyak bangunan, sehingga respons petugas pemadam kebakaran dan dukungan relawan menjadi bagian penting dalam membatasi penyebaran api.

Setelah api berhasil dikendalikan, situasi di sekitar lokasi kebakaran di Loa Ipuh mulai ditangani secara lebih terarah. Petugas pemadam kebakaran masih melakukan pendinginan untuk memastikan tidak ada lagi titik api yang berpotensi menyala kembali. Pada saat yang sama, sejumlah warga menyampaikan informasi bahwa dua anak diduga masih berada di dalam salah satu bangunan yang terbakar.

Informasi tersebut segera menjadi perhatian petugas karena bagian bangunan telah mengalami kerusakan akibat kobaran api. Untuk memastikan kebenaran laporan itu, petugas pemadam kebakaran bersama kepolisian melakukan pencarian lanjutan di area terdampak. Proses tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi puing-puing yang tidak stabil serta kemungkinan masih adanya material panas di beberapa bagian.

Rombongan petugas kemudian menyisir sisa bangunan secara bertahap. Mereka memeriksa bagian-bagian yang dapat dijangkau, membuka material yang menghalangi akses, dan mengamati setiap sudut di reruntuhan. Pencarian dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan risiko tambahan bagi petugas maupun warga yang berada di sekitar lokasi.

Warga turut menunggu perkembangan pencarian dari jarak aman, sementara petugas mengatur area agar proses evakuasi dan pemeriksaan dapat berlangsung tanpa gangguan. Polisi membantu mengamankan lokasi serta mengumpulkan keterangan dari masyarakat mengenai keberadaan kedua anak tersebut sebelum kebakaran terjadi. Hingga pencarian berlangsung, petugas memusatkan upaya untuk menemukan mereka di puing-puing bangunan dan memastikan seluruh area yang mungkin telah diperiksa.

Langkah pencarian lanjutan itu menjadi bagian penting dari penanganan setelah kebakaran melanda sembilan bangunan di kawasan tersebut. Petugas tetap bekerja berdasarkan informasi yang diterima di lapangan dan kondisi nyata di lokasi, sambil menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.

Proses pencarian terhadap dua anak yang belum ditemukan berlangsung selama sekitar 30 menit setelah kebakaran melalap bangunan di Loa Ipuh. Dalam rentang waktu tersebut, petugas dan warga melakukan penelusuran di area yang dipenuhi puing-puing bangunan terbakar. Pencarian kemudian mengarah pada satu titik di reruntuhan, tempat kedua anak itu diduga berada. Upaya tersebut dilakukan hingga informasi mengenai keberadaan Ahmad dan Husen berhasil diperoleh.

Sekitar pukul 02.00 WITA, pencarian berakhir dengan ditemukannya Ahmad, anak berusia tujuh tahun, bersama adiknya, Husen, yang berusia tiga tahun. Keterangan mengenai penemuan itu menyebutkan bahwa keduanya diduga berada di bawah sebuah kasur, di puing-puing bangunan yang terbakar. Lokasi tersebut menjadi bagian penting dari proses pencarian setelah kebakaran melanda sembilan bangunan di kawasan Loa Ipuh.

Ahmad dan Husen disebut ditemukan dalam posisi saling berpelukan di tengah reruntuhan. Informasi itu disampaikan seiring berakhirnya pencarian yang berlangsung sekitar setengah jam. Penemuan pada pukul 02.00 WITA tersebut menandai ditemukannya kedua kakak adik yang sebelumnya dicari di area bangunan terbakar. Keterangan tentang posisi mereka di bawah kasur dan di puing-puing menjadi informasi yang menyertai laporan penemuan tersebut.

Saat proses penemuan berlangsung, seorang petugas disebut sempat meminta warga agar tidak merekam kejadian tersebut. Permintaan itu disampaikan ketika pencarian terhadap Ahmad dan Husen berakhir di area puing-puing bangunan. Dengan demikian, rangkaian pencarian yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut mencakup penelusuran lokasi, penemuan Ahmad yang berusia tujuh tahun dan Husen yang berusia tiga tahun pada pukul 02.00 WITA, serta imbauan petugas kepada warga yang berada di sekitar lokasi.

Baca juga: Respons Cepat Babinsa dan Warga Padamkan Kebakaran Lahan Di Tuwuhrejo Blitar | Upaya Pemadaman Kebakaran Hutan di Tiga Gunung Jawa Timur | Upaya Pemadaman Kebakaran Hutan di Gunung Bromo