KOTA MALANG, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Motor yang biasanya dikenal irit dapat mengalami peningkatan konsumsi bahan bakar tanpa disadari. Perubahan tersebut sering kali muncul secara bertahap, sehingga pengendara baru menyadarinya setelah frekuensi pengisian bahan bakar terasa lebih sering. Padahal, penggunaan bahan bakar tidak selalu hanya ditentukan oleh kondisi dasar kendaraan. Kebiasaan saat berkendara dan cara merawat motor juga memiliki pengaruh terhadap efisiensi pemakaian sehari-hari.
Efisiensi bahan bakar berkaitan dengan bagaimana motor digunakan dalam berbagai situasi. Cara membuka gas, misalnya, dapat memengaruhi kerja mesin dan jumlah bahan bakar yang digunakan. Membuka gas secara tidak tepat atau tidak menyesuaikannya dengan kebutuhan perjalanan dapat membuat konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros. Karena itu, perilaku pengendara menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan, selain memastikan motor tetap berada dalam kondisi yang mendukung penggunaan bahan bakar secara efisien.
Beban yang dibawa juga termasuk faktor yang dapat memengaruhi pemakaian BBM. Semakin besar beban yang harus ditanggung, semakin besar pula tuntutan terhadap kerja motor. Apabila kondisi tersebut menjadi kebiasaan, konsumsi bahan bakar dapat meningkat tanpa disadari. Pengendara perlu memperhatikan barang atau muatan yang dibawa agar tetap sesuai kebutuhan, sehingga kerja motor tidak terbebani secara berlebihan selama digunakan.
Selain kebiasaan berkendara, kondisi ban dan mesin turut berperan dalam efisiensi BBM. Ban yang tidak berada dalam kondisi sesuai serta mesin yang kurang terawat dapat membuat penggunaan bahan bakar menjadi kurang optimal. Perawatan yang dilakukan secara tepat membantu menjaga kinerja motor dan mendukung pemakaian bahan bakar yang lebih terkendali. Dengan memperhatikan cara membuka gas, beban, kondisi ban, dan keadaan mesin, pengendara dapat lebih mudah mengenali kebiasaan harian yang berpotensi menyebabkan motor menjadi boros.
Salah satu kebiasaan berkendara yang dapat membuat konsumsi BBM motor lebih boros adalah memutar gas secara agresif, kemudian melakukan pengereman secara mendadak. Pola ini biasanya terjadi ketika pengendara berusaha mencapai kecepatan tinggi dalam waktu singkat, tetapi segera mengurangi laju karena kondisi jalan, kendaraan di depan, atau perubahan situasi lalu lintas. Perulangan akselerasi kuat dan pengereman tiba-tiba membuat kerja mesin menjadi tidak stabil.
Saat gas diputar secara berlebihan, mesin harus menghasilkan tenaga lebih besar untuk meningkatkan kecepatan motor. Kebutuhan tenaga tersebut membuat proses pembakaran bekerja lebih intensif. Namun, tenaga yang sudah digunakan untuk menambah laju menjadi kurang optimal ketika motor segera direm. Energi yang dihasilkan mesin tidak sepenuhnya dimanfaatkan untuk mempertahankan perjalanan, karena kecepatan kembali dikurangi dalam waktu singkat.
Setelah pengereman mendadak, pengendara sering kembali membuka gas dengan kuat untuk mencapai kecepatan sebelumnya. Siklus tersebut membuat mesin terus menyesuaikan diri terhadap perubahan beban dan kecepatan. Alih-alih bergerak dalam laju yang relatif konstan, motor mengalami perubahan kecepatan berulang, baik ketika mempercepat maupun saat memperlambat. Kondisi ini menyebabkan pengoperasian mesin menjadi kurang efisien.
Ketidakstabilan laju juga berpengaruh terhadap pemakaian bahan bakar selama perjalanan. Motor yang melaju dengan kecepatan lebih teratur dapat mempertahankan kerja mesin secara lebih konsisten, sedangkan akselerasi agresif dan pengereman mendadak menuntut penyesuaian tenaga berkali-kali. Karena itu, kebiasaan tersebut berpotensi meningkatkan konsumsi BBM dibandingkan gaya berkendara yang lebih halus. Pengendara dapat mengurangi dampaknya dengan memutar gas secara bertahap, memperhatikan jarak aman, dan mengantisipasi kondisi lalu lintas agar tidak perlu melakukan pengereman secara tiba-tiba.
Salah satu kebiasaan yang dapat membantu menjaga konsumsi BBM motor tetap efisien adalah membuka gas secara bertahap. Putaran gas yang dilakukan dengan halus membuat perubahan laju motor berlangsung lebih teratur, tanpa dorongan yang berlebihan. Cara ini dapat membantu penggunaan bahan bakar menjadi lebih hemat karena tenaga motor disesuaikan secara perlahan dengan kebutuhan perjalanan. Pengendara tidak perlu membuka gas secara mendadak ketika mulai melaju, melainkan mengatur bukaan gas secara lembut dan bertahap.
Selain mengatur bukaan gas, kecepatan juga perlu dipertahankan secara halus sesuai dengan kondisi jalan. Perubahan kecepatan yang terlalu sering atau tiba-tiba dapat membuat pola berkendara menjadi kurang teratur. Dengan menjaga laju motor tetap stabil selama keadaan jalan memungkinkan, kerja mesin dapat berlangsung secara lebih konsisten. Penyesuaian tetap dilakukan berdasarkan kondisi jalan yang dihadapi, sehingga kecepatan tidak dipertahankan secara kaku, melainkan diatur dengan wajar dan berkesinambungan.
Pola berkendara tersebut pada dasarnya mengutamakan pengoperasian motor yang lembut. Bukaan gas dilakukan bertahap, kemudian kecepatan dijaga agar tetap halus sesuai keadaan jalan. Kebiasaan ini ditujukan untuk membantu penggunaan BBM lebih efisien sekaligus membuat perjalanan terasa lebih nyaman. Pengendara dapat membentuk kebiasaan tersebut dengan memperhatikan respons motor ketika menambah laju dan menghindari perubahan yang mendadak. Dengan pengaturan yang konsisten, perjalanan dapat berlangsung secara lebih tenang tanpa mengabaikan penyesuaian terhadap kondisi jalan.
Efisiensi bahan bakar motor tidak hanya ditentukan oleh jenis kendaraan atau kualitas bahan bakar yang digunakan. Kebiasaan berkendara yang terlihat sepele dapat dilakukan berulang kali setiap hari, sehingga pengaruhnya terhadap konsumsi BBM menjadi lebih besar. Cara pengendara memutar gas, menjaga kecepatan, serta menggunakan motor dalam kondisi tertentu dapat membuat mesin bekerja lebih berat dan membutuhkan bahan bakar lebih banyak.
Karena itu, perilaku berkendara perlu diperhatikan sebagai bagian dari upaya menjaga penggunaan BBM tetap efisien. Pengendara yang lebih teratur dalam mengoperasikan motor dapat membantu mengurangi beban kerja mesin. Sebaliknya, kebiasaan yang kurang tepat, meskipun dilakukan dalam waktu singkat, dapat berulang sepanjang perjalanan dan akhirnya meningkatkan konsumsi bahan bakar tanpa disadari.
Faktor tersebut juga berkaitan erat dengan perawatan kendaraan. Kondisi ban, misalnya, perlu dijaga agar tetap sesuai dan mendukung kerja motor secara optimal. Ban yang tidak berada dalam kondisi baik dapat memengaruhi beban serta kenyamanan kendaraan ketika digunakan. Selain itu, kondisi mesin turut menentukan seberapa efisien bahan bakar diolah selama motor beroperasi.
Perawatan yang dilakukan secara berkala dan cara berkendara yang lebih bijaksana perlu berjalan bersama. Kendaraan yang terawat belum tentu menggunakan BBM secara efisien apabila pengendaranya masih mempertahankan kebiasaan yang membebani mesin. Demikian pula, cara berkendara yang baik akan kurang memberikan hasil apabila kondisi ban dan mesin diabaikan. Perhatian terhadap kebiasaan sehari-hari serta pemeliharaan kendaraan membantu menjaga efisiensi motor secara lebih konsisten.

