Jakarta | Industri smartphone global diperkirakan memasuki fase perlambatan pada 2026. Tekanan tersebut muncul ketika harga berbagai komponen utama meningkat, sementara permintaan konsumen menunjukkan kecenderungan melemah. Kondisi ini dapat memengaruhi produsen, pemasok, hingga jaringan distribusi yang selama ini bergantung pada pertumbuhan penjualan perangkat baru. Di tengah situasi tersebut, pasar diperkirakan tidak lagi bergerak dengan laju yang sama seperti pada periode ekspansi sebelumnya. Namun, seluruh angka dan gambaran dalam pembahasan ini masih berupa proyeksi, bukan hasil aktual yang telah terjadi.
Lembaga riset IDC memproyeksikan pasar smartphone global berpotensi menyusut hingga 5% dalam skenario pesimistis. Perkiraan itu berlangsung bersamaan dengan kenaikan harga jual rata-rata perangkat dan siklus penggantian yang semakin panjang. Konsumen kemungkinan menunda pembelian karena harga yang lebih tinggi, ketidakpastian ekonomi, serta pertimbangan bahwa perangkat lama masih mampu memenuhi kebutuhan harian. Jika kecenderungan tersebut berlanjut, produsen akan menghadapi tantangan lebih besar untuk mempertahankan volume pengiriman sekaligus menjaga margin keuntungan.
Ponsel konvensional menjadi salah satu segmen yang paling berpotensi terdampak. Konsumen diprediksi semakin selektif dan tidak mudah mengganti perangkat apabila model terbaru hanya menawarkan peningkatan kecil pada desain, kamera, performa, atau daya tahan baterai. Dengan demikian, inovasi yang benar-benar terlihat akan menjadi faktor penting dalam mendorong keputusan pembelian. Perubahan pola permintaan ini juga membuka ruang bagi kategori perangkat alternatif, termasuk ponsel lipat, untuk tampil sebagai penantang baru. Meski demikian, perkembangan tersebut tetap bergantung pada harga, ketahanan, ketersediaan, dan kemampuan produsen menghadirkan manfaat yang relevan bagi pengguna.
Industri elektronik global menghadapi tekanan dari sisi produksi akibat kelangkaan chip memori yang masih membayangi rantai pasok. Komponen ini digunakan secara luas dalam berbagai perangkat, sehingga gangguan pasokannya tidak hanya memengaruhi satu kategori produk. Komputer, smartphone, tablet, server, serta sejumlah peralatan rumah tangga bergantung pada ketersediaan memori untuk menjalankan fungsi utama dan fitur pendukungnya. Ketika pasokan terbatas, produsen perlu bersaing mendapatkan komponen dengan jumlah yang lebih sedikit, sementara proses pengadaan dapat menjadi lebih mahal dan tidak menentu.
Kenaikan biaya komponen berpotensi merambat ke keseluruhan biaya pembuatan. Produsen mungkin menghadapi pengeluaran lebih besar untuk pembelian chip, penyesuaian jadwal produksi, pengelolaan persediaan, dan pengadaan dari pemasok alternatif. Tekanan tersebut dapat memengaruhi harga berbagai barang elektronik, mulai dari komputer dan smartphone hingga perangkat rumah tangga yang menggunakan sistem digital. Apabila biaya tambahan tidak dapat diserap sepenuhnya oleh produsen, sebagian bebannya berpeluang diteruskan kepada konsumen melalui harga ritel yang lebih tinggi.
Sejumlah analis yang sebelumnya dikutip Financial Times memperkirakan bahwa harga ritel perangkat elektronik berpotensi meningkat hingga 20% apabila tekanan biaya dan kelangkaan komponen berlanjut. Kenaikan sebesar itu dapat mengubah pertimbangan konsumen, terutama ketika peningkatan kualitas atau kemampuan perangkat tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan. Dalam kondisi tersebut, konsumen dapat memilih menunda pembelian, memperpanjang masa penggunaan perangkat lama, atau menunggu harga dan pasokan kembali lebih stabil. Penundaan ini pada akhirnya berpotensi menekan permintaan, sekaligus menambah tantangan bagi produsen yang harus menjaga penjualan di tengah biaya produksi yang meningkat.
Proyeksi International Data Corporation (IDC) menunjukkan arah yang berbeda ponsel konvensional dan perangkat dengan layar yang dapat dilipat pada 2026. Pengiriman ponsel dengan layar yang tidak dapat dilipat diperkirakan turun 1,4 persen. Penurunan tersebut mencerminkan tekanan yang masih dihadapi pasar smartphone, terutama karena konsumen semakin selektif dalam mengganti perangkat dan peningkatan spesifikasi pada ponsel biasa tidak selalu cukup untuk mendorong pembelian baru.
Di sisi lain, pengiriman ponsel lipat diproyeksikan melonjak 29,7 persen pada tahun yang sama. Nabila Popal dari IDC menyatakan bahwa kategori ini diperkirakan tumbuh hampir 30 persen, jauh lebih tinggi daripada patokan pertumbuhan 6 persen yang digunakan dalam proyeksi sebelumnya. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa perangkat lipat mulai dipandang sebagai salah satu segmen dengan peluang ekspansi paling besar di tengah perlambatan pasar secara keseluruhan.
Salah satu pendorong utama pertumbuhan itu adalah kehadiran iPhone lipat pertama, yang telah lama dinantikan oleh konsumen dan pelaku industri. Masuknya Apple diperkirakan meningkatkan perhatian terhadap kategori tersebut sekaligus memperluas basis pengguna. Faktor lain datang dari Samsung Galaxy Z Trifold, perangkat yang mengusung teknologi layar lipat tiga. Desain ini menawarkan area layar yang lebih luas dalam bentuk perangkat yang tetap dapat dibawa, sehingga berpotensi menarik konsumen yang membutuhkan produktivitas dan pengalaman multimedia lebih besar.
Perkembangan serupa juga diperkirakan terjadi pada ponsel lipat Huawei berbasis HarmonyOS Next. Pengapalannya diproyeksikan hampir berlipat ganda, menandakan meningkatnya kontribusi produsen asal China terhadap persaingan di segmen ini. Samsung pun berencana mengawali 2026 dengan Galaxy Z Trifold, setelah memperoleh momentum melalui Galaxy Z Fold7 pada 2025. Rangkaian peluncuran tersebut dapat memperkuat pilihan produk sekaligus mendorong adopsi, meskipun harga, ketahanan layar, dan ketersediaan aplikasi tetap menjadi faktor penting dalam menentukan realisasi pertumbuhan.
Menurut Francisco Jeronimo, masuknya Apple ke pasar ponsel lipat dapat menandai dimulainya babak baru dalam perkembangan kategori tersebut. Kehadiran perusahaan dengan basis pengguna yang besar berpotensi menjadi katalis adopsi, terutama di pasar utama yang selama ini masih berhati-hati terhadap perangkat dengan layar fleksibel. Ketika Apple ikut menawarkan format tersebut, perhatian konsumen, operator, dan pengembang ekosistem diperkirakan meningkat, sehingga perangkat lipat memperoleh legitimasi yang lebih kuat.
Walaupun demikian, ponsel lipat diperkirakan tetap menjadi segmen khusus jika diukur dari volume penjualan. Biaya produksi, harga ritel, serta preferensi konsumen terhadap perangkat konvensional masih menjadi faktor pembatas. Bagi vendor, kategori ini tetap penting karena harga jual rata-ratanya diproyeksikan mencapai sekitar tiga kali lipat dibandingkan smartphone standar. Nilai transaksi yang lebih tinggi dapat membantu produsen memperluas margin sekaligus mengimbangi tekanan pada pasar ponsel secara keseluruhan.
Tantangan lain muncul dari kecenderungan konsumen menggunakan smartphone lebih lama sebelum melakukan penggantian. Siklus penggantian yang memanjang dapat menekan permintaan, bahkan ketika teknologi baru tersedia. Karena itu, produsen perlu menghadirkan inovasi yang benar-benar memberikan alasan bagi pengguna untuk membeli perangkat baru, baik melalui desain yang lebih praktis, daya tahan lebih baik, pengalaman perangkat lunak, maupun manfaat produktivitas yang tidak mudah ditemukan pada ponsel biasa.
IDC memproyeksikan pasar ponsel lipat mencatat pertumbuhan tahunan gabungan atau CAGR sebesar 17% hingga 2029. Angka tersebut jauh melampaui pertumbuhan ponsel konvensional yang diperkirakan kurang dari 1%. Untuk 2026, pangsa sistem operasi pada perangkat lipat diperkirakan terdiri atas Android sebesar 61%, Apple 22%, dan HarmonyOS Next 17%. Namun, seluruh proyeksi ini tetap dapat berubah mengikuti kondisi industri, strategi vendor, respons konsumen, serta dinamika pasar global.

