Pemerintah Siapkan Solusi Air dan Energi untuk Pengembangan Data Center AI

oleh -52 Dilihat
oleh
Pemerintah Siapkan Solusi Air dan Energi untuk Pengembangan Data Center AI

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo mendapat penugasan dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto untuk mencari solusi atas kebutuhan air dalam pengembangan pusat data berbasis kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) di Indonesia. Penugasan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah menyiapkan dukungan infrastruktur bagi pertumbuhan teknologi digital yang membutuhkan sumber daya dalam jumlah besar.

Menurut Dradjad, ketersediaan air merupakan salah satu tantangan yang muncul seiring perkembangan teknologi baru. Pusat data AI tidak hanya memerlukan kapasitas komputasi dan jaringan yang kuat, tetapi juga dukungan energi serta sistem pendinginan yang memadai. Karena itu, kebutuhan air perlu dibahas secara serius agar pembangunan fasilitas tersebut dapat berjalan sejalan dengan prinsip keberlanjutan dan kepentingan masyarakat.

Selain air, Dradjad menyebut kebutuhan energi yang besar sebagai persoalan lain yang harus diperhitungkan. Pengoperasian pusat data dengan beban komputasi tinggi berpotensi meningkatkan konsumsi listrik secara signifikan. Pemerintah juga perlu memastikan kesiapan masyarakat dalam menghadapi perubahan yang dibawa oleh teknologi AI, baik dari sisi pemahaman, keterampilan, maupun penerimaan terhadap pembangunan infrastruktur pendukungnya.

Dradjad belum merinci bentuk solusi yang akan ditawarkan pemerintah untuk menjawab kebutuhan air dan energi tersebut. Ia menyampaikan bahwa penjelasan lebih lanjut akan diberikan setelah mulai menjalankan penugasan dari Menko Perekonomian. Dengan demikian, pembahasan mengenai sumber air, teknologi efisiensi, tata kelola, serta koordinasi dengan berbagai pihak masih berada pada tahap awal.

Penugasan ini menunjukkan bahwa pengembangan data center AI dipandang perlu ditangani secara lintas sektor. Pemerintah harus menyeimbangkan dorongan terhadap investasi dan inovasi dengan pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab. Hasil kajian dan koordinasi Dradjad nantinya diharapkan dapat menjadi dasar bagi kebijakan yang mampu mendukung pertumbuhan pusat data AI tanpa mengabaikan kebutuhan air, ketahanan energi, dan kepentingan publik.

Dradjad menilai kebutuhan air dan energi harus mendapat perhatian serius seiring pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (AI). Teknologi ini tidak hanya berkembang melalui perangkat lunak, tetapi juga bergantung pada infrastruktur komputasi berkapasitas besar. Infrastruktur tersebut memerlukan pusat data yang mampu mengoperasikan berbagai sistem pemrosesan secara terus-menerus, sehingga konsumsi energi dan air menjadi bagian penting dalam pengembangannya.

Kebutuhan energi muncul karena pengoperasian dan pelatihan model AI membutuhkan daya komputasi yang besar. Semakin kompleks model yang digunakan, semakin tinggi pula kapasitas pemrosesan yang diperlukan. Pada saat yang sama, pusat data memerlukan air dalam jumlah besar untuk mendukung sistem pendinginan. Karena itu, kebutuhan air dan energi bukan persoalan tambahan yang dapat diabaikan, melainkan tantangan utama yang perlu diperhitungkan ketika pengembangan pusat data AI terus meningkat.

Menurut pandangan Dradjad, perkembangan AI perlu dilihat secara lebih luas. Indonesia tidak dapat mengabaikan kemajuan teknologi ini karena dalam lima hingga 10 tahun mendatang, AI diperkirakan semakin berkaitan dengan kekuatan ekonomi, teknologi, militer, dan geopolitik suatu negara. Kemampuan untuk mengembangkan, menguasai, dan memanfaatkan AI berpotensi memengaruhi posisi sebuah negara dalam persaingan global.

Namun, dorongan untuk mengikuti perkembangan AI perlu berjalan bersama pemahaman terhadap kebutuhan dasarnya. Pertumbuhan teknologi tersebut tidak cukup hanya ditinjau dari kemampuan sistem, aplikasi, atau manfaat ekonominya. Ketersediaan air dan energi juga menentukan sejauh mana infrastruktur pendukung dapat beroperasi. Apabila kedua aspek itu tidak diperhatikan sejak awal, perkembangan AI dapat menghadapi kendala serius. Oleh sebab itu, kebutuhan sumber daya tersebut menjadi perhatian penting dalam membahas arah pengembangan AI di Indonesia, terutama ketika peran teknologi ini diperkirakan semakin besar dalam berbagai bidang strategis.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa terdapat tiga syarat utama agar Indonesia dapat menjadi basis atau markas industri pusat data, yaitu ketersediaan lahan, listrik, dan air. Ketiga unsur tersebut merupakan fondasi penting karena pengoperasian data center membutuhkan ruang yang luas, pasokan energi yang stabil, serta sumber air yang memadai untuk mendukung sistem pendinginan dan operasional fasilitas.

Kebutuhan terhadap infrastruktur tersebut semakin besar seiring perlombaan negara-negara di dunia dalam mengembangkan kecerdasan buatan (AI). Berbagai perusahaan dan pemerintah berlomba membangun ekosistem AI, sementara penggunaan teknologi ini meningkatkan permintaan terhadap pusat data untuk menyimpan, memproses, dan mengelola informasi dalam jumlah besar. Karena itu, pengembangan data center tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan gedung, tetapi juga memerlukan dukungan infrastruktur berskala besar, termasuk jaringan listrik, konektivitas digital, jalan, serta sistem penyediaan air.

Airlangga juga menyoroti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Digital di Bintan, Kepulauan Riau, sebagai salah satu lokasi yang telah dikembangkan untuk mendukung industri tersebut. Kawasan ini disebut sudah penuh atau sold out karena tingginya minat investasi. Kondisi tersebut mendorong pemerintah menyiapkan ekspansi agar kapasitas kawasan dapat ditambah dan peluang investasi baru tetap tersedia. Perluasan ini diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam menarik perusahaan teknologi global.

Selain Bintan, pemerintah menyiapkan pengembangan kawasan data center di Karawang, Jawa Barat. Lokasi tersebut dinilai strategis karena berada dekat dengan pasar domestik, khususnya pusat kegiatan ekonomi dan populasi di Pulau Jawa. Kedekatan dengan pengguna layanan dapat membantu meningkatkan efisiensi konektivitas dan mempercepat penyediaan layanan digital. Dengan perencanaan lahan, listrik, dan air yang terpadu, pengembangan pusat data di sejumlah wilayah diharapkan mampu menopang pertumbuhan industri AI sekaligus memperkuat daya saing ekonomi digital Indonesia.

Pemerintah menempatkan penguatan kapasitas listrik sebagai salah satu prasyarat penting bagi pertumbuhan industri digital, termasuk pengembangan pusat data yang mendukung kebutuhan kecerdasan artifisial (AI). Pusat data membutuhkan pasokan listrik yang besar, stabil, dan berkelanjutan karena beroperasi sepanjang waktu untuk menjalankan komputasi, menyimpan informasi, serta melayani berbagai aplikasi digital. Tanpa infrastruktur energi yang memadai, peningkatan investasi dan pemanfaatan teknologi AI berpotensi menghadapi hambatan operasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa tambahan kapasitas listrik nasional dalam dua hingga tiga tahun ke depan dapat mencapai sekitar 500 megawatt. Penambahan tersebut diharapkan memperkuat kesiapan Indonesia dalam menerima perluasan industri digital dan membangun ekosistem data center yang lebih kompetitif. Ketersediaan listrik juga perlu diikuti dengan peningkatan keandalan jaringan, efisiensi penggunaan energi, serta pemanfaatan sumber energi yang lebih bersih agar pertumbuhan pusat data tetap sejalan dengan target pembangunan berkelanjutan.

Pengembangan AI tidak semata-mata dipandang dari efek bergandanya terhadap perekonomian, seperti penciptaan investasi, lapangan kerja, dan peningkatan produktivitas. Teknologi ini juga menjadi arah masa depan sektor digital yang akan memengaruhi cara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menggunakan layanan berbasis data. Karena itu, kesiapan infrastruktur harus dibangun secara terpadu, mulai dari listrik dan konektivitas hingga tata kelola teknologi serta kemampuan sumber daya manusia.

Di samping energi, kualitas data menjadi fondasi yang tidak kalah penting. Digitalisasi membutuhkan data yang baik, akurat, terstruktur, dan dapat dipertanggungjawabkan agar menghasilkan informasi yang berguna bagi pengambilan keputusan. AI tidak dapat bekerja secara optimal untuk mengolah data atau melakukan crawling apabila informasi yang tersedia tidak kredibel. Data yang keliru, tidak lengkap, atau tidak diperbarui dapat menghasilkan keluaran yang bias dan menurunkan kepercayaan terhadap teknologi. Oleh sebab itu, penguatan kapasitas listrik perlu berjalan bersama upaya meningkatkan standar, validitas, dan keamanan data nasional.