Jakarta | Manajemen KM Virgo Transport 8 melalui PT Virgo Karya Shipping memulai penyelaman ke bangkai kapal yang berada di dasar Laut Jawa pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi kapal setelah berada di bawah permukaan laut. Tim penyelam melakukan pemeriksaan secara bertahap dengan memperhatikan posisi badan kapal, tingkat kerusakan, serta kondisi lingkungan di sekitarnya.
Data yang dikumpulkan dari penyelaman awal akan digunakan untuk menyusun pemetaan teknis dan rencana operasi salvage. Dalam konteks ini, salvage merupakan proses pengangkatan kapal dari dasar laut ke permukaan. Perencanaan tersebut membutuhkan informasi terperinci agar setiap tahapan dapat dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan, kondisi arus, kedalaman perairan, stabilitas bangkai kapal, serta kebutuhan peralatan pendukung.
Penyelaman juga berfungsi untuk menentukan akses menuju bagian-bagian penting kapal dan mengidentifikasi kemungkinan hambatan selama proses evakuasi. Hasil pengamatan di bawah air akan menjadi bahan evaluasi bagi manajemen dan tim teknis dalam memilih metode pengangkatan yang paling sesuai. Dengan demikian, operasi tidak langsung diarahkan pada pengangkatan, melainkan diawali kajian lapangan untuk mengurangi risiko dan memastikan persiapan dilakukan berdasarkan kondisi nyata.
Dwi, Kepala Cabang PT Virgo Karya Shipping Banjarmasin, menyampaikan bahwa penyelaman tersebut direncanakan berlangsung selama dua hari, yakni Sabtu dan Minggu. Keterangan itu disampaikan pada Minggu, 11 Oktober 2026, ketika tim masih menjalankan rangkaian pemeriksaan di lokasi. Durasi tersebut diharapkan cukup untuk mengumpulkan informasi dasar yang diperlukan sebelum penyusunan langkah lanjutan, termasuk penentuan kebutuhan personel, peralatan, serta pola kerja dalam operasi pengangkatan KM Virgo Transport 8.
Manajemen KM Virgo Transport 8 meminta otoritas maritim menerbitkan marine notice atau pemberitahuan resmi kepada kapal-kapal yang melintas di sekitar lokasi bangkai. Pemberitahuan tersebut diperlukan agar setiap kapal yang berlayar di kawasan itu dapat meningkatkan kewaspadaan, mengatur jarak aman, serta menyesuaikan rute apabila kondisi di lapangan mengharuskannya. Informasi resmi juga penting untuk menyampaikan bahwa proses pemetaan dan evakuasi masih berlangsung, sehingga aktivitas kapal lain tidak mengganggu pekerjaan penyelaman maupun membahayakan keselamatan para petugas.
Selain mendukung pemetaan posisi dan kondisi kapal, tim penyelam memiliki tugas menangani potensi pencemaran dari sisa muatan operasional di dalam bangkai. Salah satu pekerjaan utama mereka adalah melakukan oil recovery, yakni menguras minyak dan limbah bahan bakar yang masih tersimpan atau terjebak di bagian kapal. Pengambilan bahan-bahan tersebut dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi struktur bangkai, kedalaman lokasi, arus laut, serta keselamatan penyelam dan personel pendukung di permukaan.
Tindakan itu bertujuan mencegah minyak dan limbah bahan bakar keluar ke perairan. Jika tidak segera ditangani, kebocoran dapat menyebar mengikuti arus dan menimbulkan dampak terhadap kualitas air, biota laut, serta aktivitas masyarakat pesisir. Karena itu, penanganan bahan bakar menjadi bagian penting dari operasi evakuasi, bukan hanya untuk mengurangi risiko kebakaran, tetapi juga untuk membatasi kemungkinan pencemaran selama proses pengangkatan atau pemeriksaan bangkai kapal.
Dwi menjelaskan bahwa tim juga melakukan penyemprotan bahan kimia untuk menetralisir bahan bakar yang berada di sekitar lokasi. Langkah tersebut dimaksudkan untuk mengurangi potensi bahaya dari sisa bahan bakar dan membantu mencegah dampaknya meluas di laut. Pelaksanaannya tetap dilakukan secara terukur, dengan memperhatikan kondisi perairan dan prosedur keselamatan yang berlaku. Kombinasi pemberitahuan kepada kapal yang melintas, pengurasan minyak, serta penanganan bahan bakar di lokasi diharapkan dapat menjaga keamanan operasi sekaligus melindungi lingkungan laut.
Selain melakukan pemetaan kondisi bangkai kapal, penyelaman KM Virgo Transport 8 juga mencakup pekerjaan teknis untuk menentukan lokasi pemasangan dudukan berbentuk cincin logam. Dudukan ini disiapkan sebagai bagian dari proses pengangkatan bangkai kapal dari dasar Laut Jawa. Penentuan titik pemasangan menjadi salah satu tahapan penting agar persiapan pengangkatan dapat dilakukan berdasarkan kondisi dan posisi bangkai kapal yang ditemukan di bawah permukaan laut.
Para penyelam melakukan pengamatan terhadap bagian-bagian bangkai kapal untuk menetapkan lokasi yang akan digunakan sebagai tempat pemasangan dudukan tersebut. Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan proses pemetaan, sehingga informasi mengenai posisi bangkai kapal dapat dihimpun secara lebih menyeluruh. Data dari penyelaman diharapkan membantu pihak terkait memahami kondisi lokasi sebelum tahapan berikutnya dalam penanganan bangkai kapal dilaksanakan.
Dudukan berbentuk cincin logam itu merupakan bagian dari persiapan pengangkatan, bukan sekadar penanda lokasi. Karena itu, titik pemasangannya perlu ditentukan melalui pemeriksaan langsung di sekitar bangkai kapal. Pekerjaan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan penyelaman yang diarahkan untuk mendukung upaya penanganan KM Virgo Transport 8 secara terencana.
Di tengah pekerjaan teknis tersebut, Dwi juga menyampaikan harapan agar kegiatan penyelaman dapat membantu menemukan korban yang kemungkinan masih terjebak di dalam kapal. Harapan itu menjadi salah satu perhatian dalam pelaksanaan penyelaman, selain kebutuhan untuk memperoleh gambaran mengenai posisi dan kondisi bangkai kapal. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berkaitan dengan persiapan pengangkatan, tetapi juga mendukung pencarian korban yang mungkin masih berada di dalam kapal.
Penentuan lokasi dudukan cincin logam dan pencarian korban menjadi dua perhatian yang berjalan dalam kegiatan penyelaman. Setiap temuan dari bawah laut diharapkan dapat memberikan informasi yang diperlukan bagi langkah penanganan selanjutnya, tanpa mengabaikan kemungkinan adanya korban di dalam bangkai kapal.
Pencarian korban KM Virgo Transport 8 terus menjadi perhatian setelah kapal tersebut tenggelam di Laut Jawa pada 13 September 2026. Upaya pencarian dilakukan untuk menemukan penumpang dan awak kapal yang masih belum diketahui keberadaannya. Dalam proses sebelumnya, Basarnas telah menghentikan operasi penyelaman ke bangkai kapal. Penghentian penyelaman itu menjadi bagian dari penyesuaian kegiatan pencarian terhadap kondisi operasi dan sasaran yang masih harus ditelusuri.
Setelah tidak lagi memusatkan kegiatan pada penyelaman di lokasi bangkai kapal, Basarnas mengarahkan pencarian sisa korban di permukaan laut. Tim melakukan penyisiran di sejumlah wilayah perairan yang berada di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Barat. Area pencarian tersebut mencakup jalur perairan yang dinilai perlu diperiksa untuk menemukan korban yang mungkin terbawa arus setelah kapal tenggelam. Kegiatan penyisiran dilakukan sebagai bagian dari pencarian terhadap seluruh korban yang belum ditemukan.
Berdasarkan data yang tersedia, KM Virgo Transport 8 mengangkut total 243 penumpang dan awak kapal. Dari jumlah tersebut, sebanyak 190 orang telah ditemukan. Rinciannya, 108 orang ditemukan dalam keadaan selamat, sedangkan 82 orang ditemukan meninggal dunia. Dengan demikian, masih terdapat 53 orang yang belum ditemukan dan menjadi sasaran pencarian. Data tersebut menjadi dasar pendataan dalam operasi pencarian korban setelah tenggelamnya kapal di Laut Jawa. Pencarian tetap berfokus pada penelusuran wilayah permukaan di perairan Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat, sesuai dengan area yang telah disisir oleh tim terkait.
Baca juga: Evakuasi Dramatis Kerbau Betina dari Sumur Tua di Serang | Uji Coba LRT Jakarta Rute Kelapa Gading-Manggarai Dimulai | Hujan Ekstrem Evakuasi Ratusan Atlet Asian Games 2026 di Nagoya

