BOGOR, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, Rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan perdana Oktober 2026. Setelah sempat menguat pada sesi sebelumnya, mata uang nasional justru melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis, 1 Oktober 2026. Pergerakan ini menjadi perhatian karena rupiah kembali mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS, di tengah masih kuatnya mata uang AS di pasar global.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup turun 0,39 persen ke level Rp17.940 per dolar AS. Posisi tersebut berbalik dari penutupan sehari sebelumnya, ketika rupiah menguat 0,50 persen dan berakhir di level Rp17.870 per dolar AS. Dengan demikian, secara nominal rupiah melemah 70 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Penurunan pada awal bulan ini menunjukkan bahwa penguatan rupiah sehari sebelumnya belum sepenuhnya mencerminkan perubahan tren yang berkelanjutan. Tekanan terhadap nilai tukar masih dapat muncul ketika permintaan terhadap dolar meningkat, terutama akibat kehati-hatian pelaku pasar terhadap perkembangan ekonomi global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Dalam situasi tersebut, pergerakan rupiah menjadi lebih sensitif terhadap perubahan sentimen dan arus modal.
Level Rp17.940 per dolar AS juga menempatkan rupiah hanya sedikit di bawah ambang Rp18.000. Secara psikologis, kedekatan dengan batas tersebut dapat memengaruhi ekspektasi pelaku usaha, investor, serta masyarakat yang memiliki kebutuhan transaksi dalam valuta asing. Kondisi ini menjelaskan pentingnya langkah stabilisasi dari otoritas, termasuk strategi Kementerian Keuangan dan koordinasi dengan lembaga terkait, untuk menjaga kepercayaan pasar serta membatasi tekanan lanjutan terhadap rupiah.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menjelaskan bahwa Kementerian Keuangan terus menjaga daya tarik imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) untuk mempertahankan kepercayaan investor dan mendorong arus modal asing masuk ke Indonesia. Tingkat imbal hasil perlu tetap kompetitif, terutama ketika suku bunga global tinggi dan dolar Amerika Serikat menguat. Dengan demikian, SBN tetap menjadi instrumen yang menarik bagi investor, sekaligus membantu pemerintah memperoleh pembiayaan secara terukur di tengah dinamika pasar keuangan internasional.
Selain menerbitkan SBN di pasar domestik, pemerintah menggunakan instrumen surat utang negara dalam bentuk global bonds dan panda bonds. Global bonds diterbitkan untuk menjangkau investor di pasar internasional dengan denominasi mata uang asing, sedangkan panda bonds diterbitkan di pasar Tiongkok dan umumnya menggunakan denominasi renminbi. Diversifikasi pasar dan mata uang penerbitan tersebut memberikan ruang bagi pemerintah untuk mengakses sumber pembiayaan yang lebih luas serta mengelola risiko pasar secara lebih fleksibel.
Dana yang diperoleh dari penerbitan surat utang negara tersebut kemudian ditempatkan di Bank Indonesia. Setelah berada di bank sentral, dana itu tercatat sebagai bagian dari cadangan devisa Indonesia. Mekanisme ini membuat penerbitan surat utang tidak hanya berfungsi sebagai sumber pembiayaan APBN, tetapi juga memberikan tambahan likuiditas dalam valuta asing yang dapat memperkuat posisi eksternal perekonomian nasional.
Cadangan devisa tersebut selanjutnya menjadi modal bagi Bank Indonesia untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah apabila terjadi tekanan di pasar. Bank sentral dapat memanfaatkan kekuatan cadangan devisa dalam pelaksanaan kebijakan intervensi dan pengelolaan likuiditas valuta asing. Juda Agung menyatakan bahwa mekanisme ini memiliki peran yang cukup signifikan bagi Kementerian Keuangan, karena membantu menjaga stabilitas rupiah sekaligus mempertahankan daya tarik aset keuangan Indonesia bagi investor asing.
Di samping langkah stabilisasi pasar keuangan, Kementerian Keuangan menempatkan pemeliharaan kredibilitas fiskal sebagai bagian penting dalam merespons tekanan rupiah akibat penguatan dolar Amerika Serikat. Kredibilitas tersebut tercermin melalui pengelolaan anggaran yang disiplin, kesinambungan kebijakan, serta kemampuan pemerintah menjaga defisit dan utang pada tingkat yang terukur. Ketika kondisi global berubah cepat, konsistensi fiskal menjadi dasar bagi pelaku pasar untuk menilai ketahanan ekonomi Indonesia. Kepercayaan itu diperlukan agar gejolak nilai tukar tidak berkembang menjadi kekhawatiran yang lebih luas terhadap prospek perekonomian nasional.
Kebijakan fiskal yang kredibel juga diposisikan sebagai unsur untuk mempertahankan daya tarik investasi Indonesia. Investor tidak hanya mempertimbangkan tingkat imbal hasil, tetapi juga memperhatikan kualitas pengelolaan keuangan negara, kepastian kebijakan, dan kemampuan pemerintah memenuhi kewajibannya. Dengan menjaga indikator fiskal serta menyampaikan arah kebijakan secara transparan, pemerintah berupaya mempertahankan persepsi positif terhadap aset domestik. Pendekatan ini penting terutama ketika suku bunga global dan permintaan terhadap dolar mendorong investor menata kembali portofolionya.
Juda Agung menjelaskan bahwa kebijakan-kebijakan untuk menjaga kredibilitas fiskal merupakan upaya mempertahankan minat investor terhadap aset Indonesia, khususnya Surat Berharga Negara (SBN). Penjelasan tersebut disampaikan dalam media gathering di Bogor pada Kamis, 2 Oktober 2026. Menurut kerangka ini, kepercayaan investor terhadap SBN dapat membantu menjaga kesinambungan aliran dana ke pasar domestik, sekaligus mendukung pembiayaan anggaran negara. Minat yang tetap terpelihara akan memperkuat permintaan terhadap SBN dan membantu mengurangi risiko tekanan pasar yang dapat memperbesar volatilitas rupiah. Karena itu, kredibilitas fiskal berfungsi bukan hanya sebagai indikator kesehatan anggaran, melainkan juga sebagai fondasi untuk mempertahankan daya saing investasi Indonesia di tengah ketidakpastian eksternal.
Pergerakan rupiah berlangsung dalam tekanan yang searah dengan penguatan dolar AS di pasar global. Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS atau DXY, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat meningkat 0,23 persen ke level 101,678. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap aset berbasis dolar masih tinggi. Kondisi ini membuat ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi lebih terbatas.
Penguatan dolar juga tercermin dari pencapaian level tertingginya dalam lebih dari tiga bulan. Pergerakan tersebut berlangsung ketika pelaku pasar tetap menaruh perhatian pada perkembangan ekonomi global serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Dengan posisi dolar yang semakin kuat, aset-aset berbasis mata uang tersebut tetap menjadi pilihan di tengah meningkatnya kebutuhan pasar terhadap instrumen yang dipandang lebih aman.
Greenback memperoleh dukungan tambahan dari kenaikan imbal hasil US Treasury. Peningkatan imbal hasil itu terjadi di tengah kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global yang berkaitan dengan perang Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Perkembangan tersebut turut memengaruhi sentimen pasar keuangan dan menjaga permintaan terhadap dolar AS tetap tinggi. Dalam situasi itu, penguatan indeks dolar berjalan beriringan dengan pergerakan rupiah yang berada di bawah tekanan, karena apresiasi mata uang AS mengurangi ruang bagi mata uang negara lain untuk menguat terhadap dolar.

